Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Baca, Tulis, Lalu Hafalkan!

           Membaca dan menulis merupakan dua aktivitas yang sesungguhnya selalu beriringan satu sama lain. Hasil dari membaca adalah berbagai faedah dan manfaat yang akan diperoleh si pembaca itu sendiri. Setiap orang yang membaca harus mengabadikan dan menyimpan bacaannya agar memperoleh apa yang ia inginkan, sehingga keletihannya tidak sia-sia. Maka dari itu, menuliskannya merupakan bentuk pengikatan terhadap apa yang telah diperoleh. Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh Imam Nawawi, bahwa “Janganlah seseorang merenehkan suatu faedah dalam bidang apa saja yang ia lihat atau ia dengar, tetapi hendaknya ia segera menuliskannya. Lalu, ia tekun untuk menelaah apa saja yang ia tuliskan”. Beliau melanjutkan, Janganlah seseorang menunda-nunda memperoleh faedah, walaupun sedikit. Jika ia mampu melakukannya, meskipun ia merasa yakin untuk tetap mendapatinya saat kemudian. Sebab, menunda-nunda akan mengakibatkan berbagai rencana. Selain itu, karena pada waktu berikutnya ia bisa memperoleh hal yang lain.



          Meskipun menuliskan ilmu dan membukukan berbagai faedah dan manfaat yang ditemui begitu dianjurkan, tetapi jangan meremehkan fungsi menghafal. Sekali kali jangan! Sebab antara keduanya tak ada pertentangan. Berapa banyak orang pintar menyampaikan kesedihan dan penyesalannya terhadap berbagai faedah yang belum sempat ia tulis sehingga hal itu hilang begitu saja. Atau, ia hanya berpegang pada ingatannya, tetapi hafalannya berkhianat. Demikian pula Imam Syafi’i. Sahabat bernama Al Humaidi ketika berada di Mesir mengisahkan sekelumit kisah hidupnya. Ia menuturkan bahwa suatu malam ia keluar dari rumah. Tiba-tiba, ia mendapati lampu rumah Syafi’i menyala, maka ia pun masuk ke rumah tersebut. Disisinya ternyata ada pena dan secarik kertas. Ia bertanya, “Ada apa wahai Abu Abdillah?” Ia menjawab, “Saya memikirkan -makna sebuah hadits-atau sebuah masalah fiqh, namun saya takut jika ia akan sirna, maka saya menyalakan lampu dan menuliskannya.
Jika Anda menelaah biografi dan perjalanan hidup para ulama yang sangat antusias daalm memanfaatkan waktu dan menuliskan faedah yang bermanfaat, maka Anda akan menemukan hal yang sangat menakjubkan. Wallahu a’lam bisshawab. Semoga bermanfaat.
Sekian.



Indah Nurnanningsih
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar