Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

HANCURKAN RASA TAKUT!

Oleh  Dyah Ayu Fitriana

Aku kira semua orang pernah merasa takut. Takut akan seseorang, takut akan keadaan, takut tentang masa lalu maupun masa depan. Terkadang rasa takut pada seseorang menjadikan "ia" momok yang bahkan untuk ditemui, mendengar namanya saja sudah ngeri. Padahal jika kita kenal lebih dalam, terkadang mereka adalah orang-orang baik yang mengubah hidup kita. Seperti orang tua, guru, teman. Karena lecutan yang terlalu keras, kita menjadi terluka dan tidak suka akan mereka. Namun sekali lagi untuk siapakah mereka lakukan itu?

Takut akan keadaan. Sering kali kualami, ketika harus maju ke atas panggung, atau saat mengikuti perlombaan, bahkan hal kecil seperti berbicara di depan kelas. Ada banyak ketakutan. Aku mengandai, bagaimana jika aku mempermalukan diriku sendiri di atas panggung, bagaimana jika lirik laguku salah atau nada suara tinggiku yang tak sampai? Bagaimana jika teman-teman menertawakanku saat aku gemetar dan tak dapat berbicara di depan mereka? Begitulah rasa takut akan keadaan sering menyergap kita.

Lagi, takut karena masa lalu. Aku yakin tiap orang memiliki masa lalu berbeda. Keadaan jiwa yang juga berbeda. Kadang masa lalu sangat mengerikkan untuk dikenang. Entah apa itu, tapi tentu ada satu dua hal yang selalu  kita sesali dari masa lalu. Kita berharap untuk menghapusnya saja dalam ingatan, atau mungkin pergi ke masa lalu untuk memperbaikinya. Masa lalu yang tak indah seringkali membelenggu hati kita, tak jarang ia mengguncang jiwa, tak membiarkan kita bernafas dengan lega. Hingga jalan ke depan selalu terlihat suram, terhalang oleh bayang-bayang masa silam.

Kemudian, takut masa depan. Apakah ada yang takut tentang masa depan? Tentu saja. Ada yang merasa jalannya buntu, seakan tiada satupun pilihan. Yang lain merasa lututnya telah kaku untuk melangkah karena berkali-kali  jatuh dan tak ingin kembali merasakan sakit itu. Ada juga yang bingung, entah ia takut akan tujuan ke depan yang belum tentu atau tekanan yang bertubi-tubi. Takut akan masa depan membuat orang ngeri untuk membiarkan matanya terpejam.

Kawan aku ingin kau tau, sebenarnya takut itu tak pernah ada. Ya, sekali lagi ia tak pernah ada. Yang ada hanyalah pilihan kita, tetap melakukan hal itu atau tidak. Apakah seorang pianis dunia sebelum naik ke panggung ia tak merasakan takut? Apakah seorang pebisnis atau pemimpin yang berulang kali gagal lalu ingin mencoba lagi tak memiliki takut? Mereka memiliki rasa takut namun pilihan yang diambil adalah terus melangkah dan berusaha bagaimanapun hasilnya. Mereka mengambil resiko dan melawan rasa takutnya bahkab walau hatinya belum yakin akan keberhasilan. Itulah yang dinamakan berani. Berani bukan karena seseorang tak memiliki takut. Tapi ia takut lalu tetap melangkah dan melakukan, namun ia yang takut adalah yang bisa tap memilih untuk berhenti dan tak melakukan. Siapapun dirimu kepalkan tangan. Aku tau kamu takut, tapi tetaplah lakukan, biasakan dan rasakan kemudahan di kemudian. Biarkam rasa takut itu takluk pada kegigihanmu. Lalu jangan lupa tuk tengadahkan tangan. Saat kita takut ingatlah Ia selalu ada bersama lita menjafikam sulit jadi mudah, menjadikam tak mungkin jadi bisa.


Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar