Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Meneladani Jejak Hidup Imam 4 Madzhab


Oleh : Miftachul Chusnia
Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Imam Ahmad Bin Hanbal (Part 1)
Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzuhl bin Tsa’labah bin Ukabah bin Sha’b bin Ali bin Bakar bin Wa’il, Imam Abu Abu Abdillah Asy-Syaibani. Demikianlah garis keturunan Imam Ahmad Ibn Hanbal.
Imam Ahmad dilahirkan pada tanggal 20 Rabi’ul Awal 164 H di Baghdad. Ibunya adalah keturunan Syaiban yang bernama Shafiah binti Maimunah binti Abdul Malik Asy-Syaibani, dari Bani Amir. Sedangkan Bapaknya berasal dari Bashrah yang merupakan seorang tentara.  Namun beliau meninggal dalam usia tiga puluh tahun disaat Imam ahmad masih kecil.
Ahmad tumbuh dewasa di Baghdad dan sejak kecil dia sudah sangat antusias terhadap buku. Dia pernah mendengar (riwayat atau ilmu pengetahuan) dari Husyaim, Ibrahim bin Sa’ad, Sufyan bin Uyainah, Yahya Al-Qaththan, Ubad bin Ubad dan ulama lain yang sezaman dengannya. Dia juga sempat mendengar di Iraq, Hijaz, Syam, dan Yaman. Kegigihan dan kesungguhannya telah melahirkan banyak ulama dan perawi hadits terkenal semisal Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Abu Daud yang tak lain buah didikannya. Karya-karya mereka seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim atau Sunan Abu Daud menjadi kitab hadits standar yang menjadi rujukan umat Islam di seluruh dunia dalam memahami ajaran Islam yang disampaikan Rasulullah SAW lewat hadits-haditsnya.
Kepakaran Imam Hanbali dalam ilmu hadits memang tak diragukan lagi sehingga mengundang banyak tokoh ulama berguru kepadanya. Menurut putra sulungnya, Abdullah bin Ahmad, Imam Hanbali hafal hingga 700.000 hadits di luar kepala. Hadits sejumlah itu, diseleksi secara ketat dan ditulisnya kembali dalam kitab karyanya Al Musnad. Dalam kitab tersebut, hanya 40.000 hadits yang dituliskan kembali dengan susunan berdasarkan tertib nama sahabat yang meriwayatkan. Umumnya hadits dalam kitab ini berderajat sahih dan hanya sedikit yang berderajat dhaif. Berdasar penelitian Abdul Aziz al Khuli, seorang ulama bahasa yang banyak menulis biografi tokoh sahabat, sebenarnya hadits yang termuat dalam Al Musnad berjumlah 30 ribu karena ada sekitar 10 ribu hadits yang berulang.
Kepandaian Imam Hanbali dalam ilmu hadits, bukan datang begitu saja. Menurut Ibnu Qayyim, salah seorang pengikut madzhab Hanbali, ada lima landasan pokok yang dijadikan dasar penetapan hukum dan fatwa madzhab Hanbali. Pertama, nash (Al-Qur'an dan Sunnah). Jika ia menemukan nash, maka ia akan berfatwa dengan Al-Qur'an dan Sunnah dan tidak berpaling pada sumber lainnya. Kedua, fatwa sahabat yang diketahui tidak ada yang menentangnya. Ketiga, jika para sahabat berbeda pendapat, ia akan memilih pendapat yang dinilainya lebih sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW. Jika ternyata pendapat yang ada tidak jelas persesuaiannya dengan Al-Qur'an dan Sunnah, maka ia tidak akan menetapkan salah satunya, tetapi mengambil sikap diam atau meriwayatkan kedua-duanya. Keempat, mengambil hadits mursal (hadits yang dalam sanadnya tidak disebutkan nama perawinya), dan hadits dhaif (hadits yang lemah, namun bukan 'maudu', atau hadits lemah). Dalam hal ini, hadits dhaif didahulukan daripada qias. Dan kelima adalah qias, atau analogi. Qias digunakan bila tidak ditemukan dasar hukum dari keempat sumber di atas.
Hasil karya Imam Hanbali tersebar luas di berbagai lembaga pendidikan keagamaan. Beberapa kitab yang sampai kini jadi kajian antara lain Tafsir Al-Qur'an, An Nasikh wal Mansukh, Jawaban Al-Qur'an, At Tarikh, Taat ar Rasul, dan Al Wara. Kitabnya yang paling terkenal adalah Musnad Aḥmad bin Ḥanbal.
Imam Ahmad menyusun kitabnya yang terkenal, al-Musnad, dalam jangka waktu sekitar enam puluh tahun dan itu sudah dimulainya sejak tahun tahun 180 saat pertama kali beliau mencari hadits. Beliau juga menyusun kitab tentang tafsir, tentang an-nasikh dan al-mansukh, tentang tarikh, tentang yang muqaddam dan muakhkhar dalam Alquran, tentang jawaban-jawaban dalam Alquran. Beliau juga menyusun kitab al-manasik ash-shagir dan al-kabir, kitab az-Zuhud, kitab ar-radd ‘ala al-Jahmiyah wa az-zindiqah(Bantahan kepada Jahmiyah dan Zindiqah), kitab as-Shalah, kitab as-Sunnah, kitab al-Wara ‘ wa al-Iman, kitab al-‘Ilal wa ar-Rijal, kitab al-Asyribah, satu juz tentang Ushul as-Sittah, Fadha’il ash-Shahabah.
Keteladaan Seorang Imam
     Dari jejak perjalanan hidup imam Ahmad bin hanbal banyak sekali pelajaran yang dapat kita teladani dalam mengarungi kehidupan di dunia. Salah satu hal yang dapat kita contoh dari sang imam adalah sebuah arti kesederhana. Keterbatasan ekonomi yang dialami sejak kecil ternyata berlangsung hingga Ahmad muda beranjak dewasa dan berkeluarga. Imam ahmad pun menjalani kehidupan dengan penuh kesederhanaan. Beliau membiayai kehidupan sehari-hari dari perolehan sewa rumah warisan sang ayah. Dengan uang sewa, beliau menahan diri untuk tidak meminta minta kepada orang lain. Berbekal semua sumber penghasilan yang dimiliki, tidak ada seorang pun yang ragu  bahwa jumlah tersebut tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari. Namun demikian, ahmad tetap bersikukuh dan mengajarkan kesederhanaan kepada anak anak beliau agar merasa cukup dengan apa yang ada.
     Az-Zahaby-sahabat imam-suatu ketika menceritakan bahwa Imam Ahmad memiliki seorang tetangga ketika belajar kepada Sufyan bin Uyainah di Mekkah. Suatu ketika, beliau tidak hadir selama beberapa hari dalam majelis kajian. Az-zahaby pun mencari dan menanyakan keadaan Imam Ahmad. Dan ternyata baju beliau dicuri, padahal baju tersebut adalah baju satu-satunya yang dimiliki. Tetangga yang mendengar pun memberi Ahmad sejumlah uang. Sayangnya, uang tersebut ditolak dan sebagai gantinya beliau bekerja kepadanya sebagai penulis buku. Akhirnya, dari hasil tersebut beliau membeli baju.
     Dari sini, dapat kita mengambil pelajaran. Sering kali kita bermewah mewahan. Menghambur hamburkan uang dan sering kali tidak mengahrgai kerja keras orang tua. Betapa susahnya mereka yang banting tulang mencari rezeki untuk kita sekolah, untuk makan, dan keperluan keperluan yang lain. Namun tak pernah kita sadari kita terlalu mudah untuk menjadi budak fashion sehingga tidak memanfaatkan dengan baik hasil keringat beliau. Inilah satu hal yang perlu kita renungkan.

Referensi ;
1.  Ibn Hanbal, Ahmad. 2006 Musnad Imam Ahmad.Terj. Fatturrahman Abdul Hamid, dkk. Jakarta:PustakaAzam.
2.       Sumbulah, Umi. (2013). Studi 9 Kitab Hadis Sunni. Malang: UIN-MALIKI Press.



Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar