Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

POTENSI PESANTREN SEGABAI AGEN TEKNOLOGI



Oleh: Risalatul Munawwaroh

Saat ini, banyak sekali persoalan bangsa yang tak kunjung usai, mulai dari keterpurukan ekonomi, krisis kepemimpinan, krisis moral, krisis lingkungan hingga ancaman terorisme mengharuskan semua komponen bangsa untuk siap siaga dan ambil bagian sebagai problem solver. Tak terkecuali pesantren dengan berbagai macam potensinya yang masih tersembunyi mempunyai satu tantangan besar untuk memberikan konstribusi yang nyata  bagi masyarakat dan bangsa.

Sebagai lembaga tertua dan asli Indonesia, pesantren diharapkan bisa menjadi tumpuan harapan dalam mencetak generasi handal dan bermoral terutama bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah. Pesantren bertindak sebagai agen perubahan dalam masyarakat Indonesia supaya memfasilitasi pengembangan masyarakat. Pesantren dapat menjadi tempat penyemaian pemimpin masa depan dalam banyak bidang. Pesantren juga berpotensi besar menjadi wadah pencetak enterpreneur yang bisa menggerakkan potensi ekonomi masyarakat. Selain itu, dengan keunikan dan kekhasannya, pesantren bisa menjadi kebanggaan kita bersama sekaligus cagar budaya dan nilai-nilai keIndonesiaan di era global.
Menurut Gus Dur “Pesantren itu bersifat dinamis, terbuka pada perubahan dan mampu menjadi penggerak perubahan yang diinginkan” . Pesantren bahkan juga menjadi pusat pengembangan masyarakat dalam berbagai bidang, meliputi ekonomi rakyat seperti koperasi dan usaha kecil, teknologi tepat guna, kesehatan masyarakat hingga pada konservasi lingkungan.
Pesantren yang terbukti mampu bertahan di tengah banyaknya perubahan yang cepat dan berdampak luas, membuatnya menjadi harapan masyarakat sebagai pendidikan alternatif yang di dalamnya tidak hanya mencakup pendidikan umum, tetapi juga pendidikan kemasyarakatan yang kelak akan memberikan nilai tambah ketika terjun langsung ke masyarakat. Namun sayang, banyak potensi pesantren yang belum banyak tergali. Yang terjadi justru sebaliknya. Lembaga yang seyogyanya adalah tempat kaderisasi ulama’ dan cendekiawan ini disebut sebagai sarang teroris, sarang kejumudan, stagnansi, konservatisme dan tempat perkecambahan radikalisme di indonesia.
Pesantren sering dianggap sebagai lembaga yang menjadi penghalang besar bagi usaha-usaha pembangunan. Pihak pesantrenpun acapkali terlalu menutup diri. Sebagaimana kita ketahui, kurangnya fasilitas, dana dan tenaga profesional di lingkungan pesantren mengakibatkan lulusan pesantren yang jumlahnya cukup signifikan seringkali menjadi gagap saat terjun ke masyarakat. Sulit mencari kerja dan kalaupun bekerja mayoritas dari mereka menjadi pekerja tidak profesional dan tidak sedikit pula yang menganggur padahal biaya dan waktu yang mereka habiskan tidak sedikit bisa hingga belasan tahun hampir sama dengan mereka yang mengenyam pendidikan formal hingga lulus dari perguruan tinggi. Ketika bergabung di masyarakat, para santripun akan menghadapi tantangan yang tak kalah kompleks di era global. Tidak hanya masalah skill, banyak lulusan pesantren yang kurang percaya diri ketika harus bersaing dengan alumni dari pendidikan lembaga umum.
Dalam konteks ini, adanya pesantren teknologi tepat guna bisa menjadi fasilitator untuk meningkatkan sumberdaya manusia (SDM) khususnya alumni pesantren.  Salah satu pesantren teknologi tepat guna yang tidak hanya mempelajari kitab kuning, namun juga berusaha mengembangkan teknologi, di antaranya adalah pesantren Al Islamu Al Ainul Baahiroh, yang beralamat di Jl. Semeru, Kepanjen. 
Sebagaimana pesantren pada umumnya, di lembaga pendidikan Islam bernama Pesantren Al Islamu Al Ainul Baahiroh  terdapat masjid, rumah kyai, tempat tinggal santri,  dan tempat belajar. Sehari-hari kegiatannya serupa dengan pesantren pada umumnya. Para santri mengaji al Qur’an, mempelajari kitab kuning, dan mengikuti bimbingan kyainya melakukan berbagai jenis kegiatan ritual. Hal yang membedakankannya dari  pesantren dahulu pada umumnya adalah bahwa di lembaga pendidikan Islam itu dilengkapi dengan jenis pendidikan tingkat menengah, yaitu  SMK Industri Al Kaffah.
Tradisi pesantren yang dikombinasikan dengan lembaga pendidikan umum  berjenis ketrampilan itu terasa ideal. Siapa saja yang belajar di tempat itu diajak memahami agamanya secara mendalam, tetapi juga dibimbing untuk  mengetahui tentang sains dan teknologi.
Sekalipun SMK Industri Al Kaffah yang berada di pesantren Al Islamu Al Ainul Baahiroh ini belum begitu lama, yaitu baru dimulai pada akhir tahun 2009, tetapi hasilnya sudah kelihatan sangat membanggakan. Para santri pondok pesantren ini sudah berhasil menciptakan berbagai jenis produk teknologi berupa lampu bola listrik. Hasil produk para siswa SMK Industri Al Kaffah atau santri pesantren tersebut, ternyata kualitasnya tidak kalah dibanding produk lainnya yang telah memiliki nama atau merk dan  banyak dijual  di pasaran. Dengan perkembangan itu, pesantren tidak lagi dikesankan sebagai lembaga pendidikan yang tertinggal dan  orientasi  lulusannya tidak jelas, melainkan justru  sebaliknya. Pesantren yang demikian itu justru akan menjadi pelopor dalam menyelesaikan problem pendidikan ke depan.
Memang, belum semua pesantren membuka sekolah formal seperti di SMK Industri Al Kaffah. Masih banyak pesantren yang bertahan dengan ciri salafnya. Dibukanya sekolah umum di pesantren, dan kemudian diajarkannya sains kepada para santri,  seringkali masih menimbulkan pertanyaan dari beberapa kalangan. Pertanyaan itu misalnya,  untuk apa para santri diajari biologi, fisika, kimia, matematika,  dan lain-lain.  Apakah ada kaitan antara  pelajaran umum tersebut dengan ajaran Islam? Apakah dengan adanya pelajaran tersebut tidak akan mengganggu  tugas pokok para santri yaitu mengkaji kitab kuning?
Apabila tujuan para santri di pesantren belajar biologi, kimia, fisika, matematika dan lain-lain  hanya agar lulus ujian dan  mendapatkan ijazah tentu  sangat rugi. Seharusnya mencari ilmu bukan sekedar untuk mendapatkan ijazah, tetapi seharusnya dikaitkan dengan tugas atau kewajiban memenuhi tuntutan  ajaran Islam itu sendiri yaitu  untuk mengenal Sang Pencipta Allah SWT. 
Kita sebagai umat Islam dianjurkan untuk merenungkan dan memikirkan penciptaan langit dan bumi melalui al Qur’an.  Di dalam al Qur’an pula terdapat konsep yang sedemikian  indah, yaitu ulul albab.  Sebagai penyandang identitas ulul al-baab seyogyanya kita bisa mengimplementasikan perintah al Quran dalam kegiatan belajar  sains dimaksud. Akan tetapi belajar sains tidak sekedar belajar untuk mempersiapkan ujian agar lulus dan memperoleh ijazah dan atau sekedar memenuhi ketentuan kurikulum, melainkan seharusnya disadari bahwa hal itu adalah untuk memenuhi perintah al Qur’an.
Umat Islam harus mengenal Tuhannya sampai pada puncak religiousitas, yaitu  hingga yang bersangkutan  menyadari kebesaran Sang Pencipta, Allah swt.. Sebagai caranya adalah  dengan mempelajari  ciptaan-Nya. Jika demikian itu niat dan maksudnya,  maka belajar sains khususnya di pondok pesantren, adalah memang perlu dan tidak boleh ditinggalkan.


Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

1 komentar: