Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Sang Anak dan Ayahandanya Yang Menangis

 

Pria tua itu wajahnya tak lagi terlihat marah, namun sebaliknya dia terlihat bersedih. Dipegangnya pundak sang anak dari belakang dan berkata 



"Nak, sesungguhnya aku merawatmu dengan penuh cinta, membesarkanmu dengan penuh kasih. Saat lahirmu kugema-kan adzan dengan penuh syukur. Tiap langkahku ke masjid tak lupa kau kugendong di pundang dengan tawa ceria. Tiap kenakalanmu kuhadapi dengan sabar dan kubasuh dengan nasehat untukmu. Namun mengapa ketika kau beranjak besar dan mengenal dunia luar, kau enggan berlama-lama di rumah tuhan. Kau malas bermunajat padanya jika ada hal yang kau harapkan, malah rengekmu selalu kau tujukan padaku, ini dan itu. Sadarlah anakku.. sadarlah.."

tangan tua itu mendekap erat pundak anaknya, dia berurai air mata tanpa tahu bahwa sang anak pun sedang berusaha menyembunyikan butir penyesalan yang sedari tadi ditahan. 

Melihat kejadian ini hati saya begitu tertampar, apakah ayah ibu saya pun merasakan kekecewaan yang sama sebagaimanahalnya pria tua itu? bagaimana sedari kecil mereka meluapkan rasa kasih sayang, bagaimana mereka rela melepas keinginan dan impian mereka dalam karier demi meluangkan waktu untuk merawatku, mengorbankan tenaga demi membiayai sekolahku. bagaimana kecewanya mereka jika melihatku tengah enak bermain ke sana sini, seharian mainin HP tanpa ingat waktu, atau shopping di mall menghabiskan uang mereka demi keberadaanku di akui teman-temanku. ya allahh.. maafkan diriku ini bapak,, ibuk,, 

Semakin malam kejadian itu semakin membekas di kepalaku entah mengapa usai sholat aku tak ingin beranjak. masih terbayang tangisan pria tua itu yang membuat air mataku mberebes. Aku semakin sedih ketika kuucap istighfar. Ya Allah... kejadian itu barulah seorang pria. Aku kembali beristighfar ketika tersadar. Tuhanku.. Yaa Rabbi.. betapa kami manuia ini tiadalah beda dengan sang anak tadi. Engkau pilih kami untuk menjadi manusia, sebaik-baik makhluknya, engkau tak pernah alpa memberikan apa-apa yang kami minta. Tidak, bahkan tanpa kami meminta pun kau selalu mengerti. Aku bersalah kau ingatkan. Aku tersesat kau luruskan. Aku bersedih kau hibur. Namun apa sih yang pernah kulakukan untukmu? bahkan untuk sholatpun yang tanpa bayar aku malas. Untuk berbincang denganmu di tengah malam pun aku tak kuat menahan kantuk. Dan untuk sekedar membagikan rizki yang kau pinjamkan pun aku tak mau. 

Aku malu kepada pria tua dan sang anak itu, bahkan sang anakpun masih bisa menangis kala ayahandanya menegurnya. Namun aku? tiada pernah aku memohon maaf walaupun dosaku yang menumpuk. Dan Kau tak pernah sedikitpun mengurangi rasa sayangmu pada hambamu yang nakal ini. Astaghfirullah... Maafkan aku rabbii

Dyah Ayu Fitriana 
Darun Nun 
Bukit Cemara Tidar
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar