Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Masalah Bawang dan Brambang




Saat senja mulai menampakan diri, kita – kira jam menunjukan 16.44 WIB. Di sebuah kamar kos yang setiap hari kudatangi. Dreeett getar HP ku, satu pesan. Segera jemariku menekan tulisan Lihat, distu tertulis pondok Nila, yah sms itu dari dek Nila salah satu patner masakku.
“mbk, pean ada dimana? G pulang ke pondok ta??”
Dengan segera kubalas sms itu “plang nanati. Kenapa dek?? Dek Indah gak ada ta??” ku mengerti maksud dari sms itu, yah hari ini bertepatan dengan hari Jum’atn, hari diman aku, dek Nila dan dek Indah masak.
Beberapa menit kemudian, kulihat kembali si hitam yang selalu tidak ketinggalan kemanapun ku pergi. Namun tak ada balasan, dengan segera ku langsung balik ke pondok.
Sesampainya dipondok, langsung kutaruh tas di best room in pondok, hehe ya di kamarku. Disitu ada mbk Izza.
“mbk dek Indah pulang ta??” langsung kulontarkan pertanyaan itu padanya.
Dengan lemas, mungkin karena capek plus lapar menjawab “ gak tahu dek, belum ada yang masak dek”.
Tanpa bertanya lagi ku menuju ruangan yang kira – kira berukuran 2 x 2 meter itu. Di meja itu, ternyata sudah siap bahan – bahan sekaligus bumbunya. Yang mungkin sudah disiapkan dek Indah sebelum dia pergi. Maklumlah di antara kita bertiga yang paling mahr memasak ya dek Indah meski dia yang paling muda diantara kita.
“syukurlah desisku”. Tanpa lagi membuang waktu segera kulakukan apa yang aku bisa, menanak nasi buat oseng – oseng dari bahan yang telah tersedia.
“dek, kakak bantuin apa ini??” Tanya mbk Izza
“itu mbk, lihatkan bumbunya apa sudah siap dimasukan bahan - bahannya” sambil mencuci beras.
Tak lama Adzan di Baiturrahman berkumandang, Risa dan dek Nila datang, entah dari mana.
Ku merasa bersaah pada Risa, waktunya berbuka nasi tinggal sisa tadi pagi itupun gosong sebagian. Sedang lauk belum ada.
“ya Alloh, maafkan aku ris”. Dalam hatiku.
Beberapa saat kemudian oseng – oseng yang sekaligus lauk itu sudah mateng meski rasanya aga aneh, mungkin karena yang masak juga aneh hehe
“mbk koq aneh ya rasanya??” tanyaku ke mbk Izza.
“enak koq dek, mungkin kasih kecap.” Menghiburku.
Setelah dikasih kecap “koq tetep aneh ya mbk??”. Tanyaku lagi.
“gpp, enak koq dek”. Jawabnya lagi
Yah pikiran sama tingkah juga tak menentu, kesusu ke masjid karena waktu magrib juga cumin sebentar tapi masakan rasanya yah aneh.
“Ris, ini oseng – osengnya uadh mateng koq”. Panggilku ke Risa
Risa menuju dapur dan mengambil makanan aneh itu, seblum dia merasakannya terlebih dahulu kuperingatkan. “tapi rasanya aneh Ris”.
Risa segera mencicipi, “enak koq fik” dengan senyum khasnya. Yah dia mencoba meyakinkanku kalau dia menyukai itu karena mungkin dialah satu – satunya teman pondok yang mungkin paling mengerti aku. Mengerti bahwa aku cewe tomboy yang alergi dapur, tak mengrti alat dan bahan – bahan utuk memasak.
“yah sudahlah”. Celetus ku.
Dengan segera ku kekamar mandi untuk berwudhu’, saat keluar dari kamar mandi ku lihat Risa makan di depan kamarku dengan menikmati masakan aneh itu. Hatiku semakin tersayat – sayat, maafkan sahabatmu yang takbertanggungjawab ini.
“Ris, maaf ya” spontan kukatakan itu.
“labaksa fik”. Tetap dengan senyumannya.
Aku hanya membalas dengan senyuman juga, dan langsung meninggalkannya untuk berangkan ke masjid.
Sesampai dimasjid, benar aku memang telat. Mungkin bukan hanya telur yang aku dapatkan tapi kulit telurnya soalnya perada di sof yang sudah mau bubar. Tapi tak apalah, mending telat daripada tidak sama sekali.
Kusholat, dirokaat terakhir, ada yang menepuk pundakku. Yah tanpa menoleh ku yakin itu Risa. Karena hanya dia yang biasanya meski telat tetap ke Masjid.
Kembali ku teringat kejadian sore tadi, tapi aku hanya bisa merenungi. Kenapa saat dulu aku memiliki amanah dalam organisasi itra kampus aku menjadi tauladan paling bertanggungjawab namun saat aku ditempatkan diposisi sebagai kodratnya wanita, aku merasa tertekan dan terbebani. Yah, mungkin karena didikan orang tuaku yang tidak pernahmembiarkan ku didapur, bahkan aku lebih sering ikut aba ke sawah. Disawah aku lebih senang meski panas – panas dari pada di dapur yang setiap kali masak pasti hancur endingnya.
Suara adzan kembali berdering, tanda alarm waktu Isyak telah tiba. Yah, aku dan Risa terbiasa mungunggu adzan dimasjid. Tanpa tegur sapa, bahkan malam itu aku enggan menoleh padanya. Karena aku merasakan rasa bersalah pada dia sahabatku.
Selasai sholat kami santri Darun Nun, kembali kepondok dan menjalankan aktivitas sendiri – sendiri. Sampai dikamar, ternyata dek Indah sudah balik.
“mbk, tadi siapa yang masak?” Tanya dek Indah
“saya, dek.” Jawabku.
“tadi sudah di kasih bawang dan brambang ta mbak bumbunya?” Tanya dia lagi.
Wajahku tersontak kaget “haha pantesan aneh, jadi tuh bumbu gak ada bawang dan brambange togh dek??” tanyaku balik.
“lhoh belum mbk, blab la bla” jawaban dek Indah seperti biasanya, menjelaskan meski tidak diminta.
Haha aku cekikian sendiri, ya Alloh beginilah orang yang anti dapur, bumbu yang paling vital aja gak tahu. Astagfirlloh, bagaimana suami dan anak-anak ku nanti.
“Ris, patesan rasanya aneh. Katanya dek Indah tuh bumbu memang belum ada bawang dan brambangnya” ceritaku padanya.
“tapi enak koq fik”. Jawaban yang dibuat untuk menyenangkan hatiku.
“yah, soalnya gak ada pilihan lain”. Sanggahku
“hehe iya mungkin, atau karena aku laper paling”. Akhirnya dia jujur juga.
Waktu sedah larut, aku satu – satunya santri yang paling tidak bisa diajak mele’an. Akhirnya ku kembali ketempat tidurku dan siap – siap tidur meski sesekali ku tertawa sendiri karena masak tanpa bumbu penting itu. Dan kepikiran tanggungjawab yang aku embanpun tak bisa kuselsaikan dengan baik hari itu, bahkan terkesan mendholimi mbak – mbak pondok, terutama sahabat sendiri. Ya Alloh jadikanlah hari itu pelajaran yang bisa membuatku menjadi wanita yang lebih baik dan bisa menerima kotratnya sebagai wanita yang bukan hanya mementingkan karir tapi juga calon ibu.



Sulung Zain (Fika)
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar