Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MELAMAR SYURGA




Mereka bilang aku GILA
“Apa sih ris yang ada di fikiranmu?” dia mendudukanku dibangku panjang tepat di bawah langit mendung yang mewakili hatiku saat ini.
“Apa yang kamu fikirkan?”tanyanya lagi dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya. Ingin rasanya aku memberontak, membentak dia yang ada dihadapanku. Ingin kumuntahkan semua rasa sesak yang ada dihatiku ini. Dia kira siapa yang paling  merasa sakit disini? Hatiku memberontak dan menangis geram tapi mulut dan mata ini hanya tertutup dan tertunduk dalam. Tak mampu lagi kata mewakili perasaanku.
“Kamu tahu apa yang kamu lakukan tadi malam, huh?” Sekali lagi dia memicingkan matanya padaku.
“Entahlah kak, “ jawabku pasrah. Kucoba sembunyikan rasa malu dan kecewa yang bercampur jadi satu. Tapi sepertinya gagal. Kakak terduduk layu. Air matanya menetes begitu pula aku.
“Kamu tahu ris, bukan hanya kakak yang merasa malu atas perbuatanmu, tapi ayah, ibu dan keluarga besar. Semua merasa itu.” Suaranya mulai bergetar. Aku tahu dia tak dapat menyembunyikan tangisnya. Ingin kuucap maaf, namun yang ada hanyalah bibir yang terdiam getir. Tak kuat lagi burucap sepatah kata. Hanya air mata yang mewakilinya.
Dalam diam memoriku melayang pada kejadian kemarin malam. Ingin rasanya kuulang dan tak lakukan kesalahan. Malam  kemarin, yang membuatku tak lagi punya muka untuk sekedar berbicara pada keluarga apalagi tetangga. Malam yang memangkas habis harapan kebahagiaan hidupku esok.
Malam itu, aku yang baru saja menyelesaikan sholat isya’ dikagetkan oleh bisikan kalimat dari ibu
“Ada tamu laki-laki didepan” kulihat mata ibu yang begitu berbinar, senyumnya mengembang bak bunga mekar.
“tamu?”gumamku dalam hati, aku tak merasa ada seorang yang kuundang malam ini. Sejenak kutepis rasa penasaran. Kukenakan kerudung dan tinggalkan mukenah di cantolan paku kamar,  melangkah menuju balik selambu yang menyekat antara ruang tamu dan ruang tengah.
“Allah” hanya itu yang terucap dengan deguban jantung yang berangsur capat. Seorang lelaki berbaju koko hitam yang selalu hadir dalam mimpi sedang duduk di depan ayah.
ada apa gerangan dia datang tanpa mengirim pesan?
Sayup kucoba dengarkan suaranya.
“Jadi begini pak, maksud kedatangan kami ke sini.” Dia mulai berkata. Jeda, yang membuatku begitu penasaran.
“ini tentang arista”
Entah mengapa ketika namaku disebut. Denyut jantung serasa saling bersahut. Dibalik itu tersimpan harap yang besar ingin segera disambut.
“Kami di sini untuk mengajukan lamaran kepada anak bapak”
Apa? Apa tas salah yang aku dengar? Kumohon ulangi sekali lagi. Apakah ini bukan hanya halusinasi. Tapi aku yakin ini bukan halusinasi. Ibu menyambutku dengan senyuman dan menenggelamkanku dalam pelukan. Apa ini? Apa ini ya Allah.. kurasakan degup jantungku kian kencang, senyumku semakin mengembang. Namun mata ini entah mengapa menitikkan satu- satu air matanya. Allah.. ibuku menataoku lekat. Tiada kata yang terucap tapi makna jelas tersirat padanya. Seakan dia berkata “nah anakku, ibu turut bahagia atas kebahagiaanmu.” Bagaimana tidak, selama ini hanya kepada beliaulah rasa ini bermuara, beliaulah satu-satunya yang tahu bahwa aku mendamba pria berbaju koko itu.
Hilal namanya. Tiada harta dimiliki, tak begitu tampan juga, tapi akhlaknya subhanallah sungguh aku tak dapat mencerita. Dialah orang pertama yang kuimpikan jadi imamku. Maka malam itu, betapa tidak bahagia jika hati bersambut dengan yang didamba. Sungguh rasa syukur tak henti kuucapkan, begitu pula ibu. Namun, tetap dalam dekapan ibu sayup kudengar perkataanya. Satu kata. Satu kata yang mengobrak-abrik semua fantasi. Membombardir diri.
“inilah pak, Fahmi namanya”
                Segera kulepaskan pelukan ibu. Aku kembali menengok keluar. Apa maksudnya??. Lalu seakan Lututku lunglai seketika. Aku terduduk tak kuasa menopang diri. Dia ternyata tidaklah sendiri. Ada pria yang sedari tadi duduk disampingnya. Yah. Dan aku sama sekali tak menyadarinya.
“ini fahmi pak, teman yang sudah kenal dengan rista beberapa bulan yang lalu. Dialah yang meminta kepada saya untuk menemani dalam rangka mengkhitbah arista. Saya sangat senang pula. Saya kenal beik dengannya di masa kami sama-sama di universitas. Sekarang beliau sudah menjadi dosen di salah satu universitas negeri di Jakarta. Bukan orang asli jawa pak, sebab itusaya membantunya menyampaikan maksud dengan sesuai adat dan etika di sini ”
Aku tertunduk semakin dalam tak kuat merasakan perihnya kekecewaan Yah tepat sekali dugaan dalam hatiku. Dialah fahmi, temannya yang beberapa bulan terakhir menghubungiku. Namun tak pernah terbesit dalam hatiku jika dia bermaksud mempersuntingku.
Ibuku ikut duduk, memelukku dengan lembut. Ingin kuberkata padanya. Ibu, aku harus apa? Katakana padaku bu. Bukan ini yang kuharapkan. Sungguh bukan ini. Mana mungkin aku bias menikah dengan seorang yang merupakan sahabat dari orang yang kucinta sedari dulu?. Mana bisa hati ini menanggung gejolak tak menentu setiap detiknya nanti. Mana boleh seperti itu? Bagaimana perihnya hatiku? Dan bagaimana nelangsanya hati fahmi?
                “Hilal, Fahmi. Untuk masalah ini bapak serahkan keputusan pada arista sendiri. Bapak percaya dialah yang lebih faham akan keputusan yang diambilnya nanti.”
                Kulepas pelukan ibu. Aku tak tahu apa jawaban yang harus kuberikan. Namun hanya satu inginku, tak menyakiti hati banyak orang nantinya. Mungkin ibu tahu apa kata yang akan terucap. Dipegangnya tanganku erat seakan berucap jangan. Namun tak tahu kekuatan dan keberanian dari manakah ini. Atau kelancangan bibirku sendiri.
“Bapak maaf, mas hilal dan mas fahmi maafkan saya. Saya hanya tak dapat menjawab pertanyaan yang bergelayut dalam diri. Bagaimana saya dapat menerima pinangan mas fahmi, jika di setiap shalat dan saat ini pun yang ada dalam hati dan doaku adalah orang yang mengantar mas fahmi dating ke sini?”
Ibu mencengkeram tanganku dengan keras. Lalu dihempaskannya di udara. Beliau seakan begitu kecewa dengan keterburuanku. Beliau marah dengan jawabanku yang pasti akan membuat malu mas fahmi sang pelamar, apalagi bapakku yang menerima tamu. Namun apa daya, tidak dapat kubohongi lagi. Tak dapat kuteruskan lagi.
Hatiku semakin sesak seiring tangisan yang semakin terisak. Semua diam, senyap. Seakan setiap orang sedang beradu dialog dengan dirinya sendiri. Bapak tak terdengar lagi suaranya, maupun tamu berdua. Ibu berjalan lunglai dan terduduk kembali di depan pintu kamarnya. Entah apa yang terjadi, hanya selanjutnya kudengar mas hilal mengucap maaf dan selanjutnya mereka pergi. Suara kata maafnya saat itu masih terngiang sampai sekarang. Dia mengucap maaf. Bukan yang lain. Dan perihnya mendengar jawaban itu tak bisa kutemukan obatnya. Mungkin inilah ganjaran agar aku merasakan betapa pedih perasaan mas fahmi ketika aku memberikan jawaban itu. Dan kesalahan ini akhirnya membawa hukuman berat bagi hidupku.

………………………………………….. To Be Continued. Insyaallah.

Dyah Ayu Fitriana
Bukit Cemara Tidar



Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar