Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

DIA, Tidak Mau Minta Maaf !



Untuk kesekian kalinya saya pulang menjelang magrib, hemmm, tidak enak juga sama yang lain, , hehe Tapi, insyallh tidak terulang apabila tanggungjawab sudah terselesaikan:) Tepat saya berkendara sampai di depan sebuah swalayan yang cukup terkenal di kalangan mahasiswa karena harganya yang mampu bersaing, itulah "SARDO". Sebuah swalayan yang mashur dengan harganya yang murah dan isinya yang komplit, (hemmm, kebangetan nih kalau mahasiswa belum tau tempat ini:) ) Akan tetapi ditengah keramaian pengunjung swalayan ada kejadian sedih yang terjadi tepat ketika saya menyeberang di depan swalayan ini. Dari arah barat ada seorang remaja perempuan berkerudung mengendarai motor , tepat dibelakangnya ada sebuah mobil berukuran sedang dengan pengendara seorang bapak-bapak berbaju batik. Banyaknya kendaraan membuat sesak jalan dan membuat jalan macet.



Saya yang pada saat itu dari arah berlawanan tiba-tiba mendengar suara "BRAKK" Ternyata remaja perempuan tadi jatuh dengan motornya. 1,2,3 sampai 5 menit tidak ada yang bisa menolong karena kondisi jalan yang penuh dengan para pengendara, hampir tidak ada pejalan kaki didaerah itu. Beberapa menit kemudian, saya bisa maju dan menyeberang , ketika saya lihat (karena setelah menyeberang posisi saya sudah sejajar dengan remaja yang jatuh tadi) ternyata penyebab jatuhnya remaja tadi akibat tersenggol ban mobil yang ada dibelakangnya, entah dia mau menginjak rem tapi salah injak gas atau karena sebab apa saya kurang paham. Tapi yang saya perhatikan, ketika remaja bingung bersusah payah untuk bangun dari motor yang jatuh, bapak yang ada didalam mobil seakan tidak mau tahu, sekedar melengok dan membuka jendelapun tidak.(karena wajah pengendara mobil terlihat jalas dari balik kaca mobilnya) Melihat respon seperti itu dari pengendara mobil, lantas remaja tadi berusaha menepi dengan menuntun motornya sendiri. Saya pun yang memang tidak bisa berbuat apa-apa pada saat itu lantas segera melaju dari tengahnya himpitan kemacetan.

Setelah kejadian itu, saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri? Apakah minta maaf itu memang merupakan perbuatan yang sulit? Apakah itu seperti anak bayi yang harus mengangkat 10 kg beras? Minta maaf itu menentramkan, Minta maaf itu menyejukkan jiwa Meskipun memberi maaf iu lebih baik tentunya. Karena pada saat itu, bisa saja si remaja mendo'akan sesuatu yang buruk untuk pengendara mobil, yang mungkin saja terijabahi, karena kita juga tidak tau, do'a mana yang akan lebih diterima antara si susah dg si senang? Wallahua'lam bisshowab Tulisan ini sebagai "self reminder" bagi penulis, dan semoga bermanfaat bagi para pembaca.

Laila nadhifah
PP. Darun Nun
Bukit Cemara Tidar F.3 No.4 Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar