Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Ibadah di Bulan Puasa yang Tertipu Oleh Nafsu Semata

Oleh 
Dewi Fajariyah 
Dikutip dari Tausyiah Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan
(Rois Am Jami'yyah Ahli Thoriqoh Al Mu'tabaroh An-Nahdiyah Indonesia)

Ikhlas itu gampang diucapkan, tapi berat mengamalkannya. Siapa yang tak menginginkan pahala? Tetapi banyak manusia yang lupa siapa pemberi pahala. Hanya Pahala yang dikejar, tapi Sang Pemberi Pahala tidak dikejar. Inilah yang menjadikan diri sulit untuk berbuat Ikhlas.

Perlu diketahui bahwa jauh lebih besar Sang Pemberi Pahala daripada pahala itu sendiri. Ketika kita sibuk dengan memperhatikan pahala atau bahkan mengejar surga maka hakikatnya surga adalah ciptaan Allah, kemudian lebih sibuk mengejar ciptaanNya daripada PenciptaNya maka sesungguhnya itu adalah hal yang semu. Begitupun dengan terlalu takut pada Neraka sehingga melebihi rasa takut pada TuhanNya. 
Dapat diumpamakan jika kita melandaskan segala amaliah (perbuatan) kita hanya karena Allah maka akan merasakan khouf (takut) yang sebenarnya, mutiara yang sebenarnya. Sehingga jika kita berenang pada lautan yang luas bisa menemukan mutiara yang tak ternilai harganya.
Al-Ikhlas kulluhu min nurillah, ikhlas adalah cahaya dari Allah. Dimana cahaya Allah yang menerangi hati kita, sehingga mencapai makna ikhlas yang sebenarnya. Jika telah menggapai itu maka ketika melakukan ibadah terasa berat maka lama-lama akan mendapatkan sebuah kenikmatan. Kenapa? karena melandaskan ibadahnya adalah karena Allah semata.
Contohnya puasa Ramadhan, siapa yang tidak lapar ketika puasa Ramadhan, siapa yang bekerja keras kala itu kemudian tidak dahaga. Namun jika manusia mampu merasakan kenikmatan ikhlasnya ibadah karena Allah, bahkan Allah akan beri kenikmatan yang luar biasa kepada orang yang berpuasa. Seolah-olah ingin diperpanjang waktu puasanya atau ingin diperpanjang buka puasanya, itu bagi yang mampu menikmati puasanya.
Terkadang tertipu oleh nafsu semata, misalnya membaca al- Qur'an saat puasa Ramadhan bisa jadi bukan karena Allah. Terlihat seperti karena Allah tetapi sebenarnya Menghibur Nafsu. Karena kita ini biasanya membaca al- Qur'an 1 juz bisa setengah jam berarti kalau 2 juz dibaca dalam waktu 1 jam. Memulainya dengan bismillahirrahmanirrahiim dan asyik benar, tetap sedikit-sedikit matanya melihat jam dinding sudah jam berapa. Jadi nafsunya dihibur oleh qiroatil Qur'an.
Maka dari itu di bulan Ramadhan ini digunakan untuk melatih diri dari tipuan nafsu dalam bertindak maupun beribadah. Kalau sudah tidak tertipu oleh nafsu maka kita mampu mencapai maqomatul ikhlas (tingkatan ikhlas). Kita bangga dan ikhlas diperintah Allah sholat 5 waktu, kita bangga dan ikhlas diperintah Allah untuk berzakat, kita bangga dan ikhlas diperintah Allah menjalankan puasa. Tidak lepas dari semua itu, kita akan dipanggil oleh Allah dengan "Yaa Ayyuhalladziiina Aamanuu" (Wahai orang-orang yang beriman). Jika bisa menikmati panggilan Allah dengan Yaa Ayyuhalladziinaa Aamanuu, mestinya kita malu. Sehingga solusinya adalah dengan terus memperbaiki kualitas hati untuk terus ikhlas dalam segala perintah Allah dan sunnah RasulNya.

Wallohua'lam Bishowab
Minggu, 12 Juni 2016
Perum Bukit Cemara Tidar
Karang Besuki-Sukun 
Kota Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar