Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Cita-Cita Seorang Ibu Yang Mulia





            Malam hari ketika rembulan bersinar di langit yang kelam, saya berkunjung menemui beliau di rumahnya, tepatnya di perumahan Bukit Cemara Tidar Karangbesuki Sukun Malang. Saya mengetuk pintu dengan perlahan, lalu mengucapkan salam. Terdengar dari dalam rumah sebuah jawaban. Dalam hati saya merasa lega karena malam ini saya diberi kesempatan menemui beliau untuk melakukan wawancara.

            Dengan wajah yang sumringah beliau membukakan pintu, mempersilahkan saya untuk masuk ke ruang keluarga. Awal masuk saya sudah disambut dengan suara anak kecil yang lucu, keramaian jelas nampak di sana. Perkenalkan, orang yang saya wawancarai ini adalah orang yang mempunyai motto hidup “Khoirunnas Anfa’uhum Linnas”. Beliau adalah salah satu ustadzah yang pernah mengajar di pondok Darun Nun. Beliau adalah sosok yang memiliki wajah cantik dan berkulit putih. Beliau asli dari kota mangga yaitu Probolinggo dan lahir pada tanggal 24 November 1989.

            Nama lengkap beliau adalah Alfiyatus Syarofah. Kami santri Darun Nun biasa memanggil beliau ustadzah Alfi. Nama yang indah itu diberikan oleh ayahnya karena saat itu ayahnya sangat senang dengan kitab Alfiyah karangan Ibnu Malik yang berisi tentang ilmu nahwu dan shorof. Ustadzah Alfi merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara. Ayahnya bernama H.Sulton dan ibunya bernama Hj.Nur Azizah. 

            Ketika beliau masih berumur 6 bulan, peristiwa duka melanda keluarganya. Ayahnya meninggal dunia, sehingga sejak saat itu beliau tidak lagi merasakan belaian kasih sayang dari ayahnya. Sebelum meninggal dunia, ayahnya berpesan kepada ibunya agar memondokkan ustadzah Alfi sejak usia dini. Sebagai istri yang patuh, ibunya menuruti pesan sang suami. Ustadzah Alfi pun mulai berada dilingkungan pondok sejak usia TK. Di usianya yang masih dini beliau sudah harus berpisah dengan ibunya dan menjalani kehidupan di pondok, hal itu merupakan sesuatu yang sangat luar biasa menurut saya.

            Beliau menempuh pendidikan MI (Madrasah Ibtidaiyah) dan MTS (Madrasah Tsanawiyah) di Nurul Qur’an Probolinggo. Selanjutnya untuk jenjang MA (Madrasah Aliyah) beliau menempuhnya di kota pelajar yakni kota Malang. Tahun 2004 beliau mulai menuntut ilmu di MA Al-Ma’arif dan di pondok pesantren Nurul Huda Singosari Malang. Hal yang paling menguntungkan bagi ustadzah Alfi saat itu adalah beliau masih bisa diberi kesempatan untuk mengenal sosok kyai pendiri pondok pesantren Nurul Huda Singosari Malang yaitu KH.Abdul Mannan Syukur. 

            3 tahun menuntut ilmu di kota pelajar tak membuatnya merasa bosan. Setelah ia lulus dari MA Al-Ma’arif pada tahun 2007 silam, beliau kembali melanjutkan pendidikannya di kota yang sama. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim menjadi tempat pilihan bagi ustadzah Alfi untuk menempuh pendidikannya di jenjang S1. Pada saat pendaftaran mahasiswa, beliau melilih beberapa jurusan diantaranya yaitu jurusan bahasa arab, jurusan psikologi dan jurusan bahasa inggris. Dan ternyata tuhan menakdirkan beliau untuk belajar bahasa qur’an yaitu bahasa arab.

            Selain menjadi mahasiswa di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, beliau juga menjadi mahasantri di Ma’had Sunan Ampel al-‘Ali (MSAA). Tak hanya itu, beliau juga mengabdi pada pondok tersebut dengan menjadi seorang musyrifah. Semasa kuliah beliau sangat aktif mengikuti berbagai organisasi diantaranya adalah Hai’ah Tahfizh Al-Qur’an (HTQ) dan Jam’iyah Dakwah Wal Fann al-Islami (JDFI). Hai’ah Tahfizh Al-Qur’an (HTQ) adalah sebuah organisasi yang berorientasi pada pengembangan pembelajaran dan pengajaran al-qur’an, terutama yang dititikberatkan pada hifzhi al qur’an. Sedangkan JDFI (Jam’iyah Dakwah Wal Fann Al-Islami) adalah sebuah organisasi yang menampung minat dan bakat mahasiswa di bidang seni islami. Beliau aktif dalam kedua organisasi tersebut hingga jenjang S2.

           Tahun  2011 beliau menyelesaikan pendidikannya dijenjang S1 dan mendapatkan gelar S.S sebagai sarjana sastra arab. Selanjutnya ia menempuh pendidikan  jenjang S2 di universitas yang sama yaitu di pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim dengan jurusan pendidikan bahasa arab. Setelah lulus S2 dan mendapat gelar M.Pd, beliau menjadi ustadzah PKPBA (Program Khusus Pengembangan Bahasa Arab) di UIN Malang dan sampai saat ini beliau masih aktif  mengajar. Selama menempuh pendidikan sejak MI sampai S2, beliau pernah meraih beberapa prestasi diantaranya adalah dalam bidang puisi yang diraihnya ketika masih MI dan kaligrafi serta khitobah bahasa arab yang diraihnya ketika kuliah. Tidak ada kendala apapun dalam perjalanan hidup beliau, semua mengalir begitu saja. Bahkan ketika saya bertanya apakah dahulu pernah bercita-cita untuk menjadi dosen seperti saat ini? Beliau menjawab bahwasannya beliau tidak pernah mempunyai cita-cita demikian. Beliau membiarkan hidup ini mengalir begitu saja, cita-citanya hanyalah ingin menjadi ibu rumah tangga dan istri yang sholihah untuk suaminya.

Subhanallah sungguh cita-cita yang mulia bukan? Pembicaraan kami tidak berhenti sampai disini, karena saya ingin menggali informasi yang lebih dalam tentang beliau. Setelah berbicara tentang pendidikan, saya pun mengganti tema pendidikan menjadi hobi. Ustadzah alfi mempunyai hobi ngemal sejak kecil dan ketika menginjak usia 20 tahun ke atas hobi itu berganti dengan bisnis online. Bisnis yang sedang beliau jalankan adalah bisnis baju online. Alasan beliau menjalankan bisnis itu adalah karena beliau sangat suka dengan pakaian sehingga beliau menjadikan itu sebagai  bisnis. 

            Waktupun terus bergulir, usia beliau semakin bertambah dan kehidupan masih terus berjalan. Tahap demi tahap telah beliau lalui, masa kecil, remaja dan kini telah menginjak masa dewasa. Saat untuk mencari pasangan hidup sudah tiba, beliau menginginkan sosok suami yang mampu menjadi imam bagi keluarganya kelak, yang bisa menuntunnya agar selalu dekat dengan sang maha pencipta dan bisa selalu membimbingnya di jalan yang lurus. Impian itu pun menjadi kenyataan, sosok tersebut telah datang menghampiri dan menaburkan cinta di hati beliau. Akhirnya beliau menikah dengan seorang laki-laki asal Tulungagung kelahiran 8 Juli 1987 yang bernama Harir Mubarak. Mereka melaksanakan pernikahannya pada bulan mei tahun 2014 saat ustadzah alfi berumur 24 tahun. 

            Usia 24 tahun, ustadzah Alfi sudah menjabat sebagai seorang istri. Impiannya yang dulu ingin menjadi ibu rumah tangga dan istri sholihah telah tercapai sudah. Saat ini di usianya yang sudah menginjak 27 tahun, beliau sudah dikaruniai 2 orang anak. Anak pertama seorang lelaki tampan dan lucu bernama Adib Al Hariri dan anak kedua seorang perempuan cantik dan imut bernama Maria Nisa’ El Faradisi. Beliau sangat bersyukur atas kehadiran dua malaikat kecil yang siap mengisi dan meramaikan hari-harinya. 

            Ustadzah alfi ingin menjadi ibu yang sempurna yang mampu mendidik kedua anaknya dengan baik. Beliau mempunyai cita-cita besar di masa yang akan datang. Cita-cita yang pertama yang ingin beliau capai diwaktu terdekat ialah bisa melanjutkan pendidikan di jenjang S3 dengan beasiswa pada jurusan manajemen pendidikan. Sedangkan cita-cita yang kedua ialah cita-cita yang ingin beliau capai dalam jangka waktu panjang. Cita-cita tersebut ialah beliau menginginkan kedua anaknya Adib Al Hariri dan Maria Nisa’ El Faradisi kelak menjadi para pecinta dan penghafal al-qur’an. Subhanallah sungguh cita-cita seorang ibu yang mulia.


Pondok Pesantren Darun Nun 
Perumahan Bukit Cemara Tidar Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar