Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Sekejam inikah dirimu?



(Zakiyah Nurmala)
Dyah AF


Kamu Pasti Bisa, itulah katanya dulu.
Untaian yang tak pernah dapat kutepis sampai saat ini. Wajahnya yang teduh menuntunku menuju harapan yang entah mengapa selalu bertepuk sebelah tangan. Tiada yang mensupport. Selain dia, arai-ku.
Saat itu arai sungguh dicintai oleh zakiah nurmalanya. Dia mengajakku menuju tempat yang kuimpikan. Perlahan aku menyadari, kesulitan kita ke tempat itu bagaikan kesulitan yang saat ini pun harus dibayar demi impian masa depan. Dan kebahagian dapat berkunjung ke sana pun sebagai contoh bagaimana rasa bahagia saat kita dapatkan impian kita demi islam kita nanti.


Sekejam Inikah dirimu?
Arai dan Zakiyah nurmala memang selalu Berpisah di awal perjalanan hidupnya. Mengabdikan diri dengan sahabat sejati itu memang indah. Kukira allah berniat untuk menaruh kita di tempat yang sama, namun kala itu semua sirna.
Bagai wajah disiram pasir yang basah, susah untuk kuhilangkan rasa malu di wajah. Tepat saat kami berada bagai langit dan ujung magma. Jauh tak hingga. Kepandaian dan kearifan yang telah terbentuk membawanya melayang jauh menuju tempat yang tak dapat kucapai.
Dan aku merasa bahwa kini akulah yang terendam dalam panasnya inti bumi. Bergerak hilir mudik ke kanan kiri namun taka da celah yang mau menerima. Itulah keadaan yang kurasakan. Malu, tak punya prestise, tak punya sesuatu.

Sekuat apakah diriku?
Zakiyah bukan sekedar gadis desa. Kucoba bangkit dari keterpurukan. Ketika ditanya, kamu dimana sekarang ini. Rasa malu memang memuncak. Seakan runtuh rumah ditubuhku. Namun, pelan selangkah demi selangkah kuyakinkan kaki untuk berdiri. Sendiri, karena bagiku taka da arai-arai yang lain lagi. Kututup mata penuh makna, kugenggam tangan dengan kekuatan dunia. Aku berjalan selangkah kebelakang untuk melesat sejauh mungkin kedepan.
Bagai magma di dapurnya yang terdalam. Aku menerobos keluar dan muncrat diatas langit-langit cantik. Tak kan kubiarkan lagi diri ini penuh dengan penyesalan. Kumulai bangun dan menghadapi keterpurukan.

Sekuat apakah diriku?
Senyuman gadis berkerudung merah, Zakiyah Nurmala. Tak dapat lagi kubersuara, dan tak dapat lagi kuuntaikan kata. Karena jarak yang terpaut telah membangun sekatnya.
Akhirnya memilih untuk melangkah sendiri memang bukan hal yang mudah. Namun selalu allah maha kuasa tak pernah sedetikpun lengah dari hambanya. Ditengah perjalanan, mulai banyak saudara yang mengiringi bahkan menuntun. Tak perlu lagi sendiri, jika bersama akan sebaik ini. Merekalah anugerah terindah bagi warna hidupku. Pejuang islam yang tanpa hentinya menebar berkah.
Senyum itu kembali merekah, prestasi itu mulai melimpah. Syukur dan istighfar selalu yang kupengang agar diri ini tak lengah dan akhirnya terseret ke neraka.

Sekejam Inikah dirimu??
Kamu Pasti bisa, itulah katanya dulu.
Namun beberapa waktu yang lalu, kulihat dirimu mengangkasa, membumbung tinggi di cakrawala. Menggapai impian yang belum sampai padaku. Dengan senyum yang merekah kau menimba ilmu di tempat yang kau idamkan.
Bahagia, Namun Iri juga mengusai jiwaku saat ini. Aku iri pada arai-ku yang sungguh memesona. Namun Iri-ku ini taka pa. ustadz  pernah berkata bahwa tak apa mengiri dengan orang berilmu dan mengamalkannya.

Maka,
Sekejam Inikah dirimu, membuatku iri pada kontribusimu??


Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar