Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Dari Sebuah Keinginan Kuat, Hingga Sampai ke Google Maps


Gambar 6.1 Bapak Fahmi Fardiansyah,
Minggu, 5 April 2015

“Bapak, gimana.. sudahkah bikin blognya?”
“Aduh ibuuk.. aku iki sibuk, akeh ngajare iki”
“Ayolah pak selak ditanyain nih.. guampang tinggal sampean ke gmail aja.. lek gawe y**** memang rdak ruwet.. wes jenengan langsung daftar ke gmail ae.. guampang!”
“Hadu buk aku gak ngerti carane.. gawekno age...”
“Dhieeengggggg.. lah wingi sing ditunjuk dadi ketua workshop siapa??”

(Beberapa hari kemudian..)

“Pak piye..sampun?”
“Belum buk Indah.. “
“Hmm yoweslah, tp bapak buat testi yo??”

*    *    *
Jika kita menilik kembali pada minggu - minggu menjelang puncak apresiasi sastra, nampaknya terselip cerita menarik dibalik pelaksanaan workshop kepenulisan yang digelar pada tanggal 14 Maret lalu. Bukan hanya dari segi kepanitiaan, usut punya usut hal tersebut juga muncul dari keikutsertaan beberapa santri yang sengaja, maupun tidak sengaja hadir dalam acara bergengsi itu. Tak ayal, hal ini menjadi lika - liku mereka sesaat sebelum maupun sesudah menempuh proses belajar bersama di Baiturrahman.
Salah satu kabar tersebut datang dari peserta asal Ponpes Anwarul Huda yang juga hadir bersama beberapa santri setempat. Beliau adalah Fahmi Fardiansyah, peserta yang akhirnya didapuk menjadi ketua dari pengkoordinasian peserta pasca kegiatan workshop selesai.
Disela - sela jam kosong beliau menyadurkan sebuah flashdisk seraya berkata, ‘’Nama filenya ‘mbk indah’ ”. Sayapun menerimanya, tangan ini kian bergegas menancapkannya pada bagian ujung laptop. Setelah saya buka, seperti inilah cuplikan file tersebut :

Sebenarnya saya baru tahu adanya workshop kepenulisan adalah pada hari pelaksanaannya, tidak habis pikir saya langsung memilih untuk ikut workshop karena saya memang berkeinginan keras untuk dapat menghasilkan karya tulis sebagai bentuk hasil belajar saya selama ini.
            Langsung teman saya Musrizal Muis yang mengajak saya untuk ikut. Memang awalnya kita tidak langsung sampai tempat tujuan. Kita tersesat sampai pondok Sabilul Rosyad. Kemudian lihat Google map dan menjumpai tempat tujuan.
            Namun, sayang kami tidak mendapati materi pertama karena terlambat datang, sehingga mengikuti materi kedua yang membahas pengembangan penulisan melalui jejaring sosial. Materi dibahas sampai menjelang dhuhur. Dilanjutkan dengan sholat dhuhur berjamaah dan makan bersama di serambi Masjid.
             Sampai pada materi terakhir yang dipandu oleh ustad Halimi, sangat membangkitkan selera untuk menulis tinggal tulis dan tulis.
Fahmi Fardiansyah

Jujur, lisan ini agaknya terbahak ketika menjumpai bagian ‘ketersesatan’. Saya tidak menyangka bahwa pada saat beliau dan kawan - kawan mengalami keterlambatan, juga ditengarai karena faktor ketersesatan di jalan. Dan saya pun tidak habis pikir kenapa beliau bisa sampai tersesat di pondok Kyai Marzuki, hingga berujung mencari kesaksian lewat google maps. Beberapa bulan sebelumnya ketika kami tidak sengaja bertemu di perempatan Candi, atas permintaan beliau saya pun memberitahu ahlul kitab tersebut mengenai lokasi keberadaan Darun Nun beserta masjid kebangganaannya. Hingga pada akhirnya sampai - sampai kami pun menginjak posisi di depan pondok.
Akhwat yang akan genap berusia 20 pada 21 April mendatang ini nampaknya memang begitu antusias mengikuti workshop kepenulisan yang diselenggarakan Darun Nun. Sebelumnya pun saya tidak pernah menghimbaukan acara ini kepada rekan - rekan di kelas, hanya sebatas memosting pamflet acara pada grup kelas PAI I 2014. Selebihnya saya serahkan kepada mereka, berkenan untuk turut serta ataupun tidak. 


Gambar 6.2 Bapak Fahmi Fardiansyah, @ lorong gd. Megawati
Jika meninjau tulisan - tulisan yang pernah dibuatnya, nampaknya akhwat satu ini cukup memiliki daya ketertarikan terhadap dunia tulis menulis. Salah satu buktinya adalah berupa situs blog yang telah dimilikinya, beralamatkan nama yang cukup unik, limamenitbersamafahmi.blogspot.com. Alumnus SMA Lab. UM Malang ini juga gemar membagi - bagikan ilmu lewat tulisan yang diunggah melalui akun pribadinya. Tak jarang setelah mengupdate statusnya di beberapa media sosial, beliau selalu pede untuk mengatakan, ” Buk.. like statusku ya..”, ungkap keponakan K.H Chamzawi itu. 



 Gambar 6.3 Salah satu cuplikan status yang pernah dibuat oleh Fahmi Fardiansyah

Dari sekian hal yang masih melekat di benak ini, suatu ketika beliau juga pernah bergumam, “Kenapa ya, tulisan yang hanya berupa kata - kata galau saja banyak yang nge-like, sedangkan status ku.. sing refrensine jelas shohih teko kitab juarang ono sing nge-like”. Ya, begitulah fenomena. Barangkali bahan gundahan sesaat menyingkirkan segi keilmiahan. Bila gundahan hanya mampu menimbulkan kemudharatan, maka hal itulah yang harus dibenahi, diganti, entah diperbaiki, untuk lebih mengontrol hati. Salah satu cara terbaiknya adalah dengan bersastra.
Beragam peserta datang beranjak dengan berbagai niatan. Jumlah permulaanpun tidak jadi masalah. Semua itu juga tidak ada artinya tanpa kehadiran mereka yang telah berkelana dan berkenan menelusuri area Bukit Cemara Tidar. Bersama - sama dalam berteori, bersama - sama dalam menorehkan tinta, hingga bersama - sama meyakinkan diri bahwa, “Sekalipun kita mengikuti workshop kepenulisan yang berada pada tingkatan nasional maupun internasional, solusi yang ditawarkan atas pertanyaan dari para peserta adalah SAMA. Tidak ada cara lain untuk kita bisa istiqomah dalam menulis, selain MENULIS itu sendiri.”

Kini blog tersebut sudah dapat diakses melalui situs :
workworkshop.blogspot.com

Selamat berkarya kembali dan sampai jumpa di Workshop Kepenulisan 2016!

Creator :
Indah Nurnanningsih

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar