Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Kelembutan Tak Lantas Rapuh


Lembut, cantik dan sholihah merupakan karakter yang menonjol pada salah satu ustadazh PKPBA kampus hijau yang terletak di Malang. Siapa lagi kalau bukan ustadzah Sayyidah Hafsoh, M.Pd yang lahir di kota kecil di Jawa bagian timur tepatnya kota Mojokerto pada tanggal 10 juni 1981. Sama dengan anak-anak pada umumnya beliau menempuh TK di Muslimat NU selama 2 tahun di sekitar rumah, melanjutkan jenjang pendidikannya di MI Roudhotun Nasi’in begitupun  MTsnya. Kemudia setelah lulus MTs beliau menempuh SMA di kota Jombang sekaligus mondok di Denanyar. Dan S1 di Universitas Wahid Hasyim dengan berbagai jurusan, pada awal kuliah beliau memilih jurusan Ahwalus Syakhsyiyah beberapa bualan kemudian beliau pindah ke jurusan Pendidikan Bahasa Arab hingga perantauannya memilih, berakhir di Pendidikan Agama Islam. Beliau lulus S1 pada tahun 2003 dengan pretasi menjadi wisudawan terbaik meski sempat pindah-pindah jurusan tapi tidak membuat beliau tertinggal dengan mata kuliah yang ada di jurusan beliau, kemudian beliau mengabdi di pondok pesantren dengan mengajar MTs di daerah Cukir. Setahun kemudian, beliau melanjutkan S2 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan jurusan PAI juga dengan pengabdiannya yakni menjadi murobiyah di ma’had Sunan Ampel Al-Ali.  Dalam riwayat pendidikan beliau tidak menemui kendala yang berarti, semua jenjang di laksanakan tepat waktu.

Tak di sangka seorang ustadzah yang begitu anggun nan cantik ternyata memiliki hobi berorganisasi layaknya aktivis yang sebagian besar lebih terlihat garang. Beliau pernah mengikuti organisasi semenjak jenjang SMP sampai jenjang S1, adapun berikut beberapa organisasi yang pernah beliau ikuti; OSIS, Lembaga Bahasa Asing, padauan suara bahkan juga PMII, penasaran ya? Bagaimana dulu beliau berkontribusi dalam PMII mungkinkah ikut orasi juga ya?. Jadi tidak heran jika saat ini beliau menjadi ketua dar salah satu TPQ yang berada kdi perumahan yang beliau tempati.
Dalam hal pernikahan, mungkin hampir semua wanita remaja di Jawa mengalaminya, yakini ketika kita sudah beranjak dewasa, lulus S1 maka para sanak saudara dan tetangga jadi begitu perhatian dan penuh dengan pertanyaan “kapan wisuda berikutnya?” sebuah pertanyaan yang sangat horror mengalahkan pertanyaan dosen penguji saat di meja sidang. Keadaan semakin genting dengan silih bergantinya para pemuda yang datang, jika terus menolak para fans dan juga hatters semakin perhatian hingga menusuk hati orang tua, hingga tak ada pilihan lain harus memilih salah satu dari mereka meski hati mengatakan “belum” atau bahkan “tidak”. Namun jika bukan jodoh pasti ada jalan untuk berpisah, dan juga jika sudah waktunya dan memang jodohnya. Terkadang orang yang paling tak disangka yang Tuhan taqdirkan. 
Beliau menikah dengan salah satu ustadz di ma’had yang sama, beliau merupakan sahabat ustdzah yang sama sekali tidak akan di sangka juga di kira bahwa beliau yang menjadi pemberani sekaligus menyelamatkan bidadari ini dari para fans yang terlalu perhatian, setelah menikah beliau berdua  masih tetap megabdi di ma’had tersebut. Sampai suami dari beliau mendapatkan beasiswa ke luar negeri ustadzah tetap mengabdi di tempat yang sama, padahal pada saat itu beliau sedang hamil anak yang pertama. Sungguh wonder woman yang sholihah, tanpa dibersamai sang suami tercinta beliau melalui hari-hari kehamilannya di isi dengan mengabdi di ma’had. Saat kandungan mencapai 9 bulan baru beliau mengambil cuti. Di luar angan seorang istri yang mengandung anak pertamanya, saat melahirkan sang ustadz juga belum datang dari negeri timur tengah itu, tak ada pilihan lain beliau melahirkan di temanai keluarga yang super perhatian sehingga meskipun tidak ada ustadz beliau tetap kuat untuk mengemban amat tersebut, ya meskipun impian semua istri adalah di manja suami saat hamil dan di temani saat melahirkan tapi dengan keaadan tersebut membuat beliau kuat, tanpa ada rasa mual-mual seperti biasa seorang istri saat hamil. Sungguh pemgalaman yang menakjubkan, baru nikah di tinggal mencari ilmu setelah itu hamil di isi dengan hal-hal positif dengan pengabdian mendidik ribuan anak orang juga melahirkan tanpa di temani suami. Formula mujarab memang keadaan akan membuat kita kuat.
Sang putra pertama lahir dalam keadaan sehat wal afiat, beliau memilih nama yang begitu gagah yakni Muhammad Nayif Azmi, baru saat sang anak berumur empat bulan sang ustadz datang, dan itu artinya beliau berdua harus kembali ke kota yang telah mempertemukan cinta beliau. Kota dingin yang sekarang sudah mulai sesak sebab menjadi piihan banyak insan yang ingin meratau atau bahkan menetap. Tahun pertama setelah kehadiran malaikat kecil itu, beliau berdua ngontrak di daerah Gasek, tak jauh dari kampus UIN Malang namun jika berjalan mungkin memakan waktu 45 menit dan jalan yang penuh dengan tanjakan juga turunan.  Dari semua pasangan baru, perekonomian yang belum stabil menjadi momok. Tak luput dari pasangan ustadz dan ustadzah ini, beliau berdua selain tempat yang masih ngontrak juga kendaraan yang tak ada, pekerjaan yang juga belum pasti. Namun kekuatan cinta yang saling mendukung membuat pondasi keluarga yang tak akan tergoyahkan meski gempa berpotensi tsunami, atau bahkan gunung Tambora kembali meluncurkan isinya insyaAlloh tak akan meruntuhkan kekuatan rumah tangga yang mereka bangun. Beruntung sang ustadz memiliki teman yang merelakan beliau meminjam sepeda ontel, sehingga untuk mengamalkan ilmu ke kampus hijau, beliau lebih mudah meski saat pulang rasanya begitu menyiratkan. Melewati tanjakan dengan menuntun sepeda. Hari-hari dilalui dengan perjuangan tapi penuh cinta. Alloh pun tahu, orang yang berjuang akan mendapatkan apa yang diperjuangkan. Alhamdulliah akhirnya sepeda revo warna merah hitam berhasil dikredit, meski proses pengkreditannya penuh dengan perjuangan, bukan hanya finansial tapi juga begitu ribetnya proses administrasi yang disebabkan ustadz bukan orang malang. Lagi-lagi tangan Tuhan bergerak melalui teman beliau, dengan meminjamkan KTP beliau sebagai jaminan. Sungguh kata-kata bijak yang tak asing lagi “rejeki yang tak ternilai setelah sehat adalah sahabat”.
Mencetak kesuksesan dan prestasi gemilang adalah impian semua orang, tak terkecuali kaum para wanita. Mungkin ada yang bercita-cita ikut memperbaiki sistem di negeri ini, menjadi sosok inspiratif yang melenggang hingga luar negeri, atau mungkin ingin menjadi ibu rumah tangga yang berpendidikan tinggi.
Semua itu mulia, namun tentu tak bisa diraih dengan berpangku tangan saja. Ingin jadi wanita sukses itu ibaratnya bekerja dua kali, karena selain mengusahakan kesuksesan sendiri, juga dituntut masyarakat untuk tidak melupakan kodrat. Mudah bagi wanita untuk menyerah sebelum bisa mencium kesuksesan. Mereka lebih memilih menjadi biasa-biasa saja dan berkorban demi kesuksesan orang di sekitarnya. Memasuki tahun ke tiga, Alhamdulillah masalah finansial tak lagi menghantui, perlahan tapi pasti. Ustadz membeli rumah di perumahan yang tak jauh dari kontrakan sebelumnya, nah dari sinilah dakwah beliau tak lagi untuk mahasiswanya, tapi juga sebagai pencerah untuk orang-orang sekitar. Hingga salah satu dari mereka yang merupakan milyader dermawan memberikan sebuah rumah untuk di jadikan pondok pesantren yang kini di di kenal dengan nama “Darun Nun” pondok berbaha dan berkarya. Sesuai dengan pengasuhnya, penuh cinta untuk di ungkap dalam karya, kegiyatan positif inidi tularkan pada para santri, sehingga pondok pesantren ini menjadi wadah yang tepat untuk para penulis baik yang amatiran ataupunyang professional, mencetak generasi islamiyah yang penuh karya. Kehidupan semakin indah untuk di nikmati, alhmdulillah kini selain pondok dan karya yang mulai di kenal khalayak umum, tapi juga dakwah beliau yang di tularkan juga pada santri-santri sehingga hidup di pondok ini juga merupakan pengabdian yang langsung terjun ke masyarakat. Sungguh hasil yang amat menakjubkan oleh pasangan ustadz dan ustdzah ini, menularkan kepositifan untuk sekitar bagai cahaya rembulan yang menerangi malam tapi tidak menyengat. Hal ini sesuai dengan motto ustadzah yakni “Khoirunnas anfauhum Lin naas” sebab dengan memudahkan urusan orang lain pasti Alloh akan memudahkan urusan kita. Dari pengabdian ke orang sekitar meeng membuat kita harus benar-benar pinter memenegemat waktu, tapi lagi-lagi prinsip bijak yang diterapakan Ummah (begitu sebutan mbak-mabk pondok untuk ustdzah) “semakin kita sibuk, maka semakin kita pintar mengatur waktu, karena keadaan selalu menjadi kekuatan untuk kesuksesan”
Saat ini, 2016  beliau dikaruniai satu anak laki-laki yang kritis tapi juga perhatian dan penuh rasa simpati pada orang, dua anak perempuan yang tangguh, namun tetap anggun jga cerdas, apa tipsnya? Ternyata begitu mudah dan tak perlu biaya mahal seperti pada iklan-iklan, kata beliau cukup saat hamil lakukanlah semua yang positif, jangan bermalasa-malasan dan membaca surat Al-Mulk, juga mengajaknya mengobrol dengan sang janin, tak terkecuali abinya juga agar psikisnya sudah bisa dekat dengan orang tua sejak amata sangat dini, nah setelah lahirpun ibu adalah madrosah pertama, saat itulah coretan demi coretan pada karakter anak di mulai, maka saat itu juga kita harus mendidik tap juga sebagai sahabat agar anak tidak tertekan.
Dari ustadz cinta beliau selalu di perlakukan romantis, membuat semua wanita yang mengetahu tentang itu menjadi cemburu tak terkecuali dari para santrinya yang selalu berharap suatu saat nanti bertemu dengan lelakai “seperti abi” itu yang paling popular di kalangan mbak-mbak pondok.  Seperti slah satu karya berikut:
Ah..andai kau kata
Kan ku susun kau lewat cerita cinta
Kan kuteteskan tinta demi
Membuai wacana…
Zamzam cinta selalu membuat orang yang membaca terlena dan selalu berangan kea pa yang ada di tulisan tersebut. Seakan para pembaca mengalami  dan berharap akan seperti yang tertulis, selalu penuh kata-kata bijak dan pelajaran hidup yang hamper semua orang mengalaminya.

Pesan wanita dari wanita yang memiliki favorit makanan yang berasal dari sayur mayur untuk para santri Darun Nun atau para pembaca “wanita sholihah itu butuh ilmu, pengalaman dan do’a serta tak mudah rapuh dengan kata lain mandiri”.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar