Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Teman Baru



          “Kakek, jadilah temanku”.
          Kakek hanya tersenyum, kemudian beliau melanjutkan dengan bertutur “Tidak sopan sekali seorang cucu berucap begitu”, seketika sang cucu mengalihkan pandangannya pada kakek yang sudah sepuh itu. Raut muka kakek begitu tenang, seolah memancarkan cahaya kedamaian bagi siapa saja yang melihatnya.
          Angin malam berlomba-lomba masuk ke dalam ruangan melewati jendela kaca, perlahan menusuk kulit hingga dinginnya sampai ke hati. Suasana malam di rumah kakek semakin hampa tanpa kata-kata. Sampai akhirnya sang kakek menghentikan itu semua dengan melanjutkan tutur katanya.
          “Sombong sekali cucuku selama ini. Kau anggap apa aku ini? Seorang tua renta yang tidak berarti apa-apa? Atau seorang kakek yang hanya membuat dirimu jengkel karena nasihatku?” sejenak kakek berhenti dan menarik nafas, kemudian menghembuskannya secara perlahan.  Wajahnya tak menoleh sedikit pun pada cucunya. Ia terlihat sangat menikmati indahnya panorama  malam depan rumah melalui jendela kaca. Menggoyang-goyangkan kursi goyang kesayangannya. Sementara sang cucu semakin menajamkan matanya, memperhatikan wajah kakeknya itu.
          “Kau adalah anak satu-satunya dari putra tunggalku. Cucu yang teramat kusayangi. . Aku menganggapmu sebagai cucu, anak, sebagai teman sekalipun. Meskipun kau jarang menyapaku. Lagi pula, tingkahmu yang nakal sewaktu  kecil, sering kali mengusikku untuk ikut bermain bersamamu. Fiuuuh. . . Zen, kau boleh menganggap kakekmu ini sebagai apapun yang kau mau, bahkan sebagai teman.” Kali ini kakek benar-benar menyudahi pembicaraannya.
          Zen mendekat kepada sang kakek yang masih menikmati kursi goyangnya. Kemudian dari belakangia peluk erat tubuh yang sudah tak sekuat tubuhnya itu. Matanya semakin memerah, berusaha keras menahan air mata yang sudah tak sabar ingin mengalir.
***
          Zen merupakan cucu dari kakek Topo yang terlahir dari pasangan suami istri, Panji dan Aisyah. Zen tidak memiliki saudara. Anak tunggal dari Panji yang seusai lahir di dunia ditinggal wafat oleh Aisyah. Pemuda yang memiliki nama lengkap Zaenal Ramadhan ini menjalani kehidupannya bersama dengan ayah dan kakeknya. Mereka tinggal di sepetak bangunan milik kakek yang terletak di kota Bandung. Ayahnya sibuk bekerja di sebuah perusahaan industri sebagai seorang mandor pabrik. Berangkat dini hari dan pulang larut malam. Itulah sebabnya Zen hampir tidak pernah bercakap ramah pada sang ayah. Sementara kakek Topo dipercaya oleh warga setempat menjadi seorang ketua RW. Jabatan seumur hidup itu kerap kali membuat kakek jarang menghabiskan waktu bersama dengan cucunya. Meski begitu, beliau selalu berusaha menemani sang cucu bermain di malam hari. Sejak kecil Zen sudah menjadi anak yang memiliki kebiasaan pulang telat apabila sekolah. Menghabiskan banyak waktunya dengan bermain bersama teman sebayanya. Begitu juga sekarang. Saat ini sekolah Zen sedang libur seusai terlaksananya ujian akhir semester genap. Baik Zen maupun siswa lainnya diberi kesempatan oleh sekolah untuk berlibur selama tiga minggu. Liburan menjadi semakin terasa nikmat, lantaranjatuh di bulan ramadhan ini.
          Beberapa hari terakhir semenjak liburan, raut muka Zen tampak tak bersemangat. Tatapanya seakan dipenuhi oleh sesuatu yang memberatkan pikirannya. Setiap hari  ia hanya menghabiskan hari liburnya di rumah kakek. Bermain game, makan, melamun, dan tidur. Itu kiranya rutinitas yang ia lakukan untuk menjalani hari liburnya hingga menjelang hari pertama bulan ramadhan tahun 2001 ini.

***
  

 (To be continue)

Evi
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar