Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Si Ahmad dan Sang Kyai


Oleh Risalatul Munawwaroh

Beberapa hari yang lalu ada seorang kakek yang bercerita kepada saya. Beliau bercerita seperti ini. “Nduk, suatu saat nanti kamu akan menjadi orang tua. Apakah kamu faham apa yang harus dilakukan oleh orang tua kepada anaknya di zaman seperti sekarang ini?” tanya kakek itu dengan suara lirihnya. “Saya tidak tahu kek apa yang harus saya lakukan. Kalau kakek berkenan saya minta dinasehatin kek”, sahut saya.
“Begini Nak, menurut saya jika kamu menjadi orang tua, ada 3 hal yang paling penting untuk kau laksanakan. Sebaiknya ketika kamu mempunyai anak nanti, kamu sekolahkan agar ia tidak ketinggalan zaman. Kedua, sebaiknya anakmu dingajikan atau dipondokkan. Setidaknya ketia ia dipondokkan maka dia akan dididik dan akan selalu didoakan oleh kyainya. Dan yang ketiga jagalah sholat anakmu mulai dari kecil agar ia terbiasa kalau sudah besar. Ajarilah dia untuk menjaga sholatnya bagaimanapun keadaannya. Ketiganya itu sangat penting nduk.”

             Nduk, mengaji itu sangat penting. Tapi lebih penting lagi hendaknya memiliki guru yang cocok untuk membimbing jiwa dan raga agar kita bisa menuju Allah SWT. Setidaknya ketika kita mempunyai masalah maka ada sebuah rujukan untuk menyelesaiakan permasalahan kita.
Nduk, Boleh kah kakek bercerita?” Tanya kakek. “Iya kek” jawab saya.
 Zaman dulu ada seorang anak yang bernama Ahmad. Dia mondok selama 15 tahun disebuah pesantren di pulau jawa. Seperti di pesantren biasanya. Pasti semua anak diajari untuk membaca al quran. Ahmad ini berbeda dengan anak yang lain. Selama 15 tahun ia belajar, namun ia hanya bisa membaca surat alfatihah. Pernah gurunya menaikkan dia ke surat kedua (Surat Al- Baqoroh),  tapi diajari dengan metode apapun dia tidak bisa-bisa. Untung saja gurunya adalah orang yang sangat sabar dan pengertian. Begitupun dengan Ahmad. Dia tetap semangat mengaji meskipun dari awal hingga 15 tahun dia mondok hanya bisa mengaji surat al fatihah.
Setelah 15 tahun ia belajar maka tidak ada satu temanpun seangkatannya yang tersisa. Semuanya sudah boyong dan hanya tersisa Ahmad. Dia malu kepada teman teman barunya, dia merasa bahwa dia sudah tua namun dia tidak bisa apa-apa. Semua teman seangkatannya sudah banyak yang menjadi PNS, ustadz, dosen dll. Di dalam kegalauannya itu dia berusaha memberanikan dirinya sowan ke kyainya.

Ahmad            : “ Kyai, ngapunten.. saya mohon izin kyai. Saya ingin boyong dari pondok ini”
Kyai       : “Kenapa kamu mau boyong Nak? Kamu sudah tidak betahkah tinggal di pondok ini   Nak?”
Ahmad  : ”Saya sangat betah kyai, jika saya tidak betah mana mungkin saya bisa tinggal di pondok ini selama 15 tahun. Sebetulnya saya malu mau mengatakan ini kepada kyai. Saya bingung kyai, saya sudah belajar di pondok ini selama 15 tahun tapi kok saya belum bisa apa-apa kyai? Saya malu dengan teman-teman saya. Mereka memanggil saya dengan sebutan mbah karena selama 15 tahun ini saya masih belum bisa apa apa.. Seharusnya di usia  saya ini, saya sudah bisa mengajari adik-adik tingkat kyai. Tapi apa yang akan saya ajarkan kyai? Mending saya pulang saja kyai.”
Kyai     : “Emangnya apa yang akan kau lakukan ketika kau pulang Nak?”
Ahmad  : “Saya mau bekerja saja Kyai”.
Kyai       : “Kamu jangan kemana-mana Nak. Kamu tinggal disini saja, akan saya beri kamu  pekerjaan.
Ahmad              : “Terimakasih Kyai. Pekerjaannya apa Kyai?”
Kyai     :”Begini Nak, setiap malam saya selalu datang ke daerah-daerah di sekitar sini untuk mengisi acara pengajian. Saya selalu menggunakan sepeda pancal ini. Berhubung saya sudah tua saya minta tolong ke kamu Nak agar kamu membonceng saya saat saya pergi ke pengajian.
Ahmad   : “O.. nggeh Kyai terimakasih”.
Lalu murid tersebut membonceng kyainya hingga berjalan selama 6 bulan.


Setelah 6 bulan, santri tersebut sowan lagi kepada kyainya.
Ahmad              : ”Kyai, saya ini terkena apa ya Kyai?”
Kyai      : “Emangnya kamu kenapa Nak?”
Ahmad              :”Saya ini mengaji selama 15 tahun Kyai, namun saya tidak bisa apa-apa. Setelah saya membonceng Kyai selama 6 bulan, al-quran yang kyai baca sudah saya hafal. Tidak hanya menghafal ayatnya saja Kyai, ternyata saya juga menghafal artinya juga. Hadits yang Kyai baca sudah saya hafal beserta artinya. Apapun yang Kyai dawuhkan, sudah terekam di hati saya. Suatu saat ketika Kyai tidak bisa datang ke acara pengajian, insyaallah saya sudah bisa menggantikannya Kyai”.
Kyai    : Nak, itu namanya futuh. Maksudnya hatimu telah dibuka oleh Allah SWT.
Begini saja Nak. Orang-orang yang mengikuti pengajian saya itu kenal dengan nama saya tapi tidak mengerti dengan wajah saya. Nanti malam kamu akan saya bonceng sekali saja. Kamu harus manut ke saya Nak.”
Ahmad : “Wah... gimana ini? Masak saya mau dibonceng Kyai?” (dalam hati si santri)
  “Begini Kyai, biasanya kyai itu selalu memakai sarung dan surban.” (sambil mencari alasan agar tidak dibonceng oleh kyai)
Kyai    :”Iya, gak apa-apa Nak. Nanti malam sarung dan surbanku saya berikan kepadamu. Sedangkan sandal dan kopyahmu saya pakai dan kamu yang akan saya bonceng. Sekali itu saja dan kamu harus mau ya Nak.

Saat sampai di tempat pengajian Ahmad yang dibonceng yang dibonceng oleh kyai itu sangat di hormati oleh masyarakat. Dikira dia adalah kyainya. Padahal yang dibonceng adalah muridnya. Sedangkan kyai  yang asli itu adalah yang membonceng. Si Ahmad gemetaran,   tubuhnya panas dingin karena tidak pernah dihormati oleh masyarakat sebanyak itu. Di dalam hatinya ia berkata “ Wah, begini ya rasanya menjadi Kyai. Hehe..”.

Untunglah panitia pintar. Disaat menempatkan duduk, kyai yang asli dan si Ahmad didudukkan sejajar. Andai saja didudukkan tidak sejajar insyaallah si Ahmad bakal  jatuh.
Sesaat kemudian kyai dawuh “ Jika nama saya disebut, datanglah ke podium”.
“Nggeh Kyai”, jawab Ahmad

Tak lama kemudian MC mempersilahkan Kyai untuk menyampaikan pengajian dan mempersilahkan Kyai untuk ke podium.
(majulah si Ahmad sebagai kyai menggantikan kyainya untuk mengisi pengajian)

Saat kyai (Ahmad) menyampaikan pengajiannya. Semua orang tercengang. Orang yang tidak pernah mengenal kyai itu manggut-manggut, orang yang kenal dengan kyai godek godek “Wah hebat benar ngajinya”. Salah satu dari orang yang kenal sama kyai berkata “Biasanya kyai itu wajahnya tua, tapi kyai kok sekarang wajahnya menjadi muda lagi ya?”
Temannya menjawab “wajah kyai itu berubah-ubah. Kadang-kadang kyai itu wajahnya bisa muda, kadang-kadang berubah tua haha” katanya sambil tersenyum.

Selesai pengajian, kyai (Ahmad) tersebut kembali ketempat duduknya. Kemudian datanglah salah satu panitia pengajian kepada kyai (Ahmad) dan bertanya “ Gus, terimakasih sudah mengaji. Begini gus, teman-teman saya mau bertanya karena ada batsul masail yang belum jelas. Kami mau minta jawabah dari panjenengan kyai.
Kyai    : ”Mana batsul masailnya?”
Panitia : ”Ini kyai ada 5 soal”

Dalam hati kyai (Ahmad)  berkata “Wah, bisa baca tapi tak bisa menjawab”
Si Ahmad benar-benar kebingungan. Dia tidak bisa menjawab karena dia tidak pernah belajar itu.Untung saja kyai (Ahmad) duduk sejajar dengan gurunya. Bisa duduk dan belajar dengan seorang guru adalah sebuah keuntungan.

Akhirnya si Ahmad teringat dengan kata hikmah dari gurunya bahwa pertama orang yang tidak bisa itu harus merasa tidak bisa, kedua orang yang tidak bisa tetapi punya guru itu pasti tidak akan terpeleset, ketiga orang yang mempunyai guru itu pasti akan bisa menghadapi apapun.

Si Ahmad merasa kebingungan dan akhirnya mendapatkan solusi
Ahmad: “Panitia, soal ini terlalu mudah bagi saya, nanti kalau soalnya sulit baru tanya ke saya. Karena soal ini terlalu mudah maka saya berikan kepada orang yang membonceng saya saja ya..”. Padahal si Ahmad melakukan hal tersebut karena tidak bisa menjawab soalnya sama sekali”.
Kyai       :”Apa yang dapat saya bantu Kyai?” (tanya kyai kepada si Ahmad)
Ahmad  : “Jawablah soal batsul masail ini, agar orang ini bisa mendapatkan solusi”.
Kyai      : “ Nggeh Kyai”

Akhirnya semua soal batsul masail yang ditanyakan oleh panitia itu terjawab semuanya. Itulah barokah dari berkumpul dengan guru maka semua masalah akan terselesaikan.


“Begitu juga engkau Nak” kata kakek kepada saya.

“Sekarang kau sudah besar, tak lama lagi akan ada orang yang hendak melamarmu. Jika kau kebingungan apakah orang yang hendak melamarmu itu cocok apa tidak menjadi imammu, jika kau punya guru maka tinggal kau tanyakan pada gurumu. Maka dekatlah engkau dengan guru-gurumu. Wallohu a’lam.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar