Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KEBEBASAN SUCI

Oleh   : Nur Ma'rifatul Jannah


Kebengalannya akhirnya membuat ia dipenjarakan. Terkurung diantara pagar tinggi meski kamarnya tanpa terali besi kokoh. Udara bebas tak lagi pernah dia hela. Nafasnya sesak karena menahan segala nafsu. Semakin terengah-engah karena terbelenggu. Sudah 313 hari dia terpenjara, selama itu hanya lima kali orang tuanya berkunjung. Kedatangan mereka memang selalu dinantinya. Bagaikan kemarau merindukan hujan. Saat mereka datang,sedikit nafsunya terpenuhi. Nafsu lidah, perut, telinga, meskipun yang diinginkannya kebebasan mutlak. Mengukur panjang aspal hitam dari kota kecil sampai metropolis. Memanjakan mata menghirup angin maksiat. Bergandeng tangan saling erat menuju Jahannam.
Hari itu otaknya teringat cumi panggang, kripik aloevera pontianak, kepiting games khas pekalongan, nasi jamblang dan empal gentong cirebon, nasi gandul pati, lontong balap surabaya, lumpia expres semarang, gudeg jogja, nasi timbel, sajian rumah makan dapur sunda, ayam betutu dan sate kakul bali, konro makasar. “Kapan lagi aku bisa sangat dekat dengan awan dan langit? menjelajah Negriku. Yah, itulah kebebasan mutlak bagiku.” Ujarnya dalam hati. Dia tengah bosan dalam penjara. Hanya ada suara ayam, kucing, bebek, angsa yang sangat tidak merdu. Apalagi jika dibandingkan dengan dentuman drum dan denting piano di rumah. Halaman yang gelap jika malam, disukai demit dan para kawannya. Tak ada lampu hight light warna-warni. Meski di penjara ini selalu ramai siaran infotainment yang hampir sapanjang malam. Juga banyak mulut bebek mencercau tanpa henti. Wekk...weekkk...wekk...dengan kecepatan dan suara tinggi.
“ Brisiiiiiiiiik......!” jeritan itu sampai keluar dari mulutnya.
 “Coba kalian dengar, iya kan? Baru saja ada yang menjerit,meski tak ada sanak keluarganya yang mati.”suara orang disekitarnya yang saling tindih-menindih seperti orang kampanye.
“Dasar ! masyarakat kelas bawah!” Umpatan itu tak sampai keluar dari bibirnya.
“Tapi kamu sekarang bagian dari mereka. Membenci mereka sama dengan membenci dirimu sendiri !” protes hati malaikatnya.
“Argh..!tak usah berdalih!”lawan hati setannya.
Plakk...! Dia banting buku yang tak pernah dimengerti,berisi fatwa dan dalilnya yang entah apalah itu. Dia tinggal begitu saja. Dia lebih suka bercakap dengan makhluk berkumis hitam manis bertubuh bongsor dan gagah.
“Kau sangat pandai berenang, lincah dan gesit. Kau bisa menghiburku, meski hanya sedikit. Argh...! tapi sayang,kenapa kau tak mau bicara padaku?hanya sesekali megal-megol kanan kiri dan mendekat jika ku bawakan makanan. Dasar kau lele tak setia!” ujarnya kesal.
            Tiba-tiba ada suara asing muncul begitu jelas di telinganya. “Neng masuk...! sudah malam.”
“Noleh, tidak, noleh, tidak ! ah, noleh aja laah...! siapa tahu makhluk itu cute. Tak peduli makhluk itu manusia beneran atau jin, karena ini memang sudah tengah malam. Siapa tahu itu lelaki tulen.”
“Astaga...!meski agak remang-remang ternyata mataku bak mata kucing!” sangat jelas makhluk di depannya itu memang laki-laki. Meski ia masih ragu laki-laki itu dari golongannya atau bukan. Dan yang membuatnya ingin jadi artis dadakan dengan pura-pura acting kaget dan takut, meski itu tak dirasakannya.
“Argh..!aku ingin pura-pura kaget dan menghambur memeluk makhluk di depanku itu!” katanya penuh khayal.
“Astaghfirullah...!” bisik hati malaikatnya.
“Tubruk aja!” lawan hati setannya sengit.
“Emmmb....!iya sebentar lagi saya masuk.” Jawabnya membalas suara makhluk cute itu.
“Sudah malam,jangan melamun disini, atau saya laporkan pengurus!” suara laki-laki itu galak.
“Ada masalah apa malam-malam melamun disini?” ternyata suara bariton itu juga bisa lembut.
“Ingin pulaang..!”jawab gadis itu kalem-kalem manja.
“Jangan suka melamun sendiri, apalagi malam-malam di tempat gelap begini. Nanti bisa terjadi hal yang buruk. Apa kau tidak takut?”
“Sedikit. Anda pengurus disini?”
“Bukan,saya hanya abdi ndalem (pembantu di rumah kyai).”
“Pembantu?kebetulan donk,pembantu kan tugasnya membantu ?”cerocos gadis itu menirukan gaya bahasa guru bahasa indonesia tentang imbuhan ‘pe’.”
“Hemmm...hemmm..!” terlihat wajah bariton itu mengerutkan keningnya dan sedikit menahan senyum.
“Bantu saya!” gadis itu seperti menyuruh dengan separuh merengek.
“Apa?”
“Bantu kabur dari sini?”
“Jangan bercanda!ayo cepat masuk atau mau diseret?” suara bariton itu galak.
“Iya coba aja kalau berani.”balasku badung.
Tanpa berkata apa-apa lagi, bariton itu langsung saja menyeretnya. Tak peduli gadis itu merengek kesakitan. Meskipun sebenarnya dia senyum-senyum bahagia karena sudah lama tak pernah menyentuh tangan manusia jenis lain. Tangannya kokoh, dingin, tapi halus dan lembut. Dengan nakal gadis itu menikmati tarikan tangan kokoh itu.
            Setelah dekat dengan kamar asrama, bariton itu melepaskan genggaman tangannya. “Cepat masuk!” assalamu’alaikum!” ujarnya seraya tanpa melihat gadis itu. “Wa’alaikumussalam!” jawabnya sambil memandang bariton itu yang tengah beranjak pergi.
Dia tertegun memandanginya tanpa berkedip, melamunkan setiap sisi yang dia perhatikan sejak awal pertemuan tadi. Hidung bariton itu yang mancung, matanya tajam dihiasi alis yang tebal garang, wajah bercahaya begitu bersahaja. Mengenakan baju koko dan sarung serba putih serta peci kecil mungil seperti orang alim.
“Ah, bego banget sih aku ini! Ya jelas saja ini dimana gitu...!” kata gadis itu membuyarkan pandangannya.
“Tunggu...!” gadis itu sepontan memanggil bariton itu yang sudah semakin menjauh. Bariton itupun menghentikan langkah kakinya tanpa menoleh.
“Emmm...maaf aku hanya ingin mengatakan terima kasih!” ujar gadis itu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
“Seorang wanita yang baik, selalu menurut apabila di perintahkan baik.” Balas bariton itu dengan sedikit menolehkan kepalanya.
“Diieegg...! kata-kata itu menghujam menusuk kepahaman otakku” gumannya dalam hati.
“Baik...! maaf..!”jawabku patuh menunduk lemas kemudian berlalu masuk ke dalam.
            Di kamar, matanya masih juga terpicing. Otaknya berkelana entah kemana. Sejak itu dia terkena gejala penyakit gila sendiri. Tanpa sebab selalu tersenyum sampai semua teman-temannya sekarang ramah padanya karena senyuman sopan santun. Ya...itulah memang manusia tidak bisa mengukur kedalaman hati, niat yang tersembunyi.
            Seminggu kemudian dia ulangi lagi termenung dan bicara dengan makhluk berkumis hitam manis di kolam belakang penjaranya. Tapi itu bukan untuk bertemu suara bariton itu lagi. Dia memang benar-benar ingin menangis. Akhirnya bendungan itu tak kuasa lagi menahan deras air matanya. Benar-benar tak terbendung, terus mengalir tanpa henti. Tiba-tiba punggungnya di tepuk tangan kokoh yang sepertinya ia kenal.
“Kenapa menangis?”
“Kangen.”
“Siapa?”
“Banyak.”
“Ceritakan agar lega hatimu!”
“Ada yang menunggu untuk saya belai karena rindu sudah lama saya tidak pernah mengelusnya.”
“Pacarmu?atau suamimu?”
“Peci.”
“Siapa peci itu?” bariton itu mulai semakin penasaran.
“Kucing persiku.” Jawab gadis itu datar.
“hik..hik..hikk...!”
Ternyata bariton itu juga bisa tertawa menirukan bunyi kuntilanak.
“Selain itu?” bariton itu bertanya lagi sambil menyungging senyum yang manis.
“Ada yang rindu ingin ku pijit,biasanya aku memijitnya sehari lebih dari 3 kali.” Celoteh gadis itu acuh.
“Siapa lagi yang suka kau pijit?kerbaumu?”
Bariton itu ternyata bisa juga bercanda, meskipun sedikit garing. Gadis itu hapir saja dibuatnya tertawa. Tapi gengsi karena dia sadang mewek, dia cuma nyengir acuh tak acuh.
“Bukan.”
“Kalau begitu pasti ibumu? Tentu ibumu sangat sayang padamu, kau bersedia memijitnya lebih dari 3 kali sahari. Pantas kau sangat merindukan beliau!tapi harusnya kau menyebut beliau dari awal, bukan pecimu dulu.”
Dia biarkan bariton itu sibuk dengan celotehnya sendiri. Ngomong panjang lebar seakan tahu apa yang sedang ia rasakan. Gadis itupun hanya manggut-manggut saja. Padahal sebenarnya bukan mamanya yang sering dia pijit, tapi si tuts-tuts piano kesayangannya dan sering mendendangkan “Cinta kan membawamuuu.....hu...hu..hu...hu...! kembali disini...menuai rindu...mmbasuh perih... ting..ting ..ting......!
Kalau mereka dengar pasti mereka bakalan ngasih uang lembaran karena suaranya sama level dengan suara Reza antamevia.
“Iya saya ingin memijit kaki ibu saya” jawab gadis itu bohong.
“Semua yang dipenjara suci ini hampir semua sepertimu, dik! Saya juga punya perasaan yang sama.” Imbuh bariton itu menenangkan.
“Sebaiknya adik masuk! Sucikan diri,kemudian kirimkan kado rindu untuk orang tua adik berupa ayat Ilahi itu akan membuat hati adik damai.”petuahnya sangat menyentuh.
Gadis itu nampak tak tega melihat wajah bariton itu yang syahdu dan bersahaja itu. Dia jadi ikut tertular tenang dan damai.
“Ayo saya antar mengambil air wudhlu! Kemudian kenakan pakaian suci. Bermesraanlah dengan Robbmu.” ungkapan yang menyejukkan hati gadis itu.
Gadis itu menurut begitu saja dan melangkah kaku tapi sepertinya ikhlas.
“Kenapa sku jadi kehilangan sifat badungku?” dia heran sendiri.
“Kak! terima kasih karena setiap bertemu dengan kakak hati saya menjadi sangat tenang,damai. “Katanya setelah mengambil air wudhlu. Hilang gundah, resah tanpa arah yang tengah ia rasakan.
“Bukan saya yang membuat adik merasa tenang,tapi Robbul ‘alamin yang membuka hati adik sehingga  bisa menerima apa yang saya ajakkan. Ayo cepat masuk ! setelah adik bisa menikmati kencan bersama dengan Robbul izzati, adik tidak akan merindukan apapun.” Petuah Bariton itu.
“Ceezzzzz...” hatinya sangat dingin. Bagai bara api tersiram es.
            Gadis itu beranjak menuju permadani dan bertengger di atasnya seperti aladin tidak bisa terbang. Mulutnya komat-kamit tapi bukan membaca mantra. Memang benar, ternyata setelah tahu dan merasakan kencan dengan Kekasih yang mengasihinya tanpa putus, dia sudah tak pernah lagi bercerita di atas kertas putih, tidak juga berdendang, tidak juga mengadu pada si kumis hitam manis.
            Tidak terasa sudah seratus hari dia rutin kencan dan tiba-tiba saat dia sedang kencan dengan kekasih sejatinya dia dipanggil ke ruang tamu. Siapa yang berkunjung? Mama papa tidak mungkin karena setiap akan datang selalu memberi kabar lewat satelit palapa. “Jangan-jangan aku akan dimarahi pak kyai!” prasangkanya.
“Duh jadi deg-degan, tapi kan aku tidak berbuat salah, malah jadi alim.” Pikirnya dengan PD.
            Dia duduk bersimpuh di atas karpet merah. Dia menunduk, pandangannya tak lekang dari karpet itu. Dia menunggu sekitar lima belas menit. Mungkin dia hanya mengira-ira, karena mengalihkan pandangan pada jam saja tak berani.
“Kamu bersedia di pinang, Hasan?” suara pak kyai terdengar tenang dan bersahaja namun terdengar bagai gemuruh petir yang menyambar hatinya. Dia terdiam mematung tak berdaya. Dia tak tahu harus bahagia ataukah harus menangis sejadi-jadinya. Tapi, jika memang suara itu bagai gemuruh petir yang menyambar, bukankah itu berarti justru akan menyakitinya? mengahancurkannya berkeping-keping?
Gadis itu kaget, tapi tetap tidak berani beralih pandang dari karpet merah. Hanya merunduk dan berkata ”Jika menurut kyai itu baik demi kehidupan dunia dan akhirat saya, kulo ngestoaken dawuh.” Jawabnya penuh dengan kepatuhan. Entahlah, dia seperti kehilangan sifat pemberontaknya. Padahal Hasan itu siapa? Bagaimana? Setahunya Hasan dan Husein adalah cucu Rosulullah junjungannya. Tapi Hasan ini? Entah siapa? hatinya memang sudah pasrah patuh pada keputusan kyainya.
“Hasan, atas dasar apa kau ingin menikah dengan Syarifah?” tanya Romo kyai pada orang yang bernama Hasan.
“Biidznillah, kyai !” Jawabnya mantab.
Diieeeggg....! dia kaget menahan haru bahagia meski pandangannya tetap lekat dengan karpet merah. Tapi suara itu, adalah suara yang pernah ia dengar. Suara yang tidak asing lagi baginya. Si Bariton. Iyaa...si bariton itu. Pemilik wajah putih bercahaya, tangan kokoh yang pernah menyeretnya dan pemilik mata elang dengan alis garang. Ternyata suara gemuruh petir tadi hanya menyapanya, mengabarkan kejutan terindah dari Sang Kekasih yang selama ini hanya dapat dia jumpai melalui do’a-do’a di atas permadaninya.
“Alhamdulillah..!” puji syukur dalam hatinya.
“Saya merestui jika kalian menikah.” Ngendikanipun Romo kyai.
“Untuk hari dan lainnya kita bahas lain hari lagi. Saya undang orang tua kalian berdua untuk hadir menghadap saya. Kita akan membicarakan hal ini secara kekeluargaan. Sekarang kalian boleh pergi ke asrama masing-masing!”
“Injeeh...sendiko dawuh, Romo Kyai.” Jawab suara Bariton patuh.
            Dia berjalan bersimpuh berlalu dari ruang tamu ndalem. Dia gelar kembali permadaninya dan bersujud kepada Robbul ‘alamin karena telah memberinya banyak karunia. Dan sekarang suara baritoon itu akan membebaskannya dari penjara suci ini dengan cara yang suci. Dan nyata dia sekarang telah bebas dari penjaraa suci ini dan kebebasnnya insyaallah juga suci.
            Dia sekarang bisa dekat dengan awan dan langit, mengukur aspal hitam negeri ini. Menikmati genggaman, gandengan dan berlari sambil berpegangan erat menuju “JANNAH”. Cumi-cumi menjadi surga, tahu tempe menjadi peluruh dosa, sayur terong penyejuk jiwa. Karena semua dihidangkan untuk belahan jiwa atas Ridho Allah dengan penuh cinta. Dan semua yang tertimpa mentari turut mendo’akannya, karena semua yang tersaji disucikan dengan tangan-tangan indahnya. Semua ini selalu mereka buka dengan basmalah dan ditutup  dengan “Alhamdulillah....!” Desis gadis itu pelan.
EPILOG:
            Kisah ini adalah sepenggal kisah dari salah seorang mbak pondok yang menuliskan curahan hatinya di sebuah buku tulis sederhana dengan sampul coklat yang saya temukan sewaktu membersihakan buku-buku di atas lemari milik mbak-mbak pondok yang sudah boyong. Saya memang tidak langsung membereskan dan meletakkan semua buku-buku bekas itu ke dalam gudang. Saya membuka-buka terlebih dahulu setiap buku, sesekali saya baca catatan-catatan mereka semasa tinggal di Pondok. Entah itu buku catatan pelajaran sekolah ataupun ngaji. Sebagian teman saya menganggap kalau yang saya lakukan itu hanya akan memperlama dan membuang-buang waktu atau kurang kerjaan. Tapi bagi saya tidak demikian. Saya memang suka mengais puing- puing usang yang nampak tak berguna dan dipandang remeh oleh banyak orang. Saya menganggap, semakin tebal debu yang menyelimuti puing-puing itu, maka disanalah tersimpan rahasia indah yang patut untuk diungkap. Seperti halnya di dunia ini, sebenarnya banyak hal istimewa yang terjadi di sekitar kita. Jika kita bersedia memandang hal seremeh apapun itu. Tergantung bagaimana cara kita memandang. Seperti halnya buku tadi, sekilas dipandang buku itu memang hanyalah buku tulis bekas yang sudah usang tak berguna. Buku seperti itu yang biasa dijual di Pasar loak dengan dihargai secara kiloan. Tapi dengan cara pandang yang berbeda, ternyata buku itu menyimpan rahasia indah di dalamnya. Suatu hal sederhana bisa menjadi luar biasa jika kita mampu memandang dan menelaahnya dengan istimewa.
“Untuk mbak yang ada dalam cerita ini, saya mohon maaf jika saya sudah lancang mengungkap cerita mbak yang mungkin adalah sebuah privasi bagi mbak sendiri. Saya hanya tertarik dan ingin berbagi pengalaman istimewa kisah mbak dalam bentuk sebuah cerpen sederhana ini agar tidak hanya menjadi tulisan yang hanya akan di buang di pasar loak. Buku mbak sendiri yang sudah menarik saya untuk memungutnya. Andai mbak mencantumkan nama dalam buku itu, pasti saya akan berusaha mencari tahu tentang mbak dan meminta izin akan hal ini.”
            Seuntai do’a sederhana saya titipkan lewat cerita ini untuk pemilik kisah, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah fi dunya wal akhirat.
Rampung ditulis 10 Desember 2010
Selesai diketik Selasa, 08 Desember 2015


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Perumahan Bukit Cemara Tidar F3
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar