Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Alif Nur Lailiyah, Sahabat Enerjik nan Rendah hati



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Oleh : Ninis Nofelia MPAF

Perkenalkan gadis manis asli Pasuruan ini. Namanya Alif  Nur Lailiyah, kami biasa memanggilnya dengan panggilan Lia. Santri Darun Nun yang kini mengabdikan dirinya pada devisi Humas, terkenal akan kenerjikannya. Diam-diam saya  mengamatinya karena ada proyek besar dari abi untuk mengenalnya lebih dalam dan mengungkapknya dalam sebuah tulisan. Jadilah sebuah karya, kiranya  membawa inspirasi bagi pembaca setia.
Lia, begitulah ia  disapa. Ia lahir di Pasuruan, 28 Desember 1995, tepatnya 21 tahun silam. Sosoknya yang enerjik dan rendah hati membuat semakin penasaran. Putri manis pasangan bapak Machroji dan Ibu Ismi ini menikmati bangku pendidikan  di TK PGRI Keraton- Pasuruan, SDN Karang Ketug 1 Pasuruan, SMPN 10 Pasuruan, SMK PGRI 02 Pasuruan dan kini sedang proses penyelesaian jenjang S1 jurusan Hukum Bisnis Syariah di UIN Maulana malik Ibrahim Malang.

Ada yang menarik dari sosoknya yang ceriwis namun sebenarnya lembut ini. Kisah perjalanan hidupnya yang luar biasa, membuat saya tak sabar menuliskannya di sini. Semangat orang tuanya yang ia ceritakan selama berbincang-bincang, tak lepas dari dunia pendidikan agama. Pribadinya yang kini saya kenal terbentuk melalui proses hidup yang amat mengesankan. Ia bercerita bahwa setiap pagi sebelum sekolah dan sore sepulang sekolah ia harus mengikuti pelajaran dinniyah di desanya yang jaraknya lumayan dari tempat tinggalnya. Pondok Pesantren Bustanul Huda yang menajdi saksi perjalanan hidupnya. Disana ia memperoleh ilmu, doa, dan juga nasehat sang guru. Buya, ia biasa memanggilnya. Tak mampu ia lepas dari ingatan dan keputusan yang harus ia ambil setiap waktunya. “Siapapun kamu kelak, jagalah sholatmu, Nduk...”, begitulah pesan Buya pada dirinya. Sampai-sampai ia pernah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dengan alasan ia tak bisa menjaga sholatnya tepat waktu.

Bekerja sempat ia jadikan pilihan hidupnya setelah lulus dari SMK. Karena ia memiliki mimpi untuk bisa melanjutkan kuliah dengan biaya mandiri. Ia selalu berdoa semoga Allah berkenan mengabulkan doanya, karena ia ingin selalu membuat kedua orang tuanya bahagia. Alhamdulillah Allah mengabulkannya dan kini ia menjadi bagian dari sahabat Darun Nun. Saya sangat senang menjadi bagian dalam cerita hidupnya. Pesan Lia di akhir perbincangan ini, “ Janganlah takut bermimpi, karena jika kita takut bagaimana ia akan terwujud”. Semoga kisah sahabat kita “Lia” mampu menginspirasi.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar