Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Penyesalan yang Tak Berpenghujung (edisi Revisi cerpen "Sukardi")

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Penyesalan yang Tak Berpenghujung
Oleh : Miftachul Chusnia

Aku....
bagaikan anak pohon yang tak berbuah.
Aku...
bagaikan burung kecil yang tak bisa terbang.
Aku..
seperti manusia cacat meski ragaku sempurna.
            Karena malas aku kehilangan senyuman. Karena malas aku tak bisa membalas, dan karena malas hari ku semakin terperas. Aku benci dengan kata malas. Aku bosan menjadi pemalas. Karena malas hidupku semakin memelas.
            Andai ku dapat memutar waktu. Akan ku putar hidupku. Ketika menikmati masa kecil, dan ketika  duduk di bangku sekolah. Ingin ku ubah hidupku menjadi sempurna. Tak sudi berkenalan dengan “malas” yang kini menjadi musuh terbesarku. Aku kan menutup kencang ketika kata “malas” mendarat di telingaku. Aku kan pukul tubuhku jika malas mulai menyerangku.
            Aku adalah salah satu korban dari kemalasan. Yang harus menerima kenyataan yang tak dapat di ulang. Dan menanggung segunung kerinduan yang tak mungkin tersampaikan.
***
            Kata-kata di atas merupakan penggalan kalimat yang ditulis Mas Kardi di bukunya yang berjudul “ Please Don’t Speak Lazy”. Sukardi adalah sahabat kami yang paling  beruntung nasibnya. Karena di Desa Sumberporong, tempat tinggal kami dia lah yang paling sukses dalam berkarier. Ia kini tinggal di kota dengan penghasilan yang cukup “wow” bagi penduduk sumber porong. Sukardi sudah  membuktikan bahwa dirinya mampu keluar dari kemiskinan yang membelenggu di masa mudanya.
            Pernah suatu ketika aku membutuhkan bantuan untuk pengobatan bapak yang cukup banyak. Karena pada saat itu bapak harus benar benar di rawat di rumah sakit karena penyakit yang dideritanya. Aku bingung harus mencari uang kemana. Ku kunjungi tiap tiap pintu namun tak juga ada yang mau meminjamkan uang yang cukup besar kepadaku. Karena memang mayoritas warga disini adalah bertani dan menanam kebun bahkan tak  sedikit yang berprofesi sebagai pemulung. Akhirnya pintu yang terakhir aku kunjungi adalah rumah pak RT. Namun, harapanku tak juga terpenuhi.  Pak RT juga tak memiliki uang segitu banyak karena untuk makan tiap hari  saja  beliau harus mencari uang terlebih dahulu. Sebelum berpamitan pulang, Pak RT menyarankanku untuk pergi menemui Sukardi di Kota mungkin saja ia mau meminjamkan uang yang aku perlukan. Beliaupun juga memberiku alamat tempat tinggal yang ditinggali Sukardi saat ini.
            Tanpa berpikir lama, keesokan harinya aku pergi ke kota untuk menemui mas kardi. Banyak sekali hal hal yang membuatku takjub melihat kehidupan di kota yang serba mewah. Namun yang membuatku lebih takjub adalah kesederhanaan mas kardi dalam sikapnya dan kedermawanan ia menolong orang lain ditengah-tengah kehidupannya yang gemilang. 
            Meskipun nyawa bapak tidak dapat lagi di tolong, namun tidak mengurangi niatku untuk berterima kasih kepada sukardi yang telah membantu merawat ketika bapak sakit. Di tengah pembicaraan, tiba-tiba aku teringat buku Mas Kardi yang pernah aku baca sewaktu bermain di rumah pak RT kemarin.  
            “ Mas, Buku sampean bagus banget. Bisa menginspirasi banyak orang untuk tetap semangat dan tidak boleh malas. Kok bisa sih mas bikin buku sebagus itu?” Puji ku kepada Mas Kardi.
            Mendengar pujianku, tiba-tiba Mas Kardi terdiam dan tenggelam dalam kenangan. Ia raih foto pak sarwan yang terpampang di dinding rumahnya dan meceritakan kisah dibalik karyanya
Pada saat itu, ekonomi keluargaku sedang rendah. Namun hal itu tak mengurangi niat bapak untuk menyekolahkanku. Ia rela mati – matian di usia tuanya mencarikan uang untukku agar kelak ia dapat melihatku menggunakan seragam sebagai seorang guru. Bapak sangat menjunjung tinggi seorang guru. Ia ingin aku menjadi orang pertama yang menjadi seorang guru di keluarga kami. Aku kira saat itu bapak hanya bercanda. Namun masih teringat jelas di ruang tamu kami bapak memberiku setumpuk uang untuk menyekolahkanku. Aku tak tahu dari mana uang itu berasal. Ku terima saja permintaan bapak dengan senang hati, hal itu merupakan suatu kebanggaan karena di desa kita hanya akulah yang pertama kali masuk perguruan tinggi dan menjadi anak kuliahan.  Sanak saudara pun juga tak suka dengan niat bapak yang hendak menyekolahkanku. Mereka selalu merendahkan kami. Katanya “ alaaaahhhhhhhh kerja Cuma tukang becak aja segitunya menyekolahkan anak. Paling paling si Kardi cuma jadi pengangguran di kota dan kembali ke desa” begitulah cemooh cemooh yang  selalu di lemparkan kepada bapak. Mendengar hal itu aku mempunyai tekat untuk membuktikan bahwa aku mampu mewujudkan cita-cita bapak.
Sebulan kemudian aku dinyatakan lolos ujian tes masuk perguruan tinggi dan kuliah disana. Bapak sangat bangga kepada ku. “ bapak berkata bahwa bapak pasti akan senang kalau melihat anak bapak memakai seragam sebagai seorang guru”.
            Namun, ketika sudah sampai di kota dan belajar disana. Keadaan di sana berbeda sekali. Banyak hal yang belum pernah aku rasakan di kota selama aku tinggal di desa. Di kota banyak sekali godaan godaan. Awalnya, aku seperti seseorang culun yang tak mengerti trend saat ini. Namun lama kelamaan aku mulai berubah secara drastis. Aku sering membuang buang waktu, meninggalkan kelas, menghambur hamburkan uang dan pergi bermain  dengan teman – teman hingga mabuk mabukkan. Sering sekali aku mendapatkan nilai D di KHS ku dan banyak sekali pelajaran pelajaran yang harus aku ulang. Aku terus bermain main dengan kemalasanku. Sejenak aku melupakan bapak yang mulai subuh hingga malam mengerjakan berbagai pekerjaan di usia tuanya.
            Aku mulai sadar ketika salah seorang temanku menonton televisi di Handphonenya. Aku yang disampingnya hanya dapat melihat apa yang temanku lihat. Namun tiba – tiba ada sekilas berita yang menayangkan bahwa baru saja ada seorang kakek kakek berprofesi sebagai tukang becak mati tertabrak kereta ketika hendak menyebrang rel kereta api menuju arah ke kota. Aku yang melihat kejadian itu tertawa karena begitu bodohnya si kakek sampai sampai tidak mendengar ada kereta yang melintas. Aku menyuruh temanku untuk mengganti channel karena berita itu tidak penting menurutku. Ketika pulang ke kosan, saat itu sekitar pukul 17.00 WIB, tiba tiba Wak Bejo datang bersama Wak zaenal menggunakan motor menyuruhku pulang karena ada suatu urusan yang mendadak. Tanpa aku menyadari apa yang terjadi di rumah. Ketika sesampai di rumah. Aku sudah tidak dapat menemui sosok bapakku. Karena ternyata orang yang diberitakan di telivisi tadi siang adalah bapakku yang hendak mengirimiku singkong dari desa. Aku menangis menjadi jadi. Semua orang tak ada yang mau menunjukkan di mana jasad bapakku. Karena ternyata bapakku dikubur cepat cepat karena kondisinya yang cukup mengenaskan. Aku sadar aku tak dapat melukis senyuman di bibir bapak dan tak dapat mewujudkan keinginannya. Saat itu aku berjanji kepada diriku untuk benar benar mewujudkan cita cita bapak. Aku mulai rajin belajar dan bekerja untuk menanggung hutang hutang bapak untuk menyekolahkanku. Hingga saat ini aku menjadi seorang doktor.
            Aku cukup terharu mendengar kisah yang di ceritakan Mas Kardi. Meski awalnya tak mungkin namun ia mampu mewujudkan sesautu yang tak mungkin itu. Hal ini laih yang membuatku sadar mengapa terdapat lukisan bertuliskan Don.t Be Lazy di dekat tangga rumah Mas kardi. Cerita mas kardi sungguh menggugahku bahwa kemalasan dapat membuat kita membuang buang masa muda kita.

 MC_181015C_Penyesalan yang Tak Berpenghujung (edisi Revisi cerpen "Sukardi")
             
  

           



Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar