Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TERSESAT KE JALAN YANG BENAR

Zeta Ennika Aracy 

Hm... udara yang sejuk 🍃, pagi yang cerah 🌞, awan yang berlarian mengiringi langkah kakiku ⛅ seakan akan memberi semangat  untuk memulai aktifitas yang baru. Mataharipun tak malu - malu menampakkan kecantikannya. Menambah indahnya suasana pagi hari kala itu. Dan seakan akan menyuruhku bergegas untuk memulai aktifitasku hari ini 😊. Yaaah sebut saja mahasiswa semester akhir 💪. Sungguh pejuang semester akhir membuat cambukan tersendiri. Banyak sekali godaan yang datang silih berganti. Salah satunya males malesan ngerjain skripsi hehe. Tapi memang banyak godaan kok, salah duanya yaitu lowongan kerjaan yang tiba tiba ditawarkan kepadaku tanpa harus dapat ijasah sarjana dulu. Apalagi pekerjaan itu menurutku juga pekerjaan yang bergengsi kala itu. Wah.. gimana ndak tertarik 😢. Yah tapi tetap saja, aku harus tahan dengan beribu alasan apapun karena lebih mengutamakan meneruskan jenjang sarjana terlebih dahulu 🙆.
Tapi sebelum bercerita panjang dikali lebar dulu. Pengen banget berbagi tentang pengalaman pribadiku yang menurutku amazing sekali hihi 😊 sehingga membuka mataku tentang berartinya mempunyai cita cita. Yah ceritanya terjadi setahun yang lalu tepatnya, saat saya masih dibilang semester yang ndak terlalu tua 😂. Yahh saat itu, saat dimana seseorang sudah punya mindset untuk mewujudkan cita citanya yang digantung tinggi tinggi. Tapi apa boleh buat mindsetku masih tertinggal jauh di dasar laut paling dasar yang tidak dapat terjamah oleh mata sama sekali. Iya.. benar, saat dimana aku masih bingung kalo ditanya cita cita. Berbeda ketika saat aku masih kecil. Dengan antusiasnya aku menjawab ingin jadi ini itu dan sebagainya. Seseorang mungkin membuka mataku tentang pentingnya cita cita, bahwa ketika kamu berada di dunia tanpa cita cita maka sama dengan menjalani hidup tanpa punya arah dan tujuan sama sekali.

Saat kuliah on the way dan stag pada semester akhir atau bisa dikatakan semester tuapunn masih saja bingung kalo ditanya cita cita. Tapi jurusan yang aku ambil sekarang ini melainkan bukan sarana untuk menyalurkan cita citaku dulu. Percaya atau tidak, dari kecil sampai tumbuh besar aku tidak pernah sekalipun  bercita-cita menjadi seorang guru. Yah bisa dibilang cita-cita itu tumbuh mengalir saja saat aku mulai besar. Dan salah satu alasan lain, karena aku bukan orang yang percaya diri kalo disuruh untuk berbicara di depan umum. Sedikit ceritanya seperti itu. Sampai akhirnya....
Aku ingin sekali mencoba untuk tidak bergantung dengan uang bulanan yang diberi orang tuaku saat itu. Pengen banget belajar mengurangi ketergantunganku pada orang tua 🙀. Walau bisa dikatakan orang tua tidak pernah sama sekali memintaku untuk bekerja. Karena orang tua sudah mencukupi kebutuhanku. Malah bisa dikatakan melebihi kebutuhanku di kota perantauan ini. Yah.. walaupun aku kira sepertinya ndak mungkin bisa. Mau nyari kerja apa? Bagaimana? Dan dengan cara apa? Nah.. itu yang masih berputar putar di atas kepalaku saat itu. Bisa dibilang kerjaan yang paling booming di kota pelajarku saat ini adalah menjadi seorang guru pengajar privat (kalo ukuran mahasiswa). Dan aku... Bukan tipekal seorang pengajar dan tidak mau untuk menjadi seorang pengajar 📚. Bisa dibayangkan kalo aku nggak mungkin jadi seorang pengajar. Sampai akhirnya....
Ada seseorang yang bilang pekerjaan paling mulia adalah "pekerjaan yang bisa bermanfaat bagi orang lain".. Sebut saja "bunga" namanya, Orang yang berkata itu kepadaku. Tapi saat itu aku masih belum tersadar makna dari kata kata itu. Yaaaa.. Hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri 😅. Sampai pada akhirnya aku bingung harus nyari kerjaan apa. Dan bagaimana. Bunga masih saja bilang seperti itu. Dan malah meyuruhku untuk mencoba menjadi seorang pengajar. Ya.. hal yang tidak pernah terpikirkan sama sekali di otak kecilku itu. Sampai pada saat dimana....
Pengennya kebangetan untuk menjadi seorang yang tidak bergantung pada orang tua. Dan lowongan pekerjaan yang paling banyak disodorkan kepadaku itu sulit dipercaya. Kebanyakan adalah untuk menjadi seorang guru privat dan pengajar  😭😖. Yah.. bisa dibilang nyaliku saat itu jadi ciut karena mindsetku tadi. Karena tidak terbersit sedikitpun untuk mencoba. Sampai akhirnya... aku sudah putus asa untuk mencari kerjaan yang pantas untukku. Karena rata rata tidak ada yang aku minati saat itu. Dan kalaupun ada itupun harus menyita waktuku yang sebanyak banyaknya. Dan pekerjaan ini ada di salah satu list job yang aku inginkan setelah aku lulus. Bisa dibayangkan pekerjaan ini bisa didapatkan secara cuma cuma dari salah satu saudara dekatku 😥.
Karena aku juga memikirkan kuliahku yang masih berjalan alhasil tawaran atau lowongan yang masuk jadi job listku tadi. Aku tanggalkan dengan penuh keikhlasan 😭. Karena sangking udah ngebetnya nyari lowongan pekerjaan yang masuk kriteria mahasiswa yang masih menempuh semester akhir ini. Dan alhasil.. dengan maksud coba coba aku mencoba untuk memasuki salah satu loker atau (lowongan pekerjaan) yang mungkin tidak bisa aku bayangkan sebelumnya. Iyaa... Benar, aku mencoba untuk masukkan lowongan pekerjaan ke salah satu lembaga sebagai salah satu pengajar. Dengan modal nekat, serta dorongan si Bunga yang antusias sekali kalau aku bisa belajar untuk jadi pengajar. Yaah.. Apa boleh buat dengan niat setengah - setengah berjalanlah aku untuk mengantarkan lembar cv dan surat lamaranku ke tempat itu...
Sesampainya disana ditanyalah aku dengan berbagai macam pertanyaan yang tanpa basa basi aku menjawabnya dengan penuh kejujuran, hanya modal nekat dan coba coba. Padahal kalau boleh jujur banyak sekali yang mencoba untuk mengajukan lamaran pekerjaan di tempat itu. Dan akupun juga berpikir kalau tidak mungkin lah.. aku akan menjadi salah satu orang yang  diterima dari surat lamaranku tadi. Setelah beberapa hari yang lalu aku menaruh surat lamaran kerjaku. Tiba tiba seminggu kemudian telah berlalu... Di pagi hari yang masih sangat muda untuk matahari menampakkan sinarnya.  Layar handphonekupun hidup dan tiba tiba muncul satu pesan entah siapa gerangan yang mengirim sms sepagi itu. Ketika aku membuka ternyata nomer hp yang tak dikenal menghubungiku lewat sms. Dan seketika saat aku membaca pesannya setengah percaya tidak percaya. Ternyata kenapa ? Ternyata pesan tersebut berisi kalau aku diterima untuk bekerja di sekolah tersebut dan tau atau tidak ekspresiku saat itu bingung mau bagaimana 🙀. Dan dimintalah aku untuk mengkonfirmasi siap mengajar atau tidak. Dan...
Akhirnya seketika hari itu aku diminta untuk mengajar di salah satu sd untuk permulaan mengajar. Bisa dibilang ini (training) lah. Perasaanku masih sulit percaya kalau aku bisa menaruh surat lamaran di lembaga tersebut dan diterima bekerja. Masih hanya itu yang ada dipiranku. Lalu saat sudah memasuki ruang kelas dan bertemu anak anak perasaan tidak ada niatan itupun tumbuh menjadi semangat seketika melihat mereka yang dengan semangatnya menyambutku dan antusiasme mereka yang ingin memulai belajar bersamaku. Perasaan yang sebelumnya belum pernah terpikirkan olehku. Melihat mereka semangat belajar membuat akupun berubah niat yang tadinya separuh hati untuk berjalan dan berdiri disana berubah menjadi semangat yang ikhlas. Apalagi ketika apa yang diajarkan kita mereka dapat merespon dengan semangat. Duh... Benar benar suasana yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dan akupun mulai menyadari seakan berjalannya waktu jika mengajar itu sungguh mengasyikkan. Dan akupun menyadari kata kata si bunga dulu. Jika bekerja itu yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Dari sepenggal cerita yang tidak disengaja diatas meskipun ketidak sengajaan kita menjalani dengan ikhlas dan niatkan dengan ibadah maka semua pekerjaan yang berat sekalipun pasti akan terasa ringan. Dan bisa aku rasakan dari yang pertamanya sama sekali tidak menyukai bidang tersebut akhirnya sekarangpun benar benar menikmatinya meskipun dalam stag atau masa pembelajaran untuk menjadi pengajar yang baik. Tapi bagiku menjadi guru yang baik itu bukan dinilai dari dia harus menarget memahamkan siswa siswinya untuk paham dengan yang ia ajarkan akan tetapi mencoba mengalirkan apa yang kita bisa tanpa harus memaksakan kepada siswanya. Yah… apapun itu insyaALLAH pasti ada berkah di dalamnya jika kita menjalaninya dengan penuh keikhlasan J


Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar