Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Cinta Suci Darinya

 oleh 
Nur Sholikhah

            Saya selalu teringat tentang peristiwa itu, sebuah peristiwa yang memulai perjalanan ini. Peristiwa yang membuktikan bahwa kasih dan sayangnya selalu ada sepanjang masa. Cinta kedua orang tua kepada anaknya, cinta abadi yang kan selalu bercahaya dalam hidupku, cinta yang menguatkanku dalam keadaan sesulit apapun, cinta yang membuatku sadar bahwa kehadirannya memang sangat berarti untukku.

          Peristiwa itu terjadi sudah setahun yang lalu saat aku menjadi mahasiswa baru pada salah satu universitas negeri di kota Malang ini. Waktu itu aku melakukan registrasi di kampusku dengan diantar oleh ayahku. Kami menyiapkan semua keperluan dan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk proses registrasi. Kami berangkat pagi dan sampai di kampus sekitar pukul 9, saat itu cuaca di kota Malang sangat panas. Sesampainya di kampus kami mencari sebuah gedung tempat registrasi, aku dan ayahku berkeliling kampus, bertanya kesana kemari dan akhirnya menemukannya. Aku begitu lelah karna berjalan kaki mengitari kampus yang luas ini, kulihat wajah ayahku, ia tampak letih ,keringatnya membasahi kulit wajahnya yang keriput karna usianya yang sudah lebih dari setengah abad. 

                Aku bertanya kepadanya ,”Ayah lelah?”.

                “Tidak nak. Ayah tidak lelah.” Jawabnya  sambil tersenyum.


              Aku tahu ayah berbohong kepadaku, aku tahu dia sangat lelah karna berjalan kaki begitu jauh. Dari situ aku mengerti maksud kebohongan ayah, ia tak ingin membuatku gelisah, ia menyembunyikan rasa letihnya di hadapanku. Sesaat kemudian aku masuk ke dalam gedung, ayah menungguku di luar. Beberapa jam lamanya ia menantiku dengan sabar, bahkan ia tak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya hanya karna takut jika aku akan susah untuk mencarinya.

             Sekitar pukul 11 siang, aku sudah menyelesaikan proses registrasi. Aku keluar gedung dan mencari ayahku, dari kejauhan nampak olehku wajah yang penuh dengan kasih sayang menyambut kedatanganku. Ia terlihat begitu bahagia, senyumnya mengembang di sudut bibirnya.

                “sudah selesai nak?”

                “sudah ayah. Ayo kita pulang !”

            Kami pun kembali ke kota asal kami, dalam perjalanan naik bis aku mabuk. Selama perjalanan itu aku bersandar di pundak ayahku dan saat itu pula aku merasakan kasih sayangnya yang begitu hangat. Aku bisa mendengarkan setiap hembusan nafasnya ,aku bisa merasakan beban di pundaknya yang begitu berat sebagai seorang ayah. Pundak yang begitu kuat dan kokoh yang selama ini mengayomi keluarga, memberikan nafkah sepanjang hidupku selama ini.

                Kini sudah setahun aku lampaui peristiwa itu, setiap kali rasa malas menjelma di tubuhku saat itu pula aku selalu mengingat peristiwa itu. Pengorbanan yang selama ini dikorbankan oleh kedua orang tuaku takkan bisa ku sia-siakan, jerih payahnya selama merawatku tak kan bisa kubalas dengan apapun juga. Hanya ini yang bisa kuberikan di sisa-sisa hidupku, sebuah cinta, penghormatan dan pengabdianku.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
BUKIT CEMARA TIDAR
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar