Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Kasih Sayang Yang Tiada Batas



oleh 
Nur Sholikhah 


Kesuksesan seorang anak tidaklah lepas dari pengorbanan kedua orang tua. Jadi apapun dirimu saat ini tak lepas dari doa-doa tulus ayah dan ibumu di setiap malam yang sunyi. Air mata yang mengiringi doa-doa itu begitu hangat, sehangat kasih sayangnya sepanjang hidup ini.

Saat kau baru terlahir di dunia ini, ayahmu mengumandangkan adzan di telinga kananmu lalu ibumu memelukmu dengan penuh rasa bahagia. Mereka sangat menyayangimu lebih dari diri mereka sendiri. Setiap malam kau menangis dan mengganggu istirahat mereka, namun ibumu dengan sabar menggendong dan berusaha menenangkanmu.

Ketika kau mulai belajar berjalan, ayah dan ibumu lah yang menuntunmu. Saat kau jatuh,kedua  tangan ibu dengan sigap menolongmu. Kedua tangan itu pula yang memandikanmu, mencuci bajumu, membuatkanmu masakan yang kau sukai, hingga tangannya terluka karna goresan pisau dapur. Namun ia tak memperdulikan itu, kedua tangannya  terus melakukan banyak hal untukmu.


Begitupun dengan ayah yang telah memenuhi kebutuhan hidupmu dengan jerih payahnya. Panasnya matahari dan dinginnya air hujan tak menghalangi ia untuk bekerja.

Jika ayahmu adalah seorang buruh tani, maka bayangkanlah sebesar apa ia telah berkorban untukmu. Teriknya matahari di sawah yang membakar kulitnya tak membuatnya gentar, meski keringat membasahi tubuhnya yang terasa begitu lelah ,ia tetap bekerja dengan penuh semangat demi masa depanmu, ia memikul tanggung jawab yang besar untuk membesarkanmu dan  memberikan pendidikan yang layak untukmu. Terkadang ia diberi dengan upah yang rendah, sehingga ia harus mencari pekerjaan sampingan untuk menutupi kebutuhan ekonomi .

Dan ibumu dirumah merawat anak-anaknya , membesarkan dengan penuh kasih sayang. Tak pernah terdengar keluh yang ia lontarkan , meski sebenarnya tubuhnya terasa begitu lelah dan sangat lelah mengurusi pekerjaan rumah. Saat kau kecil, kau tumpahkan mainan yang di buat ayahmu di semua tempat, sehingga ibumulah yang harus membereskannya. Dengan sabar ia mengambilnya satu persatu dan meletakkan di tempatnya kembali. Namun kau tumpahkan lagi mainan itu, dan ibu tetap tak pernah mengeluh karna ia memaklumi sikapmu sebagai anak kecil.
ketika kau menginjak usia remaja, kau mulai asyik berkumpul dengan teman-temanmu daripada dengan orang tuamu. Kau mulai jarang menceritakan hari-harimu kepada ayah dan ibumu. Hingga kau beranjak dewasa dan merantau ke kota lain untuk menuntut ilmu atau mencari pekerjaan, kau sangat merindukan kampung halamanmu. Tapi rasa itu hanya untuk sementara waktu saat kau masih beradaptasi dengan lingkunganmu yang baru. Setelah kau menemukan kenyamanan di tempat barumu itu, kau mulai jarang pulang ke kampung halaman untuk menjenguk kedua orang tuamu bahkan kau tak menghubungi mereka.

Apakah kau tahu ,betapa mereka sangat merindukanmu dan berharap kau mau berjumpa dengan mereka walau hanya untuk sekejap saja. Ayah dan ibumu selalu berdoa di setiap malam untuk kebahagiaanmu, namun kau tak pernah mengingat mereka berdua.

Dan ketika usia mereka sudah renta dan butuh kasih sayang darimu, kau malah bersenang-senang dengan keluargamu. Ayah dan ibumu masih tetap berharap kehadiranmu, doa-doa itu juga masih terlantun di kedua bibirnya yang rapuh. Sampai tiba saatnya kau melihat tubuh mereka terbujur kaku, bukan karena mereka kedinginan atau tersengat listrik. Mereka telah kembali kepada Tuhannya , kedua matanya tertutup dan tak bisa lagi memandang wajah anaknya yang sangat ia nantikan kehadirannya saat masih hidup. Mulutnya terbungkam dan tak bisa memberikan nasihat-nasihat bijak kepadamu. Kedua tangannya , iya kedua tangannya yang telah melakukan banyak hal untukmu, kini telah kaku dan tak bisa lagi membelai wajahmu dan mengusap air matamu.

Dihatimu yang ada hanyalah penyesalan , penyesalan atas semua kesalahanmu yang telah menyia-nyiakan kedua orang tuamu saat masih hidup. Penyesalan karna tak bisa menemani dan merawatnya  di masa tuanya yang butuh kasihsayang darimu. Kau ingin berteriak sekencang-kencangnya kepada dunia bahwa kau sangat mencintai ayah dan ibumu. Tapi itu sudah terlambat ,penantian mereka telah kau abaikan. Kau tak bisa lagi memandang wajahnya , mendengar suaranya , melihat senyumnya dan menatap teduh kedua matanya.

Pesan : selama kedua orang tua kita masih ada, maka sayangilah mereka. Temani dan rawatlah dengan sepenuh hati ketika mereka sudah beranjak di masa senjanya. Jangan sia-siakan mereka selagi masih hidup. Karna ada saatnya Tuhan mengambil mereka dari kita dan kita akan kehilangannya untuk selama-lamanya.




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
BUKIT CEMARA TIDAR
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar