Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

RE- REGULASI FDI DI INDONESIA MENYONGSONG MEA (KONSEP NEGARA KESEJAHTERAAN)

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

 
Globalisasi yang telah menjadi resiko seluruh warga dunia saat ini memberikan konsekuensi bagi seluruh negara untuk masuk dalam pusaran dinamika dunia, baik dinamika budaya, politik, keamanan, termasuk dalam pusaran ekonomi global. Dalam upaya menyambut masa depan yang lebih baik, negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) berinisiatif untuk melakukan perkembangan melalui proyek besar lingkup regional yang berupa MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) atau AEC (ASEAN Economic Community). Aspek ekonomi menjadi bidikan empuk dan persoalan yang paling urgen dalam pembahasan MEA. MEA sendiri merupakan suatu bentuk kesepakatan antara 10 negara di ASEAN membentuk system free trade di kawasan Asia Tenggara.
Indonesia sebagai negara yang sedang menggiatkan proses transisi menuju negara maju, tentu memerlukan persiapan dan kebijakan guna menghadapi percaturan kompetitif masyarakat global. Tentunya harus ada integrasi dari berbagai aspek factor pembangunan sehingga terwujud pola pembangunan bangsa yang matang. Meski demikian harus ada pemikiran yang terpadu yang harus dipikirkan secara utuh terkait kebijakan yang dikeluarkan.
Persoalan MEA tidak hanya sebatas pada perdagangan bebas saja, tetapi juga merambahnya perpindahan sector produksi berupa kebebasan lalu lintas modal, mencari pasar murah, dan relokasi industri yang tidak bisa dihindari. Dalam hal perpindahan produksi akan berkaiatan dengan foreign direct investement. FDI sendiri di Indonesia telah lama menjadi “teman setia” guna meningkatkan iklim pertumbuhan ekonomi negara. Dari Sabang sampai Merauke bertaburan kekayaan alam yang tak terhitung jumlah dengan bermodalkan iklim tropis menjadi daya dukung, membawa Indonesia menjadi salah satu magnet perekonomian di dunia. Tak pelak hal itu membawa Indonesia masuk ke dalam daftar 20 negara peraih foreign direct investment  terbesar di dunia. Menurut laporan UNCTAD pada tahun 2013, Indonesia berada di peringkat 18 dengan memperoleh FDI sebesar 18 milyar dollar AS. Dari negara ASEAN, hanya Indonesia dan Singapura yang ikut tergabung dalam daftar 20 negara tersebut. Singapura sendiri berada jauh dari Indonesia yaitu berada di urutan ke-6 dengan perolehan FDI sebesar 64 milyar dollar AS. Hal itu cukup membuktikan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara paling agresif dalam menarik Investor asing.
FDI dinilai mempunyai korelasi yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Berkat eksistensi perusahaan asing di Indonesia melalui investasi asing langsung telah memberikan kontribusi kepada negara dengan terserapnya banyak tenaga kerja. Pada tahun 2013, terhitung telah 1.1 juta tenaga kerja terserap dari FDI dan pada Januari hingga September terserap sekitar 720.000 tenaga kerja. FDI dinilai mempunyai andil besar terhadap terciptanya pertumbuhan ekonomi yang kondusif. FDI diperlukan guna membenahi infrastruktur sebagai solusi keterbatasan anggaran negara.
Namun demikian, pergolakan MEA dirasa menjadi moment penting dalam membenahi pengelolaan FDI di Indonesia. Selama ini, Indonesia telah terbuai dengan investasi asing sebagai upaya peningkatan produktifitas perusahaan Indonesia. Namun, ada yang perlu ditelaah kembali bahwa Indonesia perlu mengatur ulang terkait kebijakan masuknya FDI ke Indonesia melalui strategi- strategi praktis sesuai dengan konsepsi negara kesejahteraan. Dengan demikian, Indonesia dapat meminimalisisr dampak negatif FDI dengan pola pengaturan tersebut. Pengaturan kembali tersebut dapat ditinjau melalui beberapa pendekatan kebijakan, di antaranya; Pertama, pendekatan alokasi. Hal ini dikarenakan masih banyaknya daerah- daerah yang perlu disentuh oleh FDI guna meningkatkan pertumbuhan ekonominya. Selama ini masih dirasakan terpusat pada kota- kota besar khususnya di Jawa. Padahal daearah seperti Kalimantan, Sumatera perlu dijadikan santapan bagi FDI yang nantinya dapat mempercepat pembangunan infrastruktur daerah tersebut. Kedua, pendekatan lingkungan. Masuknya FDI bukan tidak mungkin akan munculnya degradasi kondusifitas lingkungan. Kerusakan lingkungan muncul akibat FDI yang masuk tidak terkontrol dengan baik. Biasanya negara berkembang secara kompetitif akan menarik investor melalui penurunan standar proteksi lingkungan. Di lihat dari sudut pandang jangka pendek memang akan berdampak positif, namun jika ditinjau lebih dalam hal itu justru akan menambah permasalahan kerusakan lingkungan hidup yang kerugiannya jauh lebih besar dari keuntungan yang dapat diraup melalui FDI. Segi ekologikal ini perlu diperhatikan secara menyeluruh. Ketiga, pendekatan budaya. Manusia merupakan pemain dalam sandiwara kehidupan. Sehingga betul bahwa manusia adalah pembuat sejarah budaya suatu bangsa. Namun, jejak sejarah ini tidak akan muncul tanpa hadirnya factor eksternalitas yang dapat mempengaruhi internal manusia. Salah satunya adalah budaya konsumtif. Eksistensi FDI yang tidak terkontrol dengan baik meningkatkan  juga dinilai akan menciptakan budaya konsumtif yang berlebihan. Indikator pertumbuhan ekonomi meningkat adalah adanya kenaikan tingkat daya beli masyarakat. Namun yang perlu digaris bawahi, jika hal itu tidak dikelola dengan baik akan manimbulkan kompetitif masyarakat yang tidak terkontrol dan berujung pada degradasi jati diri bangsa.
Dengan demikian, diperlukan antipasti dini atau pegaturan kembali dalam pengelolaan FDI yang masuk ke dalam negeri. Sehingga dampak negative yang timbul dapat diminimalisir dengan baik. Integrasi dalam segala aspek kehidupan mewujudkan konsep negara kesejahteraan tanpa mengurangi interaksinya dengan dunia asing.

Farla A.S.
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar