Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

F & P (Of Life)



Terisnpirasi dari Gus di PPBU Lumajang, melalui FB.
Pernahkah anda naik bis atau kereta api? Jika bis atau kereta api yang anda tumpangi penuh, terpaksa anda harus berdiri, bukan? Nah, ketika anda berdiri, semakin lama kaki anda akan terasa pegal dan sakit. Tahukah kamu apa yang terjadi?
Lagi lagi saya membahasnya dalam disiplin ilmu yang saya ketahui. Dalam hal ini, jelas bahwa ketika kita dalam suatu ruang tertentuyang terbatas kemudian ruang tersebut semaki dipenuhi baik oleh barang maupun manusia maka kita akan merasakan pegal sebab dalam ruang tersebut akan semakin besar tekanan sebab terdapat banyak gaya yang disebabkan oleh isim maupun fail yang terdapat pada ruang itu, sedangkan ruangannya tetap tidak berubah. Begitu dalam formula fisikanya:
P = F/A
Dengan P adalah tekanan, F adalah gaya dan A adalah luas penampang. Dengan demikian tekanan akan selalu berbanding lurus dengan gaya. Begitu juga, kehidupan kita selama ini. Apalagi dalam era dewasa ini, semakin orang itu bergaya (kakean gaya kata orang jawa) maka sebenarnya dia itu semakin tertekan. Entah dalam luas penampang berupa moril, materi, bahkan mungkin ibadahnya plesetan hukum fisika namun hal itu terbukti benar dan dapat diterima oleh akal.
Memang sih, manusia tidak pernah lepas dari segala masalah yang berhubungan dengan tempat dimana manusia bernaung dan tinggaldalam kehidupannya sehari-hari. Bagi manusia, tempat tinggal merupakan kebutuhan dasar (basic need), disamping kebutuhannya akan pangan dan sandang. Bahkan tak sedikit yang mati – matian berusaha mencari uang untuk membuata atau membeli rumah di daerah perumahan mewah meski perekonomiannya tidak begitu stabil. Hal ini semua demi menjaga gensi, sehingga jika diam di perumahan kelas VIP maka akan dipandang terhormat, di segani. Belum lagi ketika sudah bermasyarakat atau bergaul dengan lingkunagn sekitarnya, di tuntut memiliki hal-hal yang sama, entah itu gadge, mobil, pakaian bahkan juga tempat untuk sekolah anak. Mereka tidak menyadari semakin gensi maka gaya mereka akan terus meroket, sehingga banyak tekanan dalam kehidupannya, mungkin berawal dari perekonomiannya yang dituntut untuk bisa memenuhi, jika tidak terpenuhi akan merambat ke percekcokan keluarga, atau bahkan akan merasa iri, dengki dengan para tetangganya. Itu bukan hanya pada lingkungan masyarakat, tapi juga pada lingkungan mahasiswa, pelajar mungkinjuga sampai pada kelas pembantu. Jadi sangat jelas hokum fisika itu bahwa gaya akan selalu berbanding lurus dengan tekanan, dan hanya akan berbanding terbalik dengan luas penampang.
Duhai manusia, kodrat yang selalu kurang ditambah gaya yang melangit. Sadarlah bahwa hal itu hanya akan memberikan tekanan tingat langit juga, lebih baik kalian juga saya pribadi berusaha memiliki sifat rendah hati dan Qona’ah, namun tetap berikhtiar bukan bergaya. Apalagi bergaya dengan dalih Modernisasi, bukankah sudah banyak contoh hidup yang dibilang modern tapi malah terjerumus kedalam hal-hal negative dan berahir nista.
Seperti yang di lansir dari tulisan bapak Dr.H.Agus Mulyono, S.Pd, M.Kes “Mungkin sebagian masyarakat menganggap bahwa kehidupan malam merupakan nilai nilai modern. Bahwa modernisasi membawa suatu gaya hidup hedonis yang dapat memicu masyarakat untuk bergaya hidup modern.
Masyarakat yang dimaksud khusus para pemuda yang memang sepertinya mudah terpengaruh untuk selalu bergaya hidup modern.
Salah satunya adalah kehidupan malam. Menikmati dunia malam. Yang beberapa dikota kota besar termasuk kota kota pendidikan, ternyata para penikmat dunia malam adalah banyak dari mahasiswa.
Banyak dari mahasiswa yang menghabiskan waktu malamnya ditempat tempat hiburan malam, seperti cafe. club, jalanan dll.
Setiap malam, sampai larut malam bahkan sampai menjelang pagi... banyak dari para mahasiswa di Malang yang nongkrong memadati trotoar di jl Sukarno Hatta. Para mahasiswa menghabiskan waktu malamnya dengan ngobrol, roko'an, dan ngopi.
Banyak dari mahasiswa yang mempunyai kehidupan malam seperti itu. Mahasiswa tsb berasal dari berbagai perguruan tinggi.
Seorang mahasiswi dengan pakaian rapi terlihat berada di cafe sampai malam, sebelum kemudian dihampiri oleh seorang lelaki dan diajaknya pergi menuju sebuah hotel dan menghabiskan malamnya didalam kamar hotel.
Beberapa dari mahasiswi ternyata mempunyai kehidupan malam seperti ini.
Di kota kota yang menjadi tujuan pendidikan seperti Yogya, Malang, Surabaya, Bandung..., tidak lepas dari kehidupan malam dimana para mahasiswa yang menjadi objek sekaligus subjek yang terjerumus dalam kehidupan glamour, kehidupan malam yang sebenarnya mengancam terhadap pembangunan karakternya dalam rangka kehidupan masa depannya dan masa depan negerinya.
Pak kyai pernah berpesan pada santrinya, bahwa sebagian besar orang yang sukses (yang bisa membahagiakan banyak orang) adalah orang yang dapat sebaik baiknya memanfaatkan malam untuk membaca, berdzikir dan berdo'a, dan tidur cukup. Dan bangun sepagi mungkin untuk mulai beraktivitas.
Wallahua’lam

(Agus Mulyono, Malang 20 Oktober 2014)

                       Sulung Zain (Fika)

Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar