Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Pendidikan Kemasyarakatan dalam Lingkup Pesantren, Perlukah?

Oleh:
Indah N
 

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memiliki kecenderungan untuk ingin mendapatkan segala pelayanan yang terbaik. Dimulai dari yang paling kecil, hingga menyangkut urusan yang paling kompleks. Esensi ini tidak akan mampu dipisahkan dari kenyataan hubungan timbal balik yang secara langsung dijalani dan dialami manusia dalam kehidupan sehari - hari. Manusia akan senantiasa mendapatkan pelayanan, dan sebaliknya juga dituntut memberikan pelayanan kepada sesama. Sehingga dari hal ini muncullah konsep tolong-menolong dan tumbuhlah itikad yang dinamakan saling mengenal. Pada akhirnya, istilah makhluk sosialpun senantiasa melekat pada setiap individu, dengan dibuktikan bahwa seseorang akan membutuhkan kontribusi dari pribadi yang lain. Hal inilah yang kemudian menjadi cikal bakal karakter seseorang tertanam dalam dirinya.

Merujuk pada sisi dunia pendidikan berbasis keagamaan, pesantren tidak dapat dipisahkan begitu saja dalam kontribusinya membentuk karakter anak bangsa. Kepribadian yang tumbuh dalam diri santri akan terlihat seiring pertumbuhan  individu baik ketika berada pada lingkup pertemanan, keluarga, maupun masyarakat di sekitar tempat tinggal. Dalam pokok bahasan ini, Aris Adi Laksono memiliki gagasan bahwa:

“Karakter terbentuk atas kebiasaan dan pembiasaan tertentu, dapat diamati dalam sebuah prilaku yang ajeg, istiqomah, terus menerus. Tentu banyak faktor yang mempengaruhi terbentuknya karakter tertentu, mulai dari nilai intrinsik dan ekstrinsik. Lingkungan tentu faktor yang sangat besar mempengaruhi karekter tersebut. Santri identik dengan lingkungan pesantren, maka kehidupan pesantren adalah karakter yang melekat pada santri. Jiwa yang religius, sikap sosial yang akomodatif adalah bagian dari karakteristik lingkungan pesantren.”[1]

 

Pendapat diatas seakan mengiyakan bahwa lingkungan merupakan sumber penentu besar bagi terbetuknya karakter seseorang, termasuk santri. Kepribadian yang tumbuh dapat dikatakan bagian dari proses yang berlangsung dalam masyarakat apabila merekapun melakukan interaksi satu dengan yang lain. Semakin luas cakupan masyarakatnya, maka kemungkinan berkembangnya karakterpun juga semakin tinggi. Dengan ini, pendidikan kemasyarakatan dirasa perlu untuk digagas, sebab dari sanalah seorang santri mampu memunculkan karakternya, melihaikan tata cara bagaimana ia harus berhadapan dengan khalayak, menggunakan jiwa sosialnya untuk keperluan umat, dan sebagainya. Lebih-lebih mengenai cara bagaimana ia mampu agar dapat diterima dalam masyarakat, juga dalam rangka problem solving manakala terdapat permasalahan di dalam area yang besar.Disinilah letak keurgentan dari suatu hidden curriculum bila sebuah golongan menerapkan pendidikan kemasyarakatan.

 Mengingat kembali bahwasanya pesantren dinilai akan memiliki keluaran yang banyak memiliki pengaruh di tengah masyarakat. Satu persatu peran dalam masyarakat akan  dipikul juga oleh sosok santri. Dalam Tri Darma Pondok Pesantren dipaparkan bahwa:[2]

1.      Peningkatan keimanan dan ketakwaan pada Allah,

2.      Pengembangan ilmu yang bermanfaat, dan

3.      Pengabdian kepada masyarakat

 

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya” (HR. Bukhari 5589, Muslim 70)

Seruan untuk memuliakanpun telah terpampang dalam kandungan hadits di atas. Konsep memuliakan inipun  Maka bagaimanapun bentuk tetangga yang dipunya,

Namun sayangnya, pemaksimalan prinsip di atas belum begitu mampu terealiasasi secara sempurna, utamanya dalam aspek pengabdian masyarakat. Dalam beberapa tipikal pesantren tertentu, Secara realita, pesantren selama ini memiliki ruang pembatas/sekat yang menjadikannya sebagai dinding pembatas antara lingkup mastyarakat sekitar pesantren. Santri memiliki batasan ruang lingkup yang terbatas, sehingga daya untuk melakukan interaksi, sosialisasi dan segala bentuk aktifitas dengan masyarakatpun belum mampu terlihat sebagai suatu hal yang besar. Hal ini layak menjadi sorotan.

Sehingga pada akhirnya pesantren ideal yang sesuai dengan yang ada pada Tri Dhara Pesantren mampu diwujudkan secara realistis dan berkepanjangan. Nantinya dalam pendidikan kemasyarakatan inipun diharapkan tidak hanya dilaksanakan secara teoritis, akan tetapi juga secara praktis di lapangan.. Sehingga, dalam hal ini jawaban akhir dari penulis ialah perlu, untuk diberlakukannya pendidikan kemasyarakatan. Pola yang diberikan dalam proses pendidikan ini tentunya tidak sekedar teoritis semata, namun dapat diwujudkan melalui hal-hal berikut:

1.      Pemberlakuan kegiatan abdi mengajar bagi masyarakat sekitar pondok pesantren

Mengingat bahwa seorang santri tidak hanya dituntut untuk mengambil manfaat dari ilmu yang telah diajarkan oleh sang guru, namun seyogyanya ia mampu menularkan kembali kepada masyarakat, demi nilai kemanfaatan yang l kemanfaatan yang lebig=h meluas.

2.      Pelibatan santri melalui kegiatan gotong royong

Dalam hal lingkungan,sudah seayaknya antara sanntri dan masyarakat lingkup pesantren memiliki kesadaran untuk menjaga dan memelihara lingkungannya. Ini merupakan salah satu kunci dimana proses bekerja sama  dan saling tolong menolong dapat terbentuk.

 
Dengan bebebtapa jalan di atas, maka usaha untuk terbentuknya hubungan yang sinkron dan harmonis antara santri dan masyarakat sekitar pondok pesantren.

 

Referensi:


 
 






[2]Aje Ajengan Cipasung Biografi KH. Moh. Ilyas ruhiat
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar