Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Makna Dibalik Peristiwa



Oleh
Nur Sholikhah


            Di bangku kuliah ada saja pengalaman-pengalaman yang mungkin memberikan kita sebuah kenangan dan pelajaran tersendiri bagi kehidupan kita. Salah satunya adalah ketika saya terpisah dari teman-teman saya di semester 2. Peristiwa itu bermula saat di bukanya KRS (kartu rencana studi) online semester genap. Teman-teman saya lebih dahulu menyelesaikan KRS di hari-hari pertama pembukaan. Sedangkan saya menyelesaikan KRS di pertengahan karena saya tidak memiliki akses internet di rumah. Saya harus mencari warnet yang jaraknya lumayan jauh dari rumah saya.

         Sebelum berangkat mengurus KRS di warnet , dalam pikiran saya tidak terlintas sedikitpun jika kemungkinan kuota kelas pada offering saya akan penuh karena terisi oleh mahasiswa dari kelas lain. Saat itu saya begitu santai dan tidak memikirkan kemungkinan terburuk jika tidak segera mengurus KRS online. Setibanya di warnet saya langsung membuka siakad bagian rencana studi dan saat itu juga saya begitu kaget karena kuota pada kelas saya rata-rata sudah penuh. Alhasil saya harus mengambil kelas lain dan menyesuaikan jadwal agar waktunya tidak bentrok antar mata kuliah. Dengan terpaksa saya harus mengambil 4 kelas yang berbeda.

            “ya Allah ,bagaimana ini ?” batinku saat itu. Ingin rasanya aku menjerit untuk mengurangi rasa gelisah ini. Bagaimana tidak ? saya terpaksa mengambil kelas lain dan itu berarti saya akan masuk pada kelas baru, bertemu dengan teman-teman baru dan pastinya harus beradaptasi kembali. Aku membayangkan saat perkuliahan di mulai, mereka akan memandangi saya ketika dosen memanggil nama saya saat membacakan absen karena saya adalah anak asing di kelasnya. Belum lagi saat tugas kelompok dibagikan, mau tidak mau saya harus bergabung dengan mereka, mengajak ngobrol mereka, sementara saya adalah tipikal orang yang tidak bisa langsung akrab dengan orang yang baru saya kenal. Bagaiman nasib saya nanti ? apakah saya akan menjadi orang bisu di dalam kelas. “ya Allah kuatkan hamba”.


             Akhir bulan Januari 2016, perkuliahan awal semester genap telah di mulai. Hari pertama saya awali dengan baik-baik saja karena saya berada di kelas asli saya dan bertemu dengan teman-teman lama yang sudah begitu akrab. Tapi di hari yang kedua dan seterusnya saya harus berada di 4 kelas yang berbeda. Bisa di bayangkan setiap harinya saya bertemu dengan teman-teman baru dan mencoba berinteraksi , beradaptasi serta bersosialisasi dengan mereka semua.

             Awalnya saya begitu takut,saya hanya bisa terdiam di kelas. Saya berbicara dengan mereka jika ada keperluan saja. Saya mencoba beradaptasi dengan berbagai macam orang dan perbedaan. Setelah sebulan lebih saya menjalaninya, saya merasakan ada pelajaran baru dalam hidup ini. Pelajaran yang begitu berharga , pelajaran yang mengantarkan saya ke keberanian untuk berkomunikasi dengan orang lain. Memang awalnya sangat sulit berhadapan dengan orang-orang yang berbeda setiap harinya. Namun lama kelamaan kesulitan itu memudar, saya mulai berani mengajak berbicara , bercanda dan menyapa saat bertemu di jalan.

           Disinilah saya mulai memahami rencana allah , ternyata allah  merencanakan semua ini karena ingin memberikan saya pelajaran berharga. Saya di tempatkan di beberapa kelas yang berbeda agar saya bisa belajar bersosialisasi dan berkomunikasi dengan berbagai macam orang. Disini saya juga mengenal banyak teman yang memudahkan saya dalam mencari informasi. Dulu waktu semester 1 saya hanya mengenal sedikit teman, sehingga saat di jalan jarang ada yang menyapa saya, andaikan ada itupun paling teman sekelas atau teman waktu ospek dulu. Berbeda dengan sekarang, ketika berada di area kampus ada saja yang menyapa saya, entah itu di gedung perkuliahan, di perpustakaan, di jalan , di masjid dan lain sebagainya. 

           Pengalaman itu membuat saya semakin paham dan mengerti bahwa jika peristiwa yang tidak kita harapkan terjadi, maka di balik peristiwa tersebut menyimpan sebuah makna dan pelajaran tersendiri. Meski kita tahu kalau peristiwa itu terkadang sulit untuk kita lalui. Namun disana ada hal yang ingin Allah tunjukkan pada kita, hal itu sangatlah tersembunyi. Sehingga kita tak bisa memaknai secara langsung, butuh sebuah proses dan perenungan. Kita tidak bisa menganggap peristiwa itu sebagai sebuah musibah jika kita melihatnya hanya dalam sekejap mata. Akan tetapi kita butuh untuk memandangnya lebih lama , agar kita tahu dampak dan akibatnya dalam kemajuan hidup ini. 



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
BUKIT CEMARA TIDAR
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar