Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MENEMUKAN KAMPUNG INDONESIA DI MALAYSIA



Oleh : Dyah Ayu Fitriana

        Perjalanan kemarin ternyata cukup membuat kami semua tumbang. Entah karena sudah terbiasa dengan jam Malaysia atau memang karena kami terlalu capek, pagi tadi hampir semua penghuni Sweet Home A17 bangun kesiangan. Pertanyaan “Mau kemana hari ini?” terjawab dengan helaan napas saja hehe karena kami semua pada tepar. Jadilah hari ini kami hanya beristirahat di kondo[1].
            Walaupun begitu, ritual di pagi hari tak akan pernah luput. Makan pagi ya itulah. Kami makan bersama. Setelah itu semua melakukan kegiatannya masing-masing. Ada yang tertidur sampai siang, ada yang ngobrol. Dan ada pula yang di sambang[2] oleh keluarganya yang ada di Malaysia. Alhamdulillah beliau datang dengan membawa banyak barang bawaan hehe. Tentunya oleh-oleh untuk kami semua yeey!
            BELAJAR BELANJA KE PASAR CHOW KIT
Di Malaysia ada sebuah pasar yang terkenal dengan keunikannya. Kalau pasar yang lain dikuasai orang china atau orang melayu, nah pasar ini berbeda. Pasar chow kit namanya. Tak tahu bagaimana awalnya, pasar ini didominasi oleh orang Indonesia. Masuk ke sana serasa pulang ke rumah. “Ayo mbak, golek opo mbak?”[3]
Hari ini banyak sekali yag akan saya beli. Di sticky notes yang saya bawa tertulis
1.      10 kg Beras
2.      1 bks Lombok
3.      1 kg tomat
4.      Cobek
5.      Telor
6.      Terasi
7.      Sayur
8.      Tempe
9.      Teh
1.  Tahu
Kami berangkat bertiga. Bersama Luza dan Fahmi. Kami telah berjalan di depan sunway lalu baru teringat bahwa kami belum bawa passport. Bagi kami orang rantau. Passport sudah sebagai nyawa kita. Harus dibawa kemana-mana hehe. Bukannya apa, biasanya banyak polis yang akan memeriksa kelegalan seseorang berada di Malaysia. Jadi kami harus siap sedia membawa passport. Dari pada nanti dibawa polisi. Akhirnya mbak ovi dan dearga membawakan passport kami dan segera dapat berangkat ke pasar.
            Jalan menuju pasar Chow kit tidak terlalu jauh. Tapi jalan sedikit itu saja telah mengajarkan kami banyaknya perbedaan yang kami temukan di sini. Ada banyak macam orang yang lalu lalang, tak hanya orang melayu, orang china, india dan orang orang Indonesia berada di mana-mana. Namun serunya, di Malaysia tak banyak kami temukan orang bersepedah motor. Semua memilih untuk menggunakan mobil, atau berjalan. Jadi berjalan jauh pun tak terasa capek karena kita berjalan dengan banyak orang.
             Di tengah perjalanan seakan benar-benar berada di luar negeri. Namun ketika sampai di pasar chow kit serasa pulang ke rumah. Bedanya biasanya kalau harga cabe sebungkus 3000 rupiah nah kalau disini Cuma 2. Tapi 2 ringgit Malaysia hehe. Nah sama dengan 6000 tuh. Seorang pedagang yang ramah menyapa kami dengan bahasa jawa. Mungkin terlihat ya kalau wajah kita ndeso. Kami bercakap banyak hal. Mulai dari menanyakan harga-harga sayur sampai meanyakan alamat asli masing-masing. Wah beliau berasal dari lampung namun bicara bahasa jawanya lancar pol. Kami membeli tempe, tahu, kacang panjang, dan juga diberi bonus 3 jeruk purut yeeey karena saya lagi kepingin buat soto hehe.
            Setelah itu kami mencari cobek. Muter-muter-muter. Kalau bahasa malaysianya sih pusing-pusing pasar, tapi tidak menemukannya. Akhirnya kami pulang dengan membawa banyak kresek. Pulangnya sih lewat mall sunway. Jadi kalau ditanya dari mana? Dari sunway beli sayur, tapi sunway nya lewat aja belinya di chow kit hehehe.
            Demikian hari ini… :*



[1] Nama untuk apartemen atau rumah tinggal yang bersusun.
[2] Ditengok, dijenguk
[3] Ayo mbak, cari apa mbak?


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar