Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Eksplorasi Mimpi untuk Menggugah Konstribusi

Pondok Pesantren Darun Nun Malang


(Evi Nurjanah)


“Cita-cita kamu ingin menjadi apa?”
Pertanyaan ini yang sangat sering ku jumpai ketika bertemu dengan teman baru dan juga guru baru di berbagai jenjang pendidikan. Katakan saja ketika SD, sudah bukan hal baru bahwa guru akan bertanya mengenai cita-cita siswanya. Saat SMP pun tak jauh berbeda, beberapa teman menanyakan pertanyaan yang sama, entah sekedar iseng bertanya karena tidak ada topik lain, maupun bertanya sungguhan karena ingin tahu.
Jujur saja, sejak kecil hingga masuk ke perguruan tinggi cita-citaku berubah-ubah. Saat di sekolah dasar, aku bercita-cita ingin menjadi guru Matematika. Cita-cita ini muncul secara spontan karena tidak banyak profesi yang ku tahu saat itu. Menjadi guru merupakan profesi yang mulia dan menyenangkan bagiku di waktu SD, terlebih guru Matematika  yang tak lain adalah pelajaran kesukaanku. Selanjutnya memasuki dunia SMP, cita-citaku pun berubah. Seringnya melihat sinetron di TV mampu merubah pola pikirku yang semula ingin menjadi seorang guru beralih ke profesi lain yakni menjadi pekerja kantoran.

Memasuki bangku SMK (Sekolah Menengah Kejuruan),  cita-cita ku belum tertentu jelas. Masih tergoyahkan bahkan sempat terpengaruh cita-cita teman. Namun, disinilah aku mulai sadar, di SMK Jurusan Akuntansi ini aku banyak belajar tentang praktik akuntansi, pelajaran yang dahulu pernah ku dapatkan ketika mengenyam pendidikan di SMP.
Awalnya, ku berpikir mungkin saja melalui hal yang kurasa paling ku gemari ini akan ku dapatkan cita-cita yang jelas. Yaah,,, benar, cita-cita tak selamanya tercipta dari keinginan masa kecil. Namun, cita-cita juga bisa dibentuk sejalan dengan apa yang tengah dilakukan. Selanjutnya, ku bertekad untuk lebih fokus mempelajari Akuntansi, sampai akhirnya ku pilih Jurusan Akuntansi untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.
Awal masuk perguruan tinggi, aku disuguhkan dengan segudang acara orientasi yang membutuhkan waktu berhari-hari, menghabiskan banyak tenaga juga biaya, mulai dari orientasi tingkat kampus, fakultas bahkan jurusan. Namun, dari semua orientasi yang ku ikuti, hanya satu yang paling berkesan dan membawa dampak luar biasa bagi hidupku saat ini. Yaaa,,, Terdaftar di  perguruan tinggi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan gelar penerima beasiswa Bidikmisi, menuntut diri ini untuk ikut serta dalam orientasi yang diadakan oleh organisasi perkumpulan mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi, sebut saja KBMB (Keluarga Besar Mahasiswa Bidikmisi), sedangkan acara orientasi yang diselenggarakan diberi nama “Ta’aruf Bidikmisi”
Salah satu agenda yang ditawarkan panitia adalah “Membangun Mimpi”.  Ketika itu, semua peserta diberi selembar kertas kosong.
“Tuliskan semua mimpi-mimpimu, cita-cita kamu. Keinginan-keinginanmu, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Tuliskan yang panjang.” Seru salah satu panitia.
Aku hanya terdiam dan seketika muncul perasaan bingung harus menuliskan mimpi apa dalam kertas tersebut. Sedangkan cita-cita saja saat itu masih belum matang, ingin fokus di bidang akuntansi, namun masih sangat sedikit informasi yang ku tahu tentang bidang itu.
“Tulis saja semua keinginanmu, suatu saat nanti kamu hanya mencoretnya. Mencoret mimpi-mimpimu yang telah terwujud.” Panitia pun mengulang seruannya untuk kedua kalinya.
“Lima menit lagi semua peserta harus sudah selesai menuliskan mimpi-mimpinya. Ayo adik-adik jangan lama-lama.” Ujar seorang kakak panitia yang berjilbab besar menutupi setengah badannya itu.
Tanpa berfikir panjang, ku paksa penaku untuk mengukir mimpi-mimpi yang ada di benakku saat itu. Aku masih ingat, beberapa diantaranya aku menulis “aku ingin haji dengan keluarga; aku ingin menjadi hafidhah; aku ingin punya mobil warna putih; dan aku ingin mendapat IP sempurna yaitu 4” dan masih ada beberapa yang sudah tak ku ingat. Rasanya lega usai menuliskan keinginanku di kertas putih itu.
Adik-adik, silahkan bawa pulang kertas itu, tempelkan di dinding atau di almari kalian. Lihatlah setiap kalian bangun tidur. Suatu saat nanti adik-adik akan mencoret mimpi-mimpi yang telah terwujud.”
Panitia menutup acara dengan kalimat yang belum jelas ku pahami. Tak sedikitpun ku percaya dengan perkataan panitia itu. Ku lipat kertasku dan ku tenteng ranselku menuju ke pondokan tempat tinggalku.
Memasuki perkuliahaan di Jurusan Akuntansi, menghantarkanku untuk mengenal beragam teman dengan karakter dan sikap yang berbeda satu dan lainnya. Teman sangat berpengaruh terhadap aktivitas keseharian kita. Sehingga memilih teman untuk berjuang di jenjang pendidikan merupakan suatu hal yang harus diperhatikan tersendiri. Kebetulan saat itu, aku dekat dengan seorang lulusan Pondok al Amin Madura. Seorang yang menurutku paling kritis di kelas. Ia memiliki semboyan “Selangkah lebih maju dari yang lainnya”. Semboyan itu juga dilatarbelakangi oleh daerah asalnya yakni Sumenep, Madura.
Bersama kita belajar dan sharing, terlebih kita tinggal di pondokan yang sama, sehingga sudah suatu hal yang lumrah jika kita mengerjakan tugas bersama-sama. Aku hanya belajar dan melakukan usaha semampu yang ku bias untuk bertahan dalam belajar di bidang akuntansi. Hasilnya pun keluar, Indeks Prestasiku 4 pada semester 2. Sontak ku teringat pada salah satu mimpi yang pernah ku tulis ketika acara Taaruf Bidikmisi.
Aku terdiam dan terus berfikir, “Salah satu mimpiku telah terwujud”. Gumamku sembari melihat IP ku saat itu.
Sejak saat itu, aku mulai suka menulis keinginan-keinginanku dalam buku.
Pada kesempatan yang berbeda, di awal masuk semeter 7, terdapat seminar Kewirasahaan di Pascasarjana UIN Malang. Pemateri saat itu adalah Bapak Agus Mulyono, salah satu pengajar di Pascasarjana UIN Malang. Beliau memaparkan materi terkait Kewirausahaan serta menyelipi dengan sedikit materi motivasi. Beliau membawa buku catatan pribadinya. Betapa terkejutnya aku saat melihat isi dari buku itu yang penuh dengan coretan. Yaaaa,,, Bukan sekedar coretan, namun coretan itu merupakan sebuah tanda terhadap mimpi-mimpinya yang telah terwujud.
Beliau pun berpesan “Bangunlah mimpi yang besar, tuliskan pada buku dan tempellah. Suatu saat nanti kalian akan mencoret mimpi-mimpi kalian yang telah terwujud.” Dengan suara pelan dan penuh keyakinan beliau melafalkan.
Mendengar kalimat tersebut aku teringat dengan perkataan panitia orientasi yang dilakukan oleh KBMB. Aku semakin yakin dan semakin suka menulis keinginan dan mimpi-mimpiku dalam buku pribadiku. Cita-cita ku pun semakin jelas seiring waktu ku jumpa dengan berbagai macam dosen yang memberi pandangan tentang profesi akuntansi di Indonesia khususnya. Keinginan-keinginan ini ku tulis dan ku berusaha untuk mewujudkannya.
Aku masih inga, saat itu aku tengah berjuang dengan skripsiku. Ku tuliskan dalam buku mimpiku tentang jadwal kelulusan yang ku harapkan. Saat itu aku menulis “aku lulus bulan Juni, kemudian bulan juli aku mendapat pekerjaan, selanjutnya.........” kurang lebih seperti itu tulisannya.
Usai menulis dalam buku, aku hanya berusaha semampu usahaku dan berjuang dalam doa padaNya. Alhamdulillah, My dreams come true. Allah telah mengabulkan mimpi-mimpiku. Aku lulus bulan Juli dan aku mendapat pekerjaan langsung setelah selesai ku urus kelulusanku yaitu di bulan agustus. Tidak apa-apa, meskipun target bulan yang ku tentukan meleset, namun itu tetap terwujud.
Lain kesempatan, hal baru lagi ku dapatkan. Kurang lebih satu bulan yang lalu, di bulan Oktober awal tahun 2016 terdapat seminar motiivasi menulis yang diselenggarakan oleh MSAA (Ma’had Sunan Ampel al – Ali (Pondokan di UIN Malang). Pemateri saat itu adalah Dr. Hj. Halimi Zuhdy, M. Pd., M.A., Beliau pun menyampaikan hal yang tak jauh berbeda dengan pemateri ketika seminar Kewirausahaan di Pascasarjana. Namun, beliau menyebutnya dengan Peta Hidup.
Beliau berpesan, bahwa setiap individu harus memiliki peta hidup (perencanaan hidup) dan beliau juga meminta kepada semua audiens untuk membuat peta hidup kemudian ditempelkan pada dinding kamar. “Kenapa di tempel? Agar setiap bangun kita bida melihat rancangan hidup kita, kemudian muncul semangat tinggi untuk mewujudkannya”. Dawuh beliau dengan penuh semangat.
Itulah waktu dimana semangatku berkobar untuk menggapai cita-cita dan mimpi-mimpiku. Semakin tertanam rasa cinta untuk menuliskan mimpi, mengeksplorasikan mimpi-mimpiku dengan pena. Berharap suatu saat nanti Allah Swt. akan mewujudkan semua mimpi-mimpiku satu per satu, mewujudkan mimpi dan menjadikan diri ini berprestasi untuk berkonstribusi untuk negeri.
Tugas kita hanya membangun mimpi. Membangun mimpi dan cita-cita yang tinggi, baik jangka pendek maupun jangka panjang, termasuk membuat Peta Hidup (seperti yang saat ini tengah proses ku kerjakan). Membangun mimpi dan menuliskannya di dalam buku maupun ditempelkan akan memberikan semangat positif untuk bergerak, melangkah mewujudkannya.
Sekali lagi tugas kita hanya membangun mimpi dan cita-cita yang tinggi, mengusahakannya dengan melakukan yang terbaik untuk setiap aktivitas positif yang kita kerjakan, serta senantiasa berdoa padaNya. Satu lagi, Yakin, yakinlah akan terwujudnya mimpi-mimpi kita. Yaaaa,, itu tugas kita, lalu bagaimana dengan hasilnya? Terwujud tidak mimpi kita? Itu adalah urusanNya. Setidaknya Allah pasti mewujudkan mimpi kita. Jika tidak, pasti Allah telah mempersiapkan hal lain yang jauh lebih baik dari yang kita mimpikan.
Jika sekarang mimpi itu belum terwujud, kita hanya diuji oleh Allah untuk bersabar dan tetap berjuang untuk mewujudkannya. Setidaknya kita harus berusaha dan menikmati indahnya perjuangan. Jika lelah, maka pejamkan mata dan ingatlah kembali mimpi kita, serta yakinlah bahwa Allah akan merealisasikannya.

Salam Perjuangan bagi kita Para Pembidik Masa Depan

Perum. Bukit Cemara Tidar, Blok F3 No. 4
Karangbesuki Sukun, Malang 
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar