Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Nah, Pola Hidupmu Salah!

Oleh Dyah Ayu Fitriana

Orang bilang, berusahalah sekeras mungkin. Jangan menyerah dan mengatakan "Aku nggak mungkin bisa", tapi berusahalah sekuat tenaga lalu kalau mentog serahkan pada Yang Mahakuasa.
Apa iya begitu?
Berarti rute-nya usaha-doa-pasrah. Suatu hari saya berada di keadaan yang sangat krisisi. Biasalah aturan administratif yang selalu sukses membut saya kalang kabut. Intinya hari itu saya harus mendapatkan tanda tangan dari tiga orang dosen untuk melakukan pendaftaran wisudah hari itu juga. Sebagai manusia yang dicipatakan dengan segenap kecerdasan logika saya langsung menghitung. Waktu yang tersisa dengan kemungkinan menyelesaikan tugas. Walhasil sedari pagi saya tidak berhenti berkutat dengan laptop. Memastikan berkas yang harus saya tunjukkan ketika meminta tanda tangan telah rampung. Sholat duha terabaikan pun jamaah duhur ketinggalan. Bagi saya yang penting ini dulu diselesaikan yang mepet.

Singkat cerita file sudah siap. Secepat mungkin saya eksekusi ke tempat print. Ada sekitar 200 lembar yang harus dicetak. Mulai dari sini saya membaca ketidakbenaran perhitungan saya. File yang sudah saya pastikan benar itu ternyata salah dibagian yang sangat kecil namun penting. Yap bagian nomor halaman. Sudah pasti cetakan ini salah dan tak dapat digunakan. Rugi tenaga rugi uang pula. Namun saya tetap nekat membawanya ke dosen. Tanda tangan pertama berhasil, kedua sukses, lalu tanda tangan ketiga ini bembuat hati saya geregetan dan gigi saya gemeretakan. Ada satu kesalahan yang sangat kecil yakni tulisan teacher seharusnya ditulis teaching. Mengetahui hal itu pak dosen tak mau tanda tangan. Tidak hanya begitu. Tulisan teachernya dicoret dan hanguslah pula dua tandatangan dosen yang sebelumnya telah ada disana.
Saya pulang dengan lunglai. Hanya ada gumam, bagaimana bisa? Bagaimana bisa seharian waktu telah saya pertaruhkan. Tenaga telah dikerahkan. Tapi sampai sore saya hanya bisa melongo menyaksikan usaha yang satu persatu menjadi sia-sia.
Kemudian saya evaluasi rute kerja. Kayaknya ada yang nggak beres nih. Pagi selanjutnya, tugas masih sama tapi pola yang saya ubah. Dari usaha-doa pasrah menjadi Doa-usaha-pasrah. Jadi sebisa mungkin tidak ada satupun kegiatan-yang berhubungan sama Allah-yang saya tinggal, mulai dari sebelum jamaah subuh sampai kemudian jamaah, mengaji dan dhuha. Bismillah mungkin kalau Allah yang diduluin semua akan jadi lebih mudah.
Sekitar pukul 9.00 wib saya berangkat ke kampus. Bersama dua orang teman lain kami seperti para pemburu pokemon yang lagi berburu tanda tangan dosen. Kesabaran dan keyakinan diuji karena sampai duhur kami tak kunjung menemui satupun diantara beliau. Adzan duhur berkumandang dan ujian datang. Rasanya enggan sekali mau ke masjid. Takut juga nanti ditinggal sholat dosennya juga. Tapi lalu saya ingat pola yang hari ini akan saya terapkan, Doa-Usaha-Pasrah. Sampai adzan selesai belum juga ada tanda-tanda dosen kami datang.
"Eh, sholat dulu yok ke mesjid." kataku pada kedua temanku. Sorot mata mereka sudah memberikan jawaban yang cukup jelas.
"Gimana ya mbak, ntar takutnya dosennya datang pas kita sholat. Kan mumpung istirahat ini. Pean duluan aja ya."
Dengan yakin akhirnya saya turun dan sholat. Terbesit doa Ya Allah mudahkan urusanku yaa rabb. Turun dari masjid kulihat dua orang temanku berhasil mendapatkan tanda tangan dosen yang kami cari. Wah mereka udah dapat nih aku gimana ntar nih ya. Aku langsung berlari menuju ruangan beliau dan Alhamdulillah dua tanda tangan langsung kudapatkan karena dua dosenku mejanya berdekatan.
Tujuan selanjutnya adalah dosen sekaligus dekan, dosen pembimbingku yang super teliti. Semoga nggak dicoret lagi batinku. Dan subhanallah beliau yang biasanya susah ditemui kali itu langsung standby di ruangannya. Tak susah mendapatkan tanda tangannya.
Keluar ruangan kusempatkan melihat kedua temanku di gedung rektorat. Sampai di sana aku sumringah. Sedangkan kedua temanku masih lunglai.
"Gimana mbak berhasil?" tanyanya. Kujawab dengan anggukan kecil.
"Ini bapakknya nggak tau mbak kemana, sampai sore gini ngga ke ruangan di sms juga ga ada respon." sahut yang lain.
"Yaudah aku pulang dulu ya mau ngajar." pamitku.
"Oke mbak."
Aku berbalik terdengar gumaman mereka.
"Kita tadi sih diajakin sholat dulu nggak mau. Tuh mbak fit langsung selesai semua."
Alhamdulillah hari itu kupertahankan pola dan semua menjadi mudah. Seharusnya emang dari awal kita harus yakin. Bahwa semua hal datangnya dari Allah. Susah mudahnya tergantung pertolongan dan izinnya. Jadi guys yang lagi punya masalah. Jangan keburu terlalu PD untuk melakukannya dengan tanganmu sendiri atau malah minta tolong orang. Percayalah Allah lebih mampu menolongmu lebih dari dirimu sendiri dan orang lain. Remember Doa-Usaha-Pasrah. Okee

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar