Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Berkata Yang Baik atau Diam

Ramadhan Kareem...Alhamdulillah hilladzi bini'matihi tatimmus sholihat....Pujian hanya untukNya yang telah berikan kita anugrah nikmat iman dan islam yang indah luar biasa. Kenikmatan paling indah dan terbesar adalah bisa merasakan indahnya iman, tak semua orang mampu merasakan manisnya iman. Maka Ramadhan ini menjadi moment yang sangat tepat untuk menanam pahala sebanyak-banyaknya dan kelak akan kita petik hasilnya di akhirat. Semoga hari hari kita dipenuhi dengan amalan yang terus mendekatkan diri kita kepadaNya. Semoga Ramadhan ini jauh lebih baik, dari tahun tahun sebelumnya. Semoga Ramadhan ini bisa memberikan perubahan yang lebih baik dalam pribadi kita, karena sesungguhnya kesuksesan Ramadhan kita akan terlihat ketika kita telah keluar dalam Ramadhan ini. Mampukah kita melawan nafsu yang sering merajai hati dan akal kita. Padahal nafsu harus menjadi prajurit dalam hidup kita, akal menjadi perdana mentri dan hati yang menjadi rajanya. Maka jika itu bisa kita tata dengan baik, insyaallah bisa menjadi pribadi yang lebih baik.


Kultum Shubuh tadi pagi di Masjid Baiturrahman yang disampaikan oleh Ustadz Nur Kholis adalah tentang berkata yang baik atau diam. Rasulallah bersabda : Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir , maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam. Hadist ini mengajarkan kita untuk selalu berhati hati dalam berbicara. Dalam sebuah mahfuzat juga disebutkan, salamatul insan fii hifdzil lisan, selamatnya manusia itu jika menjaga lidahnya. Berbicara tentang ini kita sering mendengar bahwa Diam itu adalah Emas. tapi tentu kita harus memperhatikan keadaan seperti apa kita harus diam dan berbicara. 

Sebuah hikayat diceritakan, seorang kaya ingin bersedekah kepada seorang fakir yang buta. Orang kaya tersebut sudah menyiapkan uang sepeluh ribu untuk diberikan kepada orang fakir ini. Ternyata orang kaya ini salah memberikan kepada orang fakir, yang diberikan adalah uang seratus ribu. Keesokan harinya ,orang fakir ini akan berbelanja sayur , ketika sudah memilih yang akan dibeli, orang buta ini membayar kepada tukang sayur, setelah orang buta membayar kepada tukang sayur, tukang sayur berkata kepada orang buta tersebut, pak, ini uangnya masih ada kembalian,,,kata tukang sayur. Orang buta ini terkejut, lho memangnya berapa uang saya ini pak? kata orang buta ini. Seratus ribu jawab tukang sayur, orang buta ini terkejut ternyata uang yang diberikan oleh orang kaya itu banyak sekali. Orang buta ini datang lagi ke orang kaya itu dan mengatakan terima kasih karena telah memberikan uang seratus ribu. Orang kaya ini terkejut , ternayata dia salah memberikan uang. Orang kaya ini tertegun bahwa orang ini sangat jujur walaupun fakir dan buta. Orang kaya ini menjadi ingin terus memberikan orang fakit tersebut setiap bulannya. secara tidak langsung perbuatan orang fakir yang buta ini memebrikan pelajaran berharga dalam hidupnya. inilah hikmah dari perkataan yang baik tersebut. 

Semoga apa yang disampaikan ini bermanfaat bagi kita semua, dan bisa mengamalkan apa yang Rasulallah ajarkan untuk kita semua. 

Izzati Ruba'ie
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar