Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

GURU CINTA


Mengalun, menghentak dari keheningan. Sebuah pergulatan antara iya dan saya.
Terkadang kabut melekat di sudut-sudut pikir
Kebosanan, kepenatan, tanpa henti berpusing liar
Jemari terbuka, hanya ingin merajut kabar cinta
Guru cinta
Guru warna
Pagi bersama ranting mega tengadah membuka buku-buku sakti tentang tuhannya
Sang guru
Ajari bunga rekah menjerit, semaunya, sesukanya
Bunga-bunga ilalng tercemar hama.
Tahu, segala saraf di tepian kabut beriak “kau tak mungkin bisa!”
Hama terlalu bersuka bersama bunga. Tapi guru cinta terlalu bodoh untuk berkata iya, dan tidak untuk tidak
Dirimu padamu telah sampailah pada hukum rajut. Rajutan tentang bunga
Biarlah bunga tak sapa, cukup sebuah cinta dari maha guru cinta merobohkan segala hama
Satu satu
Dua dua
Biar riwayat bunga merekah, biar bunga menjerit
Indah jadi punya makna
Guru cinta
Bersabdalah “tuhanmu Satu!”
Bunga melengking riuh di tengah mega tanpa suara
Masih belum
Bercakapan kembali seakan-akan menanti buih di samudra
Kepastian bukan arti semu bagi Guru
Tanda kasih biar serupa malu, tak ubahnya benalu
Sang guru

Amanatul Mubtadiah
Malang, 27 Juli 2016. 09.36 wib

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar