Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MY SUPER MOM

Oleh : Intani Sholihah Hafizatul Husna 

Berbicara tentang seorang ibu, takkan terlepas dari sebuah pengorbanan.
yah , pengorbanan !
Bagiku seorang ibu adalah pahlawan . tahukah kawan? betapa banyak yang di perjuangkan dan yang dikorbankannya. Bahkan seorang ibu rela tersiksa, bahkan rela tak makan asalkan  anaknya  bisa makan, bisa tertawa riang. Dan bahkan seorang ibu rela menahan lapar didepan anaknya, padahal ia sendiri lapar. Dan tak sering ia mengatakkan " Makan saja nak, ibu tadi sudah makan " . Padahal ia berbohong.
        Dan tahukah kawan? mengapa aku kali ini menulis tentang seorang ibu dan pengorbananya? tak ada alasan lain kecuali aku merindunya, menyayanginya. Banyak kisah suka bahkan pilu yang aku lewati bersamanya. Dan hal yang paling aku sesali adalah ketika harus melihat butiran nan halus membasahi pipinya , dan tak lain adalah ibuku pernah menangis. Jelas saja ia pernah menangis. Dan aku seakan-akan ingin sekali rasanya menghunus pedang ke tubuh orang yang membuat ibuku menangis .Karena bagiku ibuku tak boleh menangis !karena ia adalah malaikatku dan malaikatku pantas bahagia . Ia tak boleh menangis, ia hanya boleh tersenyum dan bahagia. 
       Sekarang, kini aku jauh berada didekatnya. tapi aku yakin dimatanya aku bahkan layaknya hati dan empedu. Sangat dekat. menyatu.
Ibuku adalah sosok wanita yang tegar, dan ia adalah madrasah pertamaku. Ia adalah madrasah yang pertama kali mengajarkanku arti kehidupan. Jika aku boleh meminta, aku tak ingin terlahir karena aku tak ingin melihat ibu menangis. jangankan menangis. bahkan bersedih pun aku tak sanggup melihatnya. Seberapa besar salah yang aku lakukan, tapi ia pasti memaafkannya. Ketika aku salahpun seringkali ia mendatangiku. karena baginya aku adalah mutiaranya, ia layaknya kerang yang selalu menjaga mutiara yang ada didalam kerang tersebut, dan kerang itu akan tak berarti jika mutiara yang didalamnya hilang. Bugitulah ibuku menjagaku, aku adalah anak pertamanya, tapi aku adalah anak yang sering menyusahkan, bahkan aku pernah merasakan sakit yang sangat luar biasa karena ayahku memukuliku dengan ikat pinggangnya, dan ketika itu ibukulah yang melindungi tubuh mungilku agar ikat pinggang ayahku tak lagi mengenai tubuh mungilku. Ayahhku adalah sosok yang sangat keras, namun ia penyayang. Mungkin waktu itu ayahku memang sedang marah, karena mungkin ia menganggapku sangat keterlaluan. tapi aku yakin semua orang tua mempunyai cara yang berbeda untuk mendidik anak-anaknya. Bahkan disaat kritis seperti itu ibukulah yang melindungiku. Ia tak mau membiarkan aku terluka sedikitpun. Dan ia lah sosok ibuku, sosok ibu yang mau berkorban. sosok ibu yang selalu melindungi anaknya. Dan ia bagiku sangat berarti, disaat aku melakukan kesalahanpun, ia selalu memaafkanku. Banyak kisah pilu yang aku lewati bersamanya ketika aku duduk dibanguku Sekolah menengah atas (SMA) . Dan saat itu aku mengerti betapa kejamnya kehidupan, betapa kejamnya hidup.
             "Aku tak pernah tahu, kapan BAHAGIA itu akan datang, namun kesedihan selalu memberi tanda akan kehadirannya, hidup ini kejam kawan ! siapa yang kuat dialah yang menang. tinggal pilih : mau jadii pemenang atau pecundang? "
     
Ibu sebagai orang yang paling dekat dengan anaknya (mulai sejak sang anak berwujud janin yang belum bernyawa di dalam rahim sampai ia lahir) dan ia selalu menjadi sosok yang istimewa bagi anak-anaknya. Ibu adalah orang yang rela mempertaruhkan nyawa demi lahirnya sang buah hati. Ibu adalah sosok paling penyayang yang dengan penuh kesabaran merawat sang bayi mungil, yang setiap keinginannya hanya dibahasakan dengan tangisan, bahasa yang terkadang menjengkelkan bagi sang pendengar. Ibulah sosok yang tegar menghadapi kenakalan anak-anak yang membuat orang marah. Tidak sekali atau dua kali kenakalan itu dilakukan, bahkan berulang-ulang. Namun, ibu tetap sabar menghadapi dan terus menasihati buah hati untuk tidak melakukannya lagi.
Cinta ibu juga yang membuat sang anak mampu menghadapi masa remaja yang penuh dengan emosi, gejolak muda, atau bahkan sedang dilanda virus si jambu merah, alias jatuh cinta yang agak sulit terkendali. Tapi, semua itu terasa mudah dilalui melalui perhatian ibu yang penuh kasih. Tidak cukup sampai di situ, ibu tetap setia mendampingi sampai saat seorang putri menjadi sosok perempuan paling bahagia, saat ia akhirnya  mempunyai seorang bayi. Ketika sang putri masih kikuk memandikan anaknya, ibulah yang mengulurkan tangan untuk melakukan tugas itu.
             Duhai ibu, sungguh sering kami merepotkanmu!
             Sungguh sering kami membuatmu menangis, sedih, terharu, bahkan sakit hati.
            Tak ada kata-kata yang sanggup mendeskripsikan pengorbanan, kasih sayang, dan             cinta seorang ibu terhadap anak-anaknya.
            Apakah dengan kata luar biasa? Menakjubkan? Dahsyat? Sungguh setiap peluh.
            dan setiap cintanya tak sebanding dengan kata-kata tersebut.
           Darinya, kita semua lahir di dunia. 
           Kita mengecap indah dan pahitnya kehidupan manusia.
          Semua tentu mewarnai cakrawala kita, menjadikan hidup ini penuh hikmah.
          Ya, sosok lembut penuh kasih sayang itu begitu luar biasa.

"Bagiku, Hati terkuat adalah hati seorang ibu. Ia akan mengalah untukmu. Dan selalu akan memaafkan kesalahanmu. Ketahuilah, Itu adalah cinta terbaik. Terimakasih ibu untuk setiap kecupan do'a yang selalu hadir untukku ( Panji ramadhan, 2015)".

Saat ada masalah, saat batin teraniaya, bahkan saat fisik tak mampu berdiri kokoh. maka pulang kerumah ibu. 

        "Karena rumah seorang ibu bukan seperti hati kekasih. hati seorang ibu adalah hati yang bisa kau datangi lagi setelah kau tinggal begitu saja. tanpa mengakui dosamu pun kau bisa pulang dan masuk kedalamnya sesukamu. Sedangkan hati kekasih ' saat kau pergi, ada atau tidak orang baru yang menempati, sesungguhnya luka selalu menghuni hati yang di tinggal tanpa hati. jadi ingat, ketika terluka bahkan teraniya, pulanglah kerumah dan hati serta relung seorang ibu, dan kamu akan menemukan kebahagian yang tak terhingga"

Terimakasih ibu untuk semua kebahagiaan serta kasih sayang yang tak terhingga.


Salam manis.
(Anakmu tersayang). 
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar