Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TIDAK! SAYA TIDAK MAU


Najim Nur Fauziah

Selama satu minggu terakhir ini banyak sekali hal-hal kecil yag telah saya alami, yang tanpa saya sadari mampu meyingkirkan kebiasaan yang memang sebenarnya tidak ingin saya lakukan. Hari ini adalah hari minggu, yang ritualnya para penghuni kontrakan mulai berdatangan dari kampung halamannya masing-masing dengan membawa se-ambrek makanan. Makanan itu sudah seperti isi warung depan kampus yang dipindah di atas meja di ruang tengah kontrakan kami. Terkadang karena terlalu banyaknya makanan pada hari minggu, makanan tersebut bisa menjadi persediaan kami sampai beberapa hari kedepan. Tidak jarang pula, puluhan koloni semut bersliweran mengelilingi tumpukan makanan, dan bahkan sesekali semut tersebut tak sengaja termakan oleh kami yang membuat kami geli sendiri telah memakannya.
Salah satu dari penghuni kontrakan tersebut adalah saya. Akhir-akhir ini saya mengalami kekhawatiran mengenai BB (berat-badan), sehingga saya putuskan untuk diet. Tentunya ketika saya memutuskan untuk diet, banyak hal yang perlu saya lakukan yaitu salah satunya dengan mengurangi makan dan terlebih lagi untuk tidak makan apapun di malam hari. Nah, suatu ketika,  di hari minggu salah satu teman datang dari rumahnya dengan membawa banyak oleh-oleh, salah satunya adalah makanan kesukaan saya, yaitu ayam panggang dengan sambal super pedas. Malam itu, semua teman-teman berkumpul di ruang tengah untuk makan bersama, begitu pula saya juga berada di ruang tengah tetapi hanya diam sambil membaca buku. Sebenernya muncul keinginan untuk makan bersama dengan teman-teman tetapi saya tetap menahan untuk tidak ikut makan sampai akhirnya semua mata tertuju kepada saya karena salah satu seorang teman memanggil untuk ikut makan bersama.
“Najim, ayok ikutan makan. Ini lho enak sambelnya....” ajak salah satu teman.
“Ia mel, terima kasih. Tadi saya  barusan makan banyak sekali” jawabku sambil tersenyum.
“Najim, ayok makan lagi gak papa. Ini makanannya masih banyak, enak lagi” sahut temanku yang lain.
“Hehe,, ia kayaknya enak ya,,,tapi perut ini sudah nggak muat mau di tambah lagi” balas.
Akhirnya dengan beribu keikhlasan saya merelakan untuk tidak makan malam bersama mereka. Dan kekukuhan saya ini pun membuahkan hasil, malam-malam selanjutnya saya jadi terbiasa untuk menolak makan malam, demi mensukseskan program diet.
Esok hari, saat saya dengan seorang teman berjalan-jalan di Mall, kami melewati sebuah toko tas dan sepatu yang sangat cantik-cantik. Seketika itu teman saya menggandeng tangan saya untuk memasuki toko tersebut. Saat kami masuk ke toko tersebut, semua kaum hawa tersenyum lebar sambil melihat barang-barang tersebut. Tentu saja mereka tersenyum lebar, karena hari ini berbagai gantungan merah putih dengan tulisan “Diskon 50%-70%” bergantungan dimana-mana.
Ketika berkeliling, saya tertambat dengan tas kecil yang sangat bagus, sesuai dengan apa yang saya inginkan selama ini. Saya menyukai warna dan bentuknya yang sangat unik. Ketika saya melihat tas kecil tersebut saya tak lupa untuuk melihat sesuatu yang lebih penting disuduttak tersebut, yaitu”Brandol Harga”
“Ini mah sama aja nggak ada diskon, mahal banget”. Batin saya dalam hati
“Ih... ini bagus banget jim, cantik lagi”. Sahut teman saya dari belakang
Spontan saja dia langsung meraih tas itu dari tangan saya
            “Eh jim beli yuuukk, murah-murah lo ini” kata Esty
            “Mahal ty...”jawab ku
“Enggak jim,, ini udah murah banget. Kamu kan dari dulu kepingin tas yang kayak gini kan?” tanya Esty
Saya melihat-lihat tas itu kembali. Saya berfikir apa yang dikatakan teman saya benar sekali. Dari dulu saya ingin membeli tas yang seperti itu, hanya saja tidak menemukannya di tempat lain.  Kemudian saya melihat lagi bandrol harga tas tersebut, dan memikirkan isi yang ada di dompet saya. Jika saya membeli tas tersebut, saya kira uang saya cukup. Tetapi saya tidak ada uang untuk simpanan lagi karena saya masih harus berhemat untuk beberaapa hari kedepan. Benar-benar pilihan yang sangat sulit. Namun dengan segenap paksaan untuk berfikir realistis, melihat kondisi dan menimbang mana yang menjadi prioritas, akhirnya saya angkat bicara.
“Esty ayok ke toko buku. Ntar keburu malem lo” ajakku
“Lah ini tasnya gimana jim?”tanya Esty
“Besok aja balik lagi kesini” kataku
Dan besoknya kami tidak kembali ke toko tersebut.
Dua penggal cerita yang tanpa saya sadari telah saya alami ternyata saya mampu untuk menahan semua keinginan demi sebuah kebaikan. Berani berkata tidak. 


Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar