Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Beasiswa di Telapak Kaki Ibu

Oleh Dyah Ayu Fitriana
(Refleksi dari tulisan Irfan amalee)

        Sudah sejak tahun-tahun yang lalu, beasiswa ke Luar Negeri menjadi impian banyak civitas akademik di Indonesia. Dengan tujuan bermacam-macam, ada yang ingin memperjuangkan impian yang telah dirancangnya, ada yang bertujuan membangun Indonesia kelak usai study, ada pula yang ingin jalan-jalan di luar negeri(kalau ini mah nilai plus saja lah ya).
         Namun terlepas apa itu niat awal para peminat beasiswa belajar ke Luar Negeri, dari puluhan ribu yang berkata "ingin" mendapatkannya nyatanya hanya beberapa persen saja yang bisa lolos. ada yang bilang "Wah kalau itu pasti karena kurang serius, hanya bilang ingin saja tapi nggak berani memperjuangkan. Buktinya nggak lolos sekali aja udah nyerah, padahal kan kalau mau usaha ada seabreg beasiswa yang ternyata masih memiliki banyak kuota namun para pendaftar masih belum memenuhi persyaratan."
         Bukan berarti memenuhi persyaratan dan pandai dalam banyak hal serta memiliki koneksi yang menjanjikan  menjadi penentu utama dari kelolosannya. Sebagai seorang muslimah saya meyakini bahwa di luar diri kita ada Yang Maha Berkuasa, yang terkadang "dari kaca mata kita" memilih orang-orang tertentu yang berbeda dengan ekspektasi kita.
        Irfan Amalee, CEO Mizan Aplplication Publisher, juga pernah mengalami hal yang sama yang diceritakan dengan unik dalam bukunya "Beasiswa di Bawah Telapak Kaki Ibu". Beliau mendaftar di banyak sekali beasiswa Luar Negeri dalam rentan 4 tahun dan belum juga mendapatkan hasil yang menggembirakan. Padahal saat itu seorang Irfan Amalee sudah memiliki CV yang sangat meyakinkan dan koneksi yang sangat menjanjikan. Namun semua lamarannya tak satupun lolos.
        Sampai suatu ketika beliau lolos dalam tahap awal beasiswa Ford Foundation di USA. Beberapa tahap sudah dilalui. Tapi ada satu hal yang selalu mengganjal hatinya. Yakni sang ibu yang selalu saja muram dan tidak memberikan izin. Segala hal sudah dicoba untuk membujuk sang ibu agar memberikan izin, namun semua sia-sia. Akhirnya terjawab juga saat interview dilaksanakan, Irfan tak dapat berkutik ketika penguji berkata bahwa beasiswa diperuntukkan orang-orang marginal, bukan orang dengan pekerjaan yang sudah mapan dan koneksi yang orang-orang besar. Sampai dirumah betapa sedihnya Irfan, dan sebaliknya betapa bahagianya sang ibu. Nah bisa terjawab ketika ibu tak ridho susah pula jadinya.
        Namun entah karena apa, lambat laun karena melihat anaknya yang selalu berkata bahwa mendapat beasiswa tersebut adalah impiannya, sang ibu kemudian memberikan izinnya. Dan ajaib sekali, Irfan seketika mendapat telepon dari bagian Ford Foundation bahwa beliau bisa masuk karena ada seorang yang mengundurkan diri. Dan itulah. Ternyata banyak sekali hal diluar dari kemampuan yang menjadi penentu hal-hal kedepan.
        Untuk itu nggak perlu terlalu berbangga dengan apa-apa seabreg kelebihan yang kita punya. Pun nggak perlu minder dengan kekurangan yang ada. Toh semua orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. jika berfokus pada kekurangan maka seorang itu tak akan tumbuh. Namun fokus pada kelebihan dengan tidak merendahkan orang lain, nanti Allah akan mengangkat dengan derajat yang tinggi yang sudah disiapkan oleh-Nya.  
     
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar