Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

LAPAR DATANG TUHANPUN DIMAKAN


 Amanatul Mubtadiah

Kemarin sore, ketika saya dan fitri, pergi kerumah Master Tegar Prajaksa sejam tidak ada yang istimewa dengan suasana disana, hanya pembicaraan kami yang terkesan berbeda. Hal ini terkait perubahan mental dan perilaku dari sang tuan rumah. Satu jam, akhirnya suara adzan dikumandangkan, tanda lonceng undangan pertemuan dengan Tuhan diderukan. Saya dan fitri disuguhi sebuah tumpukkan kertas yang nampak mengkilat bergambar merdu dibendel menjadi tatanan apik, dengan kofer merahnya. Sebetulnya buku ini bercerita tentang sejarah Rasulullah Muhammad SAW dan kisah hidupnya. Sekilas nampak betapa bagusnya buku ini, tanpa tahu isinya semua orang juga pasti akan bilang “buku ini bagus”.

Lembar demi lembar kami susuri kisah, lebih karena gambar yang disajikan. Mata kami terhenti dengan sebuah potongan cerita yang diletakkan di kotak berbeda berwarna orange. Guratan itu berjudul “Lapar Datang, Tuhanpun Dimakan”. Sungguh, judul yang menarik. Mata kami tak dapat menolak bau kisah yang menghambur begitu saja, menawarkan bau keingintahuan. Begini ceritanya.

Ada cerita menarik, terkait perilaku jahiliyah bangsa Arab. Suatu hari Sa’ib bin Abdullah sedang sibuk memahat patung berhala yang akan disembahnya. Tidak berapa lama. Patung itu terbetnuk. Wujudnya mirip manusia. Ada kepala, mata, hidung, tangan dan lainnya. Sa’ib dengan seksama memerhatikan hasil karyanya itu. Lalu ia ambil bejana berisi air susu kental, ia arahkan bejana ke lubang hidung patung dengan maksud agar susu itu dihirup. Sang patung tentu saja tak akan pernah bisa menghirup karena tidak bernyawa. Kemudian Sa’ib menyiramkan air susu ke tubuh patung. Byuur... byuur... byuur... patung itu basah kuyup.

Selang beberapa saat, datang sekor anjing menghampiri patung itu. Hidungnya mengendus-endus seluruh bagian tubuh patung. Hidungnya mengendus-endus seluruh bagian tubuh patung. Lidahnya dijulurkan. Dan apa yang terjadi? Anjing itu menjilati seluruh bagian patung. Setelah puas, anjing tersebut mengangkat satu kakinya dan mengencingi patung yang dijadikan tuhan oleh Sa’ib.

Lain lagi dengan Bani Hanifa. Patung yang mereka buat bukan dari kayu datau batu, tetapi tepung terigu. Tradisi inin telah berlangsung selama berabad-abad. Sampailah saat kaum ini diterpa bencana kelaparan. Panen gagal. Tak ada lagi pangan yang tersisia hanya tepung terigu yang telah berwujud patung. Karena perut tidak bisa diajak kompromi, mereka pun beramai-ramai memakan patung tersebut. Tak ada rotan, akarpun jadi. Tak ada makanan, Tuhanpun jadi, mungkin begitu yang ada di benak mereka.


Allahua’lambishowwab...


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar