Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

DUA BATU BATA JELEK





Cerita sederhana yang berhasil membuat hati tergugah. Jauh dibelantara pegunungan Thailand,  seorang biksu hutan bernama Ajach Brahm memulai hidup barunya. Dari hangar binger suasana Autralia, diputuskannya menjadi seorang biksu dikesenyapan. Dia bercerita padaku, dan inilah ceritanya:
………….
Saya mulai hidup disini dengan serba kekurangan. Jangankan kamar, dipan untuk tidurpun tak punya. Bersama biksu lain kami mulai membangun pondok kecil. Karena biaya yang tak ada, pengerjaan rumah baru harus dilakukan sendiri. Bagi saya, sorang mantan guru besar fisika, hal tukang menukang tidaklah mudah. Namun, lewat kegiatan inilah sebuah pelajaran berharga ditemukan.
Membuat dinding dari batu bata adalah pekerjaan pertama untukku. Tidaklah mudah ternyata. Kelihatannya gampang, tinggal tuangkan seonggok semen, sedikit ketok sana ketok sini. Ketika saya mulai memasang batu bata, saya ketok satu sisi untuk meratakannya tetapi sisi lainnya malah jadi naik. Lalu saya ratakan sisi yang naik itu, batu batanya jadi melenceng. Setelah saya ratakan kembali, sisi pertama jadi terangkat lagi. Coba saja sendiri!
Sebagai seorang biksu, saya memiliki kesabaran dan waktu sebanyak yang saya punya perlukan. Saya pastikan semua batu bata terpasang dengan sempurna, tak perduli berapa lama jadinya. Akhirnya saya menyelesaikan tembok batu bata saya yang pertama dan bediri di baliknya untuk mengagumi hasil karya saya. Saat itulah saya melihatnya-Oh, Tidak! Saya telah keliru menyusun dua batu bata. Semua batu bata lain sudah lurus, tapi dua batu tersebut tampak miring. Mereka terlihat jelek sekali. Mereka merusak keeluruhan tembok. Mereka meruntuhkannya. Tapi apa daya, tembok itu sudah terlanjur mengering dan tak lagi bisa dicabut. Kepala wihara pun melarang keinginan saya untuk merobohkannya. Kesalahan ini membuat hati saya gundah gulana.
Ketika saya membawa para tamu pertama kami berkunjung, saya selalu menghindarkan membawa tembok bata yang saya buat. Saya tak suka jika ada orang lain yang melihatnya. Namun 3 bulan kemudian ada seorang pengunjung yang melihatnya.
“Itu tembok yang indah” komentarnya
Saya terkejut “pak, pak apakah penglihatan bapak terganggu? Tidakkah bapak lihat ada dua batu bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu?
Apa yang ia ucapkan kemudian merubah keseluruhan pandangan saya terhadap tembok itu berkenaan diri saya dan banyak aspek dalam kehidupan. “ya, saya bisa melihat dua batu bata jelek itu, namun saya juga bisa melihat 998 batu bata yang bagus”
Saya tertegun. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, saya mampu melihat batu bata lainnya. Di atas, kiri, kanan batu bata jelek itu ada batu bata-batu bata bagus. Lebih dari itu jumlahnya lebih banyak daripada yang jelek. Selama ini mata saya hanya terpusat pada yang jelek tanpa dapat melihat ratusan darinya yang bagus. Hingga tak pernah rela ada orang yang melihatnya. Sekarang sayadapat melihat tembok secara keseluruhan dan itu merupakan sebuah karya yang indah. Dan sampai sekarang berdiri tegak. Namun saya mulai lupa dimana dua batu bata jelek itu berada. Saya benar-benar tak dapat melihat kesalahan itu lagi.
Berapa banyak orang memutuskan persaudaraan atau hubungan hanya karena yang mereka lihat dari diri orang lain adalah dua batu bata jelek. Dan berapa banyak orang yang depresi karena dua kejelekan itu yang dilihat dari diri mereka. Kita semua memilikinya, namun bata yang baik di dalam diri kita masing-masing, jauh lebih banyak jumlahnya. Begitu kita melihatnya semua akan tampak tak terlalu jelek lagi. Semua akan terlihat lebih indah.
…….
Mendengar kisahnya, aku mulai sadar bahwa sering sekali hanya melihat keburukan dari diri sendiri maupun orang lain. itulah sebab semua kebaikannya mulai tak dapat kulihat.
Maka dari itu, mulailah abaikan dua batu bata jelek dalam dirimu. Dan lihatlah, ada ribuan batu bata indah terpasang. Ada ribuan kelebihan dalam dirimu.

Dyah Ayu Fitriana
Darun Nun-Bukit Cemara Tidar
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar