Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Cinta, antara Realitas dan Khayalan




Halimi Zuhdy

Ketika cinta sudah berbicara, semua menjadi tak nyata, seakan-akan semuanya adalah surga, duri menjadi rerumputan yang indah, pedang seperti biola yang siap dimainka, bom dengan ledakkannya hanyalah percikan arang. Tak lagi ada amarah, kalau ia memerah bara, seperti rembulan yang enggan menyapa, tubuh jasadi tak lagi menjadi dambaan, kemolekan sudah tak terpandang, semua tirai teungkap dibalik anggukan, khayalan tak lagi menjadi khayal, kerena ia sebuah kenyataan, kenyataan menjadi semakin nyata ketika sudah ada pernyataan.
Walau ia tak nyata, karena kenyataannya adalah ketidaknyataan, itulah cinta. Ia tidak harus ada, karena wujudnya selalu rahasia, seperti; diamnya adalah anggukannya, marahnya sapaannya, bencinya kasihnya, tidurnya dambaannya agar bertemu dalam mimpinya. Tidak ada yang harus dirasionalisasikan dalam cinta, ia bukanlah ilmu, yang harus dipelajari, ditekuni, apalagi ditirakati. Ia adalah wujud yang tidak wujud, tapi benar-benar maujud.
Kadang dalam benakku mengapa cinta harus dibatasi dengan ras, mengapa cinta takut suku, wong cinta menembus batas dan tidak akan pernah terbatas, cinta bagai arus yang akan menghantam apa yang ada dihadapannya, cinta bagai api yang akan melahap apa yang ada didekatnya, cinta tidak akan pernah bermuara, cinta tidak akan pernah terpaksa dan dipaksa karena cinta itu sendiri adalah kesadaran dari hati nurami. Kalau masih terikat dengan apa pun itu bukan cinta tapi ketakutan dan nafsu yang dibungkus oleh birahi.

Cinta adalah kebebasan yang tidak satu orang pun berhak mengatur cinta, cinta tidak ada aturannya, cinta tak akan pernah ada undang-undangnya dan cinta adalah belantara yang penuh dengan teka-teki. Kalau aku cinta dia... megapa disalahkan ,...wong cinta bukan karena dibuat tapi muncul dari kuasa batin dan rahmat Tuhan. Cinta adalah sebuah rahmat yang harus disyukuri oleh manusia yang masih punya rasa cinta, bukan cinta yang harus disalahkan tapi “ekspresi cintanya” inilah yang membuat sebagian orang melarang bercinta dan membohongi cinta..wong cinta tidak akan pernah berbohong dan dibohongi. Ekspresi yang saya maksud adalah pengungkapan yang kadang tidak sesuai dengan norma dan etika, kalau masih wajar dan tidak menyalahi norma dan agama, siapa pun tidak berhak melarang cinta...atau bercinta. Karena cinta dari maha Pemberi Cinta.


Ibnu khazm al-Andalusi dalam puisinya
Jalan tak sealu panjang
Jarak tak selalu anggang
Walau tajam, itu pedang bisa patah
Walau buas, itu macan bisa berubah

Meski kasar, begitu gampang aku tertawan
Bak serigala, diam dalam tawanan cerdik –cendekiawan
Mati dalam cintamu sungguh puncak kenikmatn
Betapa mengherankan, ada rang menikmati kebinasaan

Cinta memang sulit dikhayalkan apalagi dirasionalisasikan, ia seperti batu, tapi tidak keras. Seperti lautan, tapi hanyalah danau, langit yang sempit, bumi yang kecil, gunung  bak bukit, tak ada kehebatan, semuanya hanyalah keyakinan dan pandangan, dalam cinta semuanya tak lebih dari sebuah keyakinan.

Ia tak bisa dinyatakan hanya dengan ungkapan, semuanya menjadi kaku, Bilal bin Rabah, di antara perindu beratnya, suara emasnya yang mampu menggetarkan manusia, berhenti berazan ketika ia mendengar kekasihnya menghadap rabbul izati. Orang-orang pada kalang-kabut, karena suara merdunya tak lagi bersayuh, mereka bingung. Akhirnya, setelah didesak banyak orang -termasuk Fatimah a.s-  Bilal mulai mengumandangkan azan. Ketika sampai kata “wa asyhadu anna Muhammad…”, ia berhenti, suaranya tersekat ditenggorokan, ia menangis keras. Nama “Muhammad”, kekasih yang baru saja kembali pada hadirat-Nya, menggetarkan jantung Bilal. Bilal bukan tidak mau menyebut nama Rasulullah Saw, Muhammad Saw. Adalah nama insan yang paling indah baginya. Justru karena cintanya kepada Rasulullah Saw., nama beliau sering diingat, disebut, dan dilagukan. Bilal berhenti azan, hanya karena nama itu mengingatkan dia kepada kehilangan besar yang bukan saja memukul Bilal, tapi seluruh kaum muslimin.

Kecintaan lain yang luar biasa :

Suatu hari Urwah Al-Tsaqafi, salah seorang utusan Makkah melaporkan kepada kaumnya, “orang Islam itu luar biasa! Demi Allah, aku pernah menjadi utusan menemui raja-raja. Aku pernah berkunjung kepada Kaisar, Kisra, dan Najasi. Demi Allah, belum pernah aku melihat sahabat-sahabat mengagungkan Muhammad. Demi Allah, jika ia meludah, ludahnya selalu jatuh pada telapak tangan salah seorang di antara mereka. Ia usapkan ludah itu kewajahnya dan kulitnya. Bila ia memerintah, mereka berlomba melaksanakannya; bila ia hendak berwudhu, mereka hampir berkelahi untuk memperebutkan air wudhunya. Bila ia berbicara, mereka merendahkan suara di hadapannya. Mereka menundukkan pandangan di hadapannya karena memuliakannya (shahih Bukhari 3 :255). Dan dalam peristiwa lain, Ummu Sulaym menampung keringat beliau pada sebuah botol, sedangkan beliau dalam keadaaan tidur, dan setelah bangun, Nabi Saw bertanya, “apa yang kamu lakukan wahai Ummu Sulaym?” ia menjawab, “Ya Rasulallah, kami mengharapkan berkahnya buat anak-anak kami.” Mendengar, Nabi Saw. Bersabda, “Ashabti, Engkau benar (Musnad Ahmad 3 : 221-226)

Memang cinta, sepenuhnya kembali pada diri, bagaimana ia membawa dirinya untuk bercinta, bercinta dengan sepenuh hati, akan mendustakan diri sendiri, jika masih dibalut oleh kemunafikan. Mencintai adalah hak preogratif diri, yang tidak mampu dibendung oleh siapa pun, karena semuanya adalah karunia dari Tuhan.

PP. Darun Nun Malang Indonesia

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar