Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BERILMU DAN BERARIF

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Amanatul Mubtadiah


Semilir angin di sore hari menebarkan bau mentari menemani keluh para gadis di sudut kota, di bagian tanah tinggi sebuah bukit bernama Tidar. Malang, sebuah kota yang terkenal dengan dingin dan sejuk hawanya tapi adakalanya rasa gerah menyapa siapa saja yang hinggap disana. Tak terkecuali kami para murid dari kota seberang. Ada sebuah rutinitas yang menyebutkan bahwa harus ada ilmu yang disebarkan kala minggu pertama dan ketiga setiap bulan. Dari seorang guru ke guru lainnya, dengan bijak menuai segala resah jiwa-jiwa yang butuh kesegaran lembah ilmu tentang agama dan kehidupan.

Ustadz Imam Muslimin, begitulah tersebut raganya tatkala lahir di dunia. Ketika langkah kaki terasa berat melangkah kerumah-Nya, sayup-sayup getaran bersama angin yang mengudara mengabarkan ada pesan Illahiyah bersama seorang guru ini. Bergegas mengambil posisi di depan barisan, di atas karpet merah kaki ini terlipat. Lantunan suara penuh makna berdendang syahdu. Ini tentang ilmu dan pencarinya. Bahwasanya semua orang wajib mencari ilmu dan menjadi pintar.

Namun, manakala sebuah pohon hidup dia harus bertahan dari hama dan penyakit.
Sebuah cobaan menyakitkan sedang menunggu para alim. Inilah cobaan bagi orang alim, yakni dibutakan dari kesalahan diri sendiri, namun dibuka lebar terhadap kesalahan orang lain. Berbahaya bukan? Ibarat seseorang yang mengendarai kendaraan pribadi, kemudian ketika dia melanggar peraturan lalu lintas, tentu bukan karena tidak tahu. Namun, sebenarnya dia alim dan tahu betul segala perturan tapi tidak memiliki kearifan untuk patuh. Pintar, alim, tujuannya adalah untuk menjadi arif dalam bersikap.
Telah digambarkan melalui ibadah rukun Islam ke-5. Haji dimulai dengan wuquf di Arofah, maknanya orang yang alim jangan berhenti dengan ilmunya namun harus dilanjutkan dengan waqaf, berhenti. Tidak memperlihatkan ilmunya tapi diwaqafkan di arofah, sebuah kearifan. Dilanjutkan dengan manaiki jabal "naik", untuk mengetahui lebih banyak tujuan supaya tumbuh "rahmah" sifat kasih sayang. Karena tidak mudah, maka dibutuhkan senjata dengan kerikil untuk memerangi "setan" yakni hawa nafsu diri sendiri.

Ada sebuah cerita, ketika Adam dan Hawa dipisahkan dari kehidupan surga. Hawa diturunkan di india, mount everest sedangkan Adam di jeddah-jiddah. Setelah berabad-abad terpisah, pada tahun ke-300 lebih 1 hari adam bertemu Bertemu di muzdalifah atau secara jawa diartikan sebagai "mingset" miring, geser sedikit demi sedikit, tempat mingset. Bertemu tapi tidak sadar karena waktu dan fisik mereka yang sedikit berubah. Hawa dan Adam ketika di surga memiliki tinggi 300 hasta, dengan ridho Allah oleh malaikat Jibril disusutkan menjadi 100 hasta. Setelah proses pengamatan dan pengenalan kembali akhirnya mereka tahu dan sadar. Selayaknya suami istri yang sudah terpisah sekian lama, kasih sayang yang itu meluap dikenal dengan kata "rahmah". Dilanjutkan dengan jam'a, berkumpul berhubungan suami istri untuk pertama kali sejak diciptakan.

Kisah tidak berakhir disitu, suatu ketika iblis datang membawa anak kecil. Naluri kasih seorang ibu Hawa melarang untuk berbuat buruk terhadap anak tersebut. Namun Adam sebagai pemimpin yang tegas memutuskan untuk memusnahkan anak tersebut. Dengan berbagai cara, muali dari ditikam, dicekik,  ditenggelamkan, tidak ada satupun usaha tersebut berhasil membunuh sang anak. Apa yang terjadi selanjutnya? akhirnya Adam dan Hawa memutuskan untuk memakan anak tersebut. Inilah sebenar-benarnya tujuan Iblis yakni agar iblis bersatu dg diri manusia, menjadi sifat.

Jadi, hakikatnya melempar batu adalah membunuh dan melempari keiblisan dalam diri sendiri. Perasaan lebih dari orang lain adalah sifat iblis. "Saya terbuat dari api, sedangkan manusia da ri tanah, saya lebih mulia dari manusia". Untuk itu, harus diimbangi dengan ibadah agar mendaparkan kearifan, rahmah. Ada sebuah hadist menyebutkan "barangsiapa yang mengamalkan dari apa yang diketahui maka allah akan mewariskan ilmu yang tidak dia ketahui".
Disinilah mata rantai itu dimulai, jika raga sudah digunakan untuk beribadah, maka jiwa akan bisa merasakan nikmatnya agama. Namun, sama-sama beribadah belum tentu rasanya sama, karena pengetahuan tentang ibadah berbeda-beda. Karena rasanya tidak sama, maka timbul kepercayaan (iman) terhadap agama juga berbeda2. Iman yang paling kuat adalah milik Rasulullah dan para sahabat. Seandainya iman abu bakar dibagi, maka tidak akan yang kekurangan. Pintar tapi berbuat maksiat timbul karena rasa iman yang berbeda tersebut. Tugas Rasulullah adalah untuk menyempurnakan akhlak. Maka, kita sebagai manusia harus belajar, ibadah, sehingga timbul spiritualitas. Dari situ akan merasakan nikmatnya iman, dan iman akan membentuk kearifan akhlak. 

Maka sebaik-baik iman akan tercermin dari indahnya akhlak.
Wallahua’lam bi showab.

Darun Nun - Malang, 18 September 2016, 23.11 wib.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar