Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Filosofi Sang Venus


Dyah Ayu Fitriana


Jika saja makhluk luar angkasa yang sering disebut Alien melihat bumi, kira-kira apa ya yang akan mereka katakan?

Setiap pergi ke masjid di malam hari, saya selalu berhenti sejenak di perempatan sebelah rumah. Menerawang jauh mengamati bintang tercerah di langit yang asyik bercengkerama dengan bulan. Dua pemandangan yang terlihat sangat menyayangi layaknya ibu dan anak tercintanya.

Tiba-tiba saja saya teringat pelajaran ketika saya SD dahulu. Pak Solikin yang mengatakan "Jika kau lihat bulan, yang tiada berkedip layaknya bintang lainnya, yang warnanya putih mengkilap, dan kilaunya paling benderang, itulah yang disebut Venus. Planet cantik yang memukaukan para penikmat malam.

Tiap malam tiba kuamati lagi, kuamati kembali bintang itu. Sangat cerah dan begitu anggu memesona. rasanya ingin kulantunkan lagu masa kecilku dengan versi yang kubuat-buat sendiri, hehe. "Ambilkan bintang, Bu.. ambilkan bintang, Bu. yang paling benderang di malam ini" saya yakin ibu saya akan segera menghampiri dan berucap "Kamu nggak sedang sakit kan nak?" hehehe.

Dan benar juga, setelah kuamati beberapa malam akhirnya aku yakin. "Yah itulah planet venus yang disebut-sebut sebagai bintang kejora atau bintang fajar." Jadi itulah yang disebut planet. Namun satu pertanyaan yang tak kunjung bisa kujawab. Bu guru dulu berkata "Planet tidak memiliki cahayanya sendiri, sedang bintang memancarkan cahayanya sendiri". Lalu mengapa planet lebih cerah daripada bintang-bintang lain?

Dari sini Jlebb teringat surah As Syams yang sering dilafalkan ketika dhuha. Surah ini menjelaskan tentang matahari dan segala kemanfaatan yang diperoleh darinya. Waktu duha yang diiringi oleh merambatnya matahari di langit bumi, jika saja waktu itu Allah tidak izinkan matahari naik, subhanallah bumi kita akan kiamat. Begitu pula dengan bulan yang mengikutinya. Sampai sini rasanya hati saya mulai sedikit meraba adanya jawaban.

Bulan, apakah dia punya sinarnya sendiri? Tidak. Venus, apakah dia memiliki cahayanya sendiri? tak mungkin. Lantas mengapa di malam terang seakan mereka begitu dispesialkan oleh Allah agar dilihat oleh banyak orang dan menghibur banyak hati. Jawabannya ada di surah tadi. Ya, karena keduanya sama-sama memantulkan cahaya matahari. Matahari bukan hanya bintang yang sekedar menerangi, namun Allah mendesainnya sedemikian rupa hingga bisa memberikan manraat berlipat-lipat-lipat-lipat bagi semua makhluknya. Dan kebaikan itu tidak saja diberikan kepada matahari, namun juga kepada benda-benda yang mendapatkan cahaya dari matahari, mereka dispesialkan oleh Allah.

Saya mulai berfikir, mungkin begitu pula ya manusia. Manusia ada yang didekatkan kepada Allah hingga cahayanya begitu terang seakan matahari yang selalu menerangi bumi. Tidak cukup dengan itu, matahari pun merupakan sumber energi kehidupan, membawa banyak sekali manfaat pada manusia dan bumi. Mungkin begitu juga orang-orang yang jalannya selalu terang benderang dengan cahaya Allah, mereka tidak hanya menyinari diri sendiri, namun juga memberikan manfaat begitu banyak pada orang-orang disekitarnya. Berbeda dengan bintang-bintang lain yang redup, sinarnya tiada tampak, bagaimana mereka bisa menerangi bumi jika memberikan dirinya cahaya pun mereka tak sanggup? Itu bagaikan manusia yang kehilangan Rabb nya, kehilangan tuhannya. Tiada lagi cahaya meliputi mereka hanya kedipan kedipan redup saja.

Lalu lihatlah bulan dan bintang venus yang tiap malam saya kagumi, ciptaan Allah yang begitu anggun. Mereka begitu spesial padahal mereka bukanlah benda langit yang bisa mengeluarkan cahayanya sendiri, mereka hanyalah memantulkan cahaya dari matahari. Namun mereka begitu terang, membuat terkesia siapapun yang memandang. Bagit pula manusia yang masih belum bisa memancarkan cahayanya sendiri, namun suka bergaul dengan orang-orang sholeh, demen banget berkumpul dengan alim ulama', pelan-pelan Allah akan mengangkatnya dengan cahaya yang dari sang matahari. Pelan namun pasti dia akan menjadi benderang.

Lalu seperti apakah dirimu?
Mataharikah?
Bulankah?
Venuskah?
Atau cukup menjadi bintang yang redup itu?

Dyah Ayu Fitriana
Bukit Cemara Tidar
Darun Nnn


Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar