Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PUNCAK IBADAH, MENUJU SEBUAH PERTEMUAN BESAR




Kebersamaan, kekuatan, kekokohan, keteguhan, persekutuan, pertautan, kesatuan itulah harapan Islam yang sebenarnya, bukan; permusuhan, perbedaan, perkelahian, pertikaian, pertengkaran, kericuhan, persengketaan, antar umat Islam. Seperti ka’bah yang memiliki tembok-tembok yang kuat, dengan pondasi yang kokoh, maka percintaan ruh dan diri seseorang dibangun oleh muslim antar negara di dekat ka’bah, agar perkumpulan atau organisasi (tahwaf) berangkat dari sebuah cinta dan selalu dekat dengan Tuhan (baitullah). Maka, membangun sebuah perkumpulan, persatuan, atau organisasi bukan hanya dilandasi oleh materi, kepentingan pribadi, egosime, kedirian, iri, dan dengki, tetapi berlandaskan cinta kepada Allah dan Rasulnya. Itulah, seluruh ibadah, di antaranya adalah Haji, tidak hanya materi yang dikorbankan, tetapi juga jasmani dan ruhani, dan itupun harus meniru apa yang dilakukan oleh Nabi, kalau tidak, maka hanya sebuah kesia-siaan.
Pertama kali yang dilakukan muslim adalah persaksian (syahadat) sebelum melakukan empat rukun Islam (shalat, puasa, zakat dan haji). Kalau empat rukun dilakukan dan belum melakukan persaksian, maka keempatnya tidak dapat diterima. Kesaksian di sini, adalah bentuk pengakuan, bahwa apa pun yang dilakukan nantinya hanyalah untuk Allah, proses menuju Allah, dan kembali kepada Allah. Disinilah semuanya dibangun, dibangun atas nama Allah, karena tidak ada artinya sebuah kehebatan, jika ia membangunya atas nama selain Allah, hanya akan berakhir pada kesombongan. Maka, setelah persaksian selesai, tidak kemudian berhenti hanya selalu bersama Allah, sendirian. Tetapi ia akan bergumul dengan keluarga, tetangga, sahabat, dan orang banyak, disinilah persaksian dan rukun Islam yang empat benar-benar dapat menjadi cerminan yang luar biasa.
Sebagai contoh, seseorang yang memiliki sahabat, maka bagaimana sahabantnya mengakuinya (persaksian), melakukan intraksi dengan inten, bersilturahim hati, pikiran, dan jasad (shalat berjamaah). Menjaga persahabatan, dengan menjaga; rahasianya, dirinya, darahnya, kehormatannya (puasa). Dan memberi bantuan (zakat) jika tidak mampu dalam menghidupi dirinya, keluarganya. Dan tidak cukup dengan menjaga kehormatannya dan mebantunya, tetapi harus selalu ada silturahim (haji) dengannya, dan semuanya dilandaskan dengan cinta pada Tuhan. 
Ibadah seseorang yang paling nyata adalah prilakunya yang baik kepada sesamanya. Jika seseorang yang terkenal baik ibadahnya; karena banyak melakukan peribadatan kepada Tuhan, tetapi dia jahad kepada keluarganya, sahabatnya, dan sesama manusia atau makluk Tuhan lainnya, maka nilai ibadahnya tidaklah ada artinya; Tidak akan masuk sorga, seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan-kejahatannya”. (HR al-Bukhoriy).  "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saq ar (neraka)?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian". Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at." (QS. Al-Muddaththir ayat 42-48). Dan banyak sekali hadis yang menjelaskan hal tersebut, bahwa bagaimana ibadah itu berbanding lurus dengan akhlaqnya, kepada Tuhannya dan kepada sesamanya. 
Pertemuan, persaudaraan, persahabatan, dan persatuan adalah hal yang sangat penting dari keberagamaan seseorang, maka mari kita eratkan persatuan, persahabatan dan kesatuan, sebegaimana Allah berfirman, “wa’tashimu bihablillahi jamia walatafarroqu; berbegang teguhlah dengan tali Allah, dan janganlah kalian bercerai berai”. Mari kita satukan tempat dan waktu menuju perkenalan, pengetahuan, ma’rifah (arafah), sebagaimana syariat mewajibkan kepada jamaah haji untuk berada di Arafah, di waktu  dan tempat yang sama, walau berbeda-beda suku, bangsa dan bahasa. Sebuah pertemuan besar, menuju umat besar, dengan persatuan dan pengetahuan yang dalam. []
Halimi Zuhdy
PP. Darun Nun Malang.
Share on Google Plus

About Halimi Zuhdy

Penulis puisi berbahasa Indonesia dan Arab (sudah 7 Antologi yang ditulis), Penulis buku Pembelajaran Bahasa Arab, Pendidikan Bahasa Arab, Lingkungan Bahasa, dan lain sebagainya. serta terpanggil untuk menjadi Da'i dan mengaji diberbagai pondok di Malang. sekarang menjadi Dosen Tetap UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan pembina mata kuliah Sastra Arab Modern, Folklor Arab, Teori Sastra, dan Al-Arabiyah Li Aghrad Khassoh. serta mengajar Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Arab di Pascasarjana UIN Malang
menjadi Ketua Redaksi Jurnal LiNGUA Humaniora UIN Malang, dan menjadi Khodim Pondok Pesantren Darun Nun Malang.
Pernah belajar di King Saud University dan Menyelesaikan Doktoralnya di Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Menjadi Motivator Menulis, Pembelajaran Bahasa dan Sastra.

0 komentar:

Posting Komentar