Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Today

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Oleh: Evi Nurjanah

Sebelas Agustus dua ribu enam belas, bertepatan di hari kamis, kulangkahkan kakiku untuk menapaki aktivitas baru. Bermodalkan tekad yang kuat dengan sebuah niat untuk menjadi seorang insan yang bermanfaat, tepat pukul 07.30 WIB aku telah sampai di PT. Pancanaka Swasakti Utama. Disanalah aku memulai aktivitas baruku sebagi seorang staff Accounting.
Pertama kali memasuki lingkungan PT sebagai seorang pegawai membuatku merasa takut sekaligus bahagia. Kurasakan bahagia karena mulai hari ini aku memiliki aktivitas baru yang sesuai dengan kompetensi yang selama ini kupelajari di jenjang universitas. Aku berharap melalui PT ini aku bisa menjadi insan yang bermanfaat dan sesuai dengan pepatah “The Right Man on The Right Place”. Sebaliknya, aku juga merasa takut ketika telah dianggap bergabung di PT layaknya sebuah tim. Takut yang kurasakan disebabkan oleh adanya sebuah tanggung jawab dan amanah yang jauh lebih luas daripada tanggung jawab yang kupikul semasa menjabat sebagai mahasiswa. Jika sebagai mahasiswa, tugas yang kita kerjakan sederhananya hanya akan berdampak pada diri kita sendiri, sedangkan di PT sebagai sebuah pegawai, maka pekerjaan yang kita lakukan merupakan satu kesatuan dengan bagian yang lainnya, tanggung jawabnya tidak hanya sebatas di PT saja, melainkan dengan semua pihak yang bekerja sama dengan PT. Selain itu, ketakutan lain juga kurasakan. Sebagai seorang pegawai baru, hal yang paling kutakutkan selain tanggung jawab dan amanah adalah budaya, lingkungan dan kebiasaan PT. Aku takut jika aku tidak bisa bergaul dengan rekan kerjaku, takut jika lingkungan perusahaan tak mendukung kebiasaan sebagai seorang muslim untuk berjamaah dalam menjalankan ibadah, serta menjalankan ibadah shalat sesuai dengan masanya. Satu lagi, aku takut jika aku tidak krasan di PT ini. Tak apalah, baru hari pertama tak elok jika menyerah dan membesarkan pikiran-pikiran negatif. Ku coba membesarkan hatiku dengan memendam semua ketakutanku itu.
Akhirnya, pukul 07.55 WIB, Pak Imam, seorang karyawan HRD (Human Resource Development) menyeru seluruh karyawan untuk berkumpul di ruangan HRD. Kulihat semua karyawan bergegas menuju ruangan yang dimaksud oleh Pak Imam. Sebagai seorang karyawan yang bekerja ditempat yang sama, maka akupun ikut serta bergegas menuju ruangan HRD. Semua karyawan mengambil posisi, berjejer rapi melingkari ruangan HRD yang berukuran persegi. Salah seorang karyawan maju di tengah-tengah kami dengan membawa selembar kertas laminating. Beliau memulai berkata dengan mengucap salam dan memandu seluruh karyawan untuk membuka doa dengan membaca surah al Fatihah. Selanjutnya beliau melanjutkan dengan membaca doa sesuai dengan yang tertulis di atas kertas yang tengah beliau bawa.
“Ya Allah, segala puji bagiMu, Engkau yang telah membangunkan kami dalam tidur nyenyak kami. Di pagi yang indah ini, kami memohon kepadaMu, bangkitkanlah semangat kami dalam bekerja, munculkanlah ide-ide baru, kreativitas dan inovasi-inovasi baru kepada kami. Jadikanlah sekecil apapun pekerjaan yang kami lakukan ini membawa keberkahan dan manfaat bagi orang-orang di sekitar kami. Lindungilah kami dengan pertolonganMu, dengan rahmanMu dan dengan cahayaMu.”
Begitu tenang hati ini ketika mendengar doa yang terlantun oleh seorang karyawan itu. Seakan semua ketakutan yang kurasakan sirna berganti dengan sebuah kedamaian dan rasa persaudaraan yang mulai kurasakan.
Doa ditutup dengan bacaan doa sapu jagat yang sangat fenomenal, disusul dengan kata motivasi “Selamat Bekerja” dan diakhiri dengan salam. Setelah menjawab salam, para karyawan silih berganti keluar dari ruangan menuju ruang kerja masing-masing. Baru ku ketahui bahwa doa bersama ini merupakan sebuah budaya PT. Pancanaka yang rutin dilaksanakan setiap pagi pukul 07.55 WIB sebelum memulai segala aktivitas di PT. Sebuah budaya yang sangat bagus dan kurasa patut dicontoh untuk perusahaan-perusahaan lainnya.
Sekarang, tiba saatnya aku harus beraktivitas sesuai dengan job-ku di PT ini. Meskipun sudah merasa damai setelah mengikuti doa bersama, namun tak dapat kucegah perasaan batin yang takut kalau-kalau di tempat ini tidak bisa memberikan hasil kerja yang terbaik untuk perusahaan ini. Lagi-lagi untuk menutupi perasaan itu, kulakoni pekerjaan ini pelan-pelan. Seorang senior yang posisinya sebentar lagi akan kugantkan, Septi namanya. Mbak Septi memberikan pengarahan-pengarahan kepadaku. Beliau juga sekaligus men-training-ku untuk mengerjakan apa yang seharusnya seorang staff accounting kerjakan di PT itu. Sedikit demi sedikit mulai kupahami tugasku, aku berusaha mengikuti alur kerja perusahaan ini semampuku. Terlintas sebuah ungkapan yang mampu membangkitkan semangatku dalam bekerja pagi ini. Sebuah ungkapan “Tugas kita bukan untuk meyakinkan manusia, melainkan meyakinkan Tuhan kalau kita pantas mendapatkan sesuatu yang kita impikan”, ungkapan yang diucap oleh Budi Waluyo (Perintis sekolah TOEFL online).  Dari ungkapan itu, aku mulai meyakinkan diriku bahwa tugas kita terletak pada proses, berusaha dengan usaha yang terbaik, menunjukkan kepada Allah segala upaya terbaik yang mampu kita lakukan. Sehingga apapun hasil pekerjaan kita jika kita kerjakan dengan usaha yang terbaik, maka kita tidak akan terlalu kecewa, jika hasil kerja kita buruk, maka itu sudah ketentuan Allah yang pasti terbaik untuk kita. Maka dari hasil yang buruk itu kita jadikan sebagai sebuah pelajaran untuk selanjutnya lebih telaten dan mau belajar lagi dan lagi.
Pertengahan jam kerja, sekitar pukul 10.15 WIB, saat aku sedang serius memperhatikan Mbak Septi, tibalah Pak Imam di ruang kerjaku. Beliau mengajakku ke ruangan HRD untuk scand jari. Tepat di depanku saat ini,  di ruangan HRD, terdapat sebuah alat untuk mencatat daftar hadir secara otomatis. Cukup menempelkan salah satu jari yang telah kita scand sebelumnya, maka secara otomatis kita telah terdaftar masuk kerja. Yah, Fingerprint namanya sebuah alat yang biasanya digunakan oleh dosen-dosen ketika baru sampai di fakultas, kini sekarang aku pun menggunakannya. Hehehe...
Tak terasa jarum jam beralih begitu cepat. Sekarang sudah pukul 11.40 WIB. jika aku tak salah, sebentar lagi adzan dhuhur akan segera berkumandang. Yah, dugaanku tepat sekali, jelang unek-unekku selsesai terlintas, lantas adzan dhuhur berkumandang. Tak sedikit karyawan yang bergegas mengambil wudlu untuk melaksanakan ibadah shalat. Tepat di sebelah ruang kerjaku adalah ruangan bebas tanpa pintu dan hanya ada dinding yang dibangun menyerupai tempat imam shalat di masjid-masjid pada umumnya. Tempat yang lumayan luas sekitar 5m x 2,5m, cukup untuk digunakan shalat berjamaah. Aku pun mengekor pada salah satu teman kerja satu ruang denganku. Kami berdua mengambil wudhu. Selanjutnya menuju ruang shalat yang berada tak jauh dari toilet tempat kami berdua mengambil wudhu. Tak disangka, di ruangan ini sudah ada beberapa karyawan yang juga ingin mendirikan shalat. Shalat pun kami dirikn secara berjamaah. Meskipun berjamaah hanya dengan satu shaf jamaah laki-laki dan satu shaf jamaah perempuan, namun hal ini membuatku semakin krasan di PT ini.
Usai shalat, aku kembali ke ruang kerja. Peraturan perusahaan berbicara bahwa jam istirahat dimulai sejak pukul 12.00 WIB sampai pukul 13.00 WIB.  Sekarang jarum pendek jam menunjuk angka 12 dan jarum panjangnya menunjuk angka 3, mengisyaratkan bahwa saat ini pukul 12.15 WIB. Saat inilah aku berani membuka HP. Sejak pagi aku mengurung HP ku di dalam tas. Aku tak berani mengoperasikannya selama jam kerja berlangsung. Sekarang jam istirahat masih tersisa, saatnya bagiku untuk otak-otik HP. Rasanya tak sabar mengirim pesan maupun chat WA bahkan BBM kepada teman-teman untuk berbagi cerita tentang hari pertamaku kerja di PT ini.
Setelah kurasa telah lama berkutat dengan HP, aku menoleh kembali ke jam dinding yang menempel di tembok pinggir tempat aku bekerja. Waktu menunjukkan pukul 12.55 WIB. Aku bergegas mengakhiri chat pribadiku dengan teman-teman dan bersiap untuk kembali bekerja.
Tak lama kemudian, Bu Erna, salah satu karyawan HRD memanggilku untuk mengikuti langkah beliau. Aku hanya nurut dan berjalan di belakangnya. Kami berdua telah tiba di tempat parkir. Tepat di sebelah kanan beliau ku lihat terdapat kotak loker kecil-kecil berukuran kurang lebih 15cm x 15cm. Beliau memberikan informasi terkait peraturan perusahaan yang tidak memperbolehkan seluruh karyawannya untuk  membawa Hpmaupun alat komunikasi lainnya bahkan mengoperasikannya saat jam kerja berlangsung. Dengan santun beliau memintaku untuk membaca peraturan terkait pelarangan membawa alat komunikasi di ruang kerja. Beliau juga menjelaskan kepadaku terkait peraturan yang telah kubaca.
Peraturan ini mungkin sudah biasa diterapkan di berbagai perusahaan terlebih di industri perbankan. Memang sudah seharusnya memisahkan antara urusan pribadi dengan urusan pada pekerjaan dimana kita bekerja. Namun, meskipun seluruh alat komunikasi tidak diperbolehkan untuk dibawa di ruang kerja, perusahaan sudah menyediakaan HP khusus dan telepon khusus di tiap-tiap ruangan untuk berkomunikasi yang berhubungan dengan pihak-pihak pada perusahaan tersebut.
Keperluan Bu Erna denganku telah selesai, beliau mempersilahkan agar aku kembali ke ruang kerja. Perlahan ku tapaki tangga-tangga menuju ruang kerjaku yang berada di lantai dua itu.
Kembali duduk di samping Mbak Septi, mentorku sebelum beliau resign dari perusahaan ini. Dengan semangat beliau melanjutkan penjelasan pekerjaan kepadaku. Aku berusaha memahami dan mencatat poin-poin yang kuanggap penting untuk dicatat. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu di tengah kesibukanku belajar dengan Mbak Septi. Meskipun masih sangat banyak yang harus kupelajari, namun aku akan berusaha untuk tetap semangat belajar dan menjalaninya dengan sepenuh hati. Sekarang sudah pukul 16.00 WIB, saatnya seluruh karyawan mengakhiri pekerjaanya. Aku pun membereskan semua barang-barangku. Kukenakan jaket pink kesukaanku, dan ku jinjing ranselku. Dengan semangat ku langkahkan kakiku menuju tempat parkir. Sembari menuruni tangga, ku teringat dengan diriku pagi tadi. Betapa ketakutan menghantui diri dan betapa buruk pikiran negatif yang kupikirkan pagi tadi. Memang tak seharusnya menyerah sebelum mencoba, serta tak baik memelihara pikiran-pikiran negatif terhadap apa yang belum atau tidak kita ketahui. Sebaliknya, harus selalu bersemangat mencoba hal-hal baru dan menumbuhkan pikiran-pikiran positif terhadap apa yang belum kita ketahui. Aku berharap bisa memberikan usahaku yang terbaik di tempat ini dan bisa berbagi manfaat kepada orang-orang di sekitarku juga tak lupa, aku berharap krasan dan tetap semangat beraktivias di PT ini.  Inilah hari pertamaku kerja. Today is my fisrt day in this Company. Hehehe......
 


Perum. Bukit Cemara Tidar Blok F3 No. 4Karangbesuki Sukun, Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar