Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MEMELUK BULAN




Senja di sore itu seketika berbisik padaku ‘hey dia’.
 aku bingung dengan bisikan itu serasa bahwa aku merasa aneh.
 tapi aku bingung dengan semua ini.
tak kuasa hati akan menahan perasaan yang di selimuti mutiara cinta.
ya Tuhan, apakah ini kehendakMu?
Aku tertahan diatas ombak yang menerpa kencang, aku terombang ambing di atas kapal tanpa nahkoda.

Sebut saja Siti, nama yang tidak asing bagi siapapun yang mendengarnya yang sering di dengar di saat absen sekolah  di era 90 an, yah inilah aku, Siti dengan sejuta kekurangan ku dan sejuta impianku, aku berharap suatu saat aku akan menemukan cinta sejatiku.
Saat itu, saat dimana aku menjadi mahasiswa di universitas kebanggaanku dan kebanggaan orang orang ‘sebut saja universitas favorit’ aku sangat beruntung dikala itu, saat aku memasuki ruangan kelas untuk saat pertama kali aku masuk bangku kuliyah aku merasa asing dan sedikit mringis karena keinginanku untuk berkenalan dengan rekan kelas ku.
Senin 20 April 2015, saat pertama kali aku memasuki perpustakaan universitas aku bersama teman kuliyahku iseng iseng untuk mencari buku reverensi , tak sengaja aku bertemu dengan teman masa kecilku sebut saja Adi.
‘hey’ Adi menyapa
‘lho,, Adi, gimana kabarmu?’
Setelah sapaan itu aku dan adi melanjutkan percakapan di kantin, kita ngobrol dari dari a sampai z, dari peristiwa ketika masa kecil kita, dan sampai pertemuan tak terduga di universitas ini, bahagia rasanya seperti temu kangen.
Hari demi hari berlalu, aku dan adi  sering bersama dan meluangkan waktu di sela sela kesibukanku, tak terduga pada satu kesempatan adi memberanikan diri untuk silaturahmi kerumahku dan tanpa ber tele tele, dia mengungkapkan rasa di hadapanku, aku sangat terkejut mendengarnya.
‘Siti, apakah kamu mau menjadi  orang istimewa di hatiku?’
‘kamu baik baik saja kan adi ?’ jawabku
‘aku serius’
‘aku bingung mau jawab apa, kita mau lanjut?’
‘oke, kamu menerima?’
‘iya Adi, kita lanjut.’
Minggu, 2 mei 2015 saat pertama kalinya aku dan Adi meluangkan waktu untuk menghadiri resepsi pernikahan teman kuliyah, kita serasa sudah menjadi pasangan sah di hadapan Allah, bahagia rasanya dengan baju yang serasi dan berjalan seiringan. Disaat acara resepsi di mulai Adi mengatakan sepucuk kata kata di hadapanku dengan nada yang lemah lembut
‘kita dulu teman bermain masa kecil, memang kita dulu teman, tapi sekarang kamu adalah kekasihku, bukan pacar tapi kekasih, dan aku ingin kamu bersamaku selamanya’
Mendengar perkataan seperti itu aku mulai yakin dan yakin dengan rasa cinta Adi kepadaku, aku menjawab ‘iya sayang, kita sama sama sudah dewasa, kita gak boleh main main sama cinta’
Setelah acara resepsi selesai, selesai pula perbincangan kita.
Keesokan harinya aku pergi kuliyah menjalani rutinitasku seperti hari hari biasanya, saat di kelas teman teman ramai gak karuan, aku sedikit mendengar kata kata ‘ kuliyah kerja mahasiswa’
Aku tercengang dan muncul rasa ingin tahuku.  Kemudian aku bertanya pada salah satu teman kelas ku ‘itu kita mengabdi pada masyarakat, kita disana memberdayakan masyarakat, kita seneng seneng deh pokoknya’ jawabnya.
Namanya aja Siti ya suka banget sama hal hal berbau kemasyarakatan, dan akhirnya aku memutuskan untuk mendaftarkan diri untuk menjadi salah satu mahasiswa kkm, setelah seleksi demi seleksi terlampaui  lega rasanya ‘bahagia banget rasanya, aku akan ngasih berita ini ke Adi, pasti dia senang’ kataku.
‘Adi, aku punya berita, aku lolos’
‘lolos apa siti sayang?’ jawabnya
‘lolos mahasiswa kkm’
‘pinter banget sayangku ini’ jawabnya sambil pegang kepalaku.
‘siapa dulu donk’ , dengan nada sumringah.
‘oke sayang, laksanakan tugas dan ingat ! jangan macem macem disana ya? Jawabnya
‘siap komandan ku’
satu bulan kemudian aku berangkat dengan hati gembira, tapi sedih juga, karena aku jauh dari Adi, dalam hatiku ‘ingat ya, jangan macem macem’ .
selamat datang di Desa Kecek Dusun Ngleso Kecamatan Prigen, suasana baru, udara baru, sejuk tanpa asap dan polusi, tidak ada kebisingan ataupun kemacetan, Suasana sangat asri dan di kelilingi oleh pegunungan. Disinilah aku akan tinggal satu bulan kedepan dengan teman teman kkm yang lain juga dan aku akan menjadi keluarga sementara di desa ini, tanpa ada yang mengatur.
Kelompok kita terdiri dari 8 orang yang bernama saida, nissa, puspita, anissa, hikmah, siti, fikri, dan ketu, Kita berharap pengabdian kita ini membawa banyak perubahan pada desa yang akan kita tempati dalam satu bulan ke depan. Selanjutnya, kita tinggal di rumah kepala desa setempat dan melakukan kegiatan yang akan di jalankan satu bulan ke depan, kemudian setelahnya kita istirahat karena hari mulai petang dan badan juga sudah lelah.
Ke esokan hari, kita menyusuri lingkungan desa serta mencoba berinteraksi bersama warga sekitar untuk mengenal sejauh mana masyarakat antusias kepada kedatangan kkm ini. Setelah itu kita mengadakan sosialisasi tentang cara pembuatan pupuk dari kotoran sapi yang biasa disebut pupuk kompos, yang di bantu dengan pihak kampus yang bersangkutan serta warga yang sangat antusias mengikutinya.
Pada satu kesempatan kita mengadakan piknik di tengah hutan bersama teman kelompok kkm, tepatnya kita mengadakan outbond untuk menjaga kekompakan kelompok kita.
‘hey, kita sekarang senang senag, kita akan outond selama 2 hari di hutan’ ucap ketu dengan nada gembira
‘oke oke.. kita manfaatkan hari ini ya ‘ jawab siti
Sesampai di hutan, kita mendirikan tenda dan menyiapkan api unggun untuk penghangatan karena hari mulai petang, selanjutnya kita mengadakan musyawarah kecil yang berisi tentang cerita pengalaman.
Keakraban terjalin sangat erat, tanpa terkecuali  aku dan ketu, karena sering bertemu berbagi ilmu dan memanfaatkan waktu untuk berkumpul, aku merasa bahwa ada yang aneh ‘sepertinya ketu menyimpan sedikit perasaan ke aku’ dalam hatiku, tapi aku selalu menghindari hal yang bikin aku semakin penasaran.
Perkemahanpun selesai, kita pulang dengan membawa badan yang capek. sesampainya di rumah kita langsung istirahat untuk memulihkan tenaga di ke esokan harinya.
Pagi itu, Juni 22 2015 kita mengadakan makan bersama seperti biasa kita bercanda untuk menjalin ke akraban, setelah kita makan di lanjutkan diskusi kecil untuk evaluasi kegiatan kkm kita, di situ terlihat Ketu sedikit aneh, dia sedikit ganjen dan cari perhatian ke aku, ‘aneh, jangan jangan dia naksir aku beneran?’ dalam hatiku.
Malam harinya Ketu mengirim pesan ‘Siti, aku tunggu di luar, aku mau ngomong sesuatu’, aku keluar dan bertemu dengan nya.
 ‘ada apa Ketu ?’ jawabku
‘kita duduk disini, ada sedikit masalah dengan aku’
‘masalah apa?’ jawabku
‘masalah hatiku jatuh cinta ke kamu Siti’
‘heh, ngawur kamu kita kan teman, aku juga sudah punya pacar, kamu juga sudah punya pacar, sudahlah Ket’ jawabku
‘tapi kan itu gak masalah, yang penting aku sudah menyampaikan hal seperti ini, aku harap kamu mengerti, aku jelaskan ya, memang benar kita sekarang saling punya kekasih, setidaknya aku menyampaiakan perasaanku meskipun rasanya tidak mungkin, ibaratnya aku akan memeluk bulan tapi mungkin setelah kkm berakhir cintaku juga akan berakhir’
‘sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama seperti mu, tapi apa boleh buat, aku sudah ada yang memiliki, kamupun juga’ ucap dalam hatiku.
Kegiatan kkm sudah berjalan 25 hari, dua hari kedepan kita sudah berpisah dan kembali ke kampus.
Pada saat acara perpisahan, kita mengadakan makan bersama warga dan mendengar sedikit ceramah dari kepala suku, setelahnya karena sudah larut malam, usailah acara perpisahan.
‘kamu jangan masuk rumah dulu ya, aku mau bilang sesuatu’ ucap Ketu
Semua sudah selesai dan mulailah perbincangan kita.
‘aku berpesan, setelah kkm ini berakhir berakhirlah rasa ini, jadikan aku teman baikmu, aku berharap sampai kapanpun kamu selalu ingat aku’ ujar Ketu dengan nada halus.
‘iya, sebenarnya aku juga menyimpan perasaan sama seperti kamu, tapi apalah kita sudah punya jalan sendiri dan sama sama punya kekasih ‘
‘ini ada bunga, simpan bunga ini sampai kapanpun, aku tidak memiliki hak untuk mengambil hatimu dari kekasihmu’ ujar Ketu
‘terimakasih bunganya, kamu akan tetap jadi pemuja rahasiaku’
Ke esokan harinya, kita bersiap siap pulang tak lupa berpamitan dengan warga sekitar dan setelah selesai kita bergegas menuju rumah kita masing masing.



By : aini hayatul hikmah
Pondok Darun Nun

Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar