Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Rumah Saudara

 Oleh: Evi



 “Persaudaraan ibarat tubuh, jika salah satu dari anggota tubuh tersebut merasakan sakit, maka anggota tubuh lainnya juga akan merasakannya.”
            Negara adalah sebuah simbol status kewarganegaraan yang dimiliki oleh setiap warga negaranya. Dimana terdapat undang-undang yang mengatur kewajiban negara terhadap warga negara sekaligus hak dan kewajiban warga Negara terhadap negaranya. Di dalam sebuah negara terdapat nilai lebih dari sekedar status kewarganegaraan yaitu nilai kekeluargaan. Hal ini telah terkandung di beberapa sila-sila Pancasila. Jauh sebelum itu, Islam telah mengatur hak-hak dan kewajiban seorang saudara terhadap saudara lainnya. Tepat pada tanggal 27 September 2015 lalu, telah terlaksana pengajian akbar yang diselenggarakan di Masjid Baitussalam, Tanggerang Selatan. Bertepatan dengan peringatan kemerdekaan Indonesia, maka salah satu tema yang diangkat adalah menyangkut persaudaraan yang disampaikan oleh Habib Mahdi Alatas sebagai salah satu penyaji di dalam pengajian tersebut.
            Istilah saudara dipandang oleh sebagian golongan dengan sebuah istilah yang berarti hanya untuk individu-individu yang memiliki pertalian darah yang sama. Namun di dalam agama Islam telah dijelaskan melalui sebuah hadist yang berisi bahwa sesama muslim adalah saudara. Bahkan saudara dalam arti ini dapat diterapkan tidak hanya kepada umat se-iman, melainkan sesama manusia. Pada dasarnya, sebuah bangunan persaudaraan memiliki memiliki empat pondasi dasar yakni pertama, ta’aruf. Dijelaskan di dalam kalam Allah bahwa manusia diciptakan dari tanah, semua manusia memiliki kedudukan atau derajat yang sama di hadapan Allah tanpa dilihat dari bangsamana mereka berasal, terlahir dengan kondisi kaya atau miskinkah bahkan rasa tau suku mana keberadaannya tak menjadi pembeda antara satu dan lainnya di hadapannya, hanya ketaqwaanlah yang menjadi dasar penentu derajat kemuliaan di sisiNya. Kedua, ta’alluf, yakni bergabung. Bergabung disini memiliki arti bahwa ketika sesama manusia sudah saling mengenal maka tak peduli dimana posisi ia di dalam suatu golongan tersebut, ataukah menjadi atasan maupun bawahan, menjadi imam maupun makmum, satu sama lain harus bergabung. Ketiga, tafahum yakni merupakan pemahaman antara individu satu terhadap individu yang lainnya. Semua manusia dicipta oleh Tuhan dalam kondisi yang berbeda-beda. Namun dengan perbedaan inilah diharapkan kehidupan manusia dapat tercipta saling melengkapi. Keempat, ta’awun yakni saling menolong. Sesuai dengan peribaratan persaudaraan sebagai tubuh, maka apabila salah satu bagian tubuh kita sakit, tentunya seluruh tubuh akan merasakan ketidaknyamanan dan berusaha agar rasa sakit itu hilang sehingga dapat menjalankan aktivitas seperti biasanya. Allah mnciptakan manusia sesuai dengan kadar kemampuan dan kekurangan, antara satu dengan lainnya tentulah tidak sama. Disinilah perlunya kepedulian yang tinggi dan rasa empati untuk saling merangkul satu dan lainnya sehingga terbangunkan bagunan kekeluargaan dalam sebuah negara.
Ketika bangunan ini sempurna, artinya telah terpenuhi keempat pondasi dasar dari persaudaraan tersebut, maka akan tercipta suasana bernegara yang damai dan tentram seperti istilah “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Bukit Cemara Tidar Blok F3 No. 4
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar