Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BUAIAN RINDU


Sesosok salju, merayu merdu dengan senyumnya yang malu-malu. Duh, dikau pemilik mata sayu, tatapanmu merayu pundakku tuk gerakkan tubuh dan mataku padamu. Di sudut pandangan, memaksa tubuh untuk memutar balik jauh kebelakang tatkala ingin periksa kehadiranmu, rindu. Telah lama kau tak bertamu di cerug mataku. Selain wajah dan senyum lebarmu, ada tanda melingkar hitam di atas daun telinga kananmu. Hihihii... kenapa kau melepas sepatu? Apa karena hawa panas yang menggelitik sela jemarimu?
Ah, hanya meraba rasa sendiri. Berkutat dengan bayang semu, engkau disana dan aku disini. Meski lantai kita sama, naungan kitapun sama namun ada yang membisik bahwa kau tak ada. Tentu saja, tak ada untuk menatapku, jangankan pandangan, sejengkal namapun ku yakin kau tak tau. Yah, aku hanya dapat memandang dan merasakan kehadiranmu, setelah sekitar dua bulan tak kuciumi sendumu. Fakultas, ya. Tempat dimana kesan pertama. Saat itu, terik sengat peraduan selasar fakultas. Sedetik sayup-sayup guraumu menggelitik relung, aku penasaran kiranya siapakah dia? Kalimatnya pendek penuh makna, entah apa yang dibicarakan. Yang ku tahu, beliau yang ada disampingmu adalah dosen jurusan teknik. Satu kesan, sepertinya kau orang punya harga.
Hari berikutnya, kutemui engkau dikantor pengendalian jaringan sedari tadi pagi hari pukul 6 ku sudah bertatap dengan tubuh kurus berbalut baju birumu. Penasaran, aku pulang sangat sore hampir maghrib malahan namun kau masih disini. Berjalan kesana-kemari entah mengurus apa. Batinku, kau pasti bukan murid biasa. Kali ini, aku mulai punya hobi baru, menatap, selidik dari kejauhan. Apa kau ada? Apa yang kau lakukan? Aku mulai Kepo. Sempat suatu waktu aku harus pulang lambat, iya pukul 8 malam. Kulangkahkan kaki gontai tanda penat. Ada yang menelisip, apa itu bayangmu? Oh, astaga! Benar-benar rajin pikirku, kau masih bekerja sejak pagi hari sampai malam-malam begini. Istimewa, semua kawanku tak ada yang mau pulang larut-larut begini.
Klakson dari arah depan fakultas buyarkan lamunku. Sejenak kutengok lengan, sudah pukul setengah 9. Baiklah, kusapa pak satpam yang sedari tadi sibuk menonton sepak bola dari channel tv kabel ujung ruangan. Nah, itu dia pahlawanku. Lelaki gagah, bertubuh gempal dengan dada datar six pack nampak manyun, bibirnya maju 2 cm. Lucu.
lama banget, udah lama tau aku nunggu. Ayo pulang
iya... maaf Nii-chan” lagi, di cubit lenganku
Orang bilang, semua orang pasti punya teman. Allah benar-benar sayang padaku, aku tak pernah sendiri. Sejak di alam kandungan, aku tak sendiri.  Iya, kami terlahir kembar. Hanya saja, kami sangat berbeda karena fraternal, dia laki-laki dan aku perempuan. Seluruh keluarga sangat bersyukur, merasa beruntung semua begitu lancar. Ibu melahirkan dengan normal dan mudah, jika aku tanya “apakah melahirkan itu sakit bu?” ibu selalu menjawab sama sekali tidak, karena kami baik jadi tidak menyusahkan ibu untuk melahirkan kami. Kami anak pertama sekaligus cucu pertama di keluarga ayah maupun ibu.
Semua nampak indah, sampai pada suatu masa saat kami mulai memasuki TK. Temanku, membuatku sebal lantaran crayon bagusku diambil. Entahlah, aku tidak begitu ingat namun kata guruku, saat itu aku menangis sampai akhirnya tak sadarkan diri. Sejak saat itu, ada larangan yang berlaku di keluargaku. “aku tak boleh emosi berlebihan”.  Itu menyakitkan, bagaimana tidak sejak saat itu pula aku tak pernah dapat lagi bersekolah sebagaimana anak-anak normal. Pilihan satu-satunya adalah Home schooling. Hingga masuk usia SMA dan dirasa cukup aman, barulah aku diperbolehkan sekolah di SMA umum.

***

Satu tahun. Iya, satu tahun tak pernah cukup untukku mengagumimu dari kejauhan. Duhai Rindu, kau sungguh indah. Seorang gadis tersenyum dari kejauhan dan melambaikan tangan “dek... stop! Tunggu disitu” ini kakak tingkatku dari jurusan matematika. Dia cantik dan ceria, namun terkadang suka betindak seenaknya.
eh dek, proposal penelitianku diterima lho...”
“alhamdulillah kak, pean sudah berusaha keras... selamat ya mbak” kupeluk erat sahabatku ini
dek, siapa dia? Misterius....”
“gak tau namanya mbak, kayaknya anak teknik”
“lho, satu atap kok gak tau namanya sih... gimana kamu ini”
“iya kak, atap fakultas... mana bisa aku hapal semua anak disini”
“hihihiii... hayo! Kamu suka dia ya dek”
“apaan sih kak, bisa-bisanya lho pean tanya gituan”
“udahlah, dari kejauhan kakak udah perhatikan kamu diam-diam curi-curi pandang sama anak itu”
“Apaan sih kak, aku ke lab. Lagi ya Assalamu’alaikum”
“iya, Wa’alaikumsalam... pesennya Rio, jangan malam-malam kamu keluarnya”
“iya kak...” senyum kakak menyimpan sesuatu

Aku takut. Degup jantungku lancang berlarian tanpa malu. Tanpa ragaku boleh ikut berseru, aku takut. Aku limbung.

***

nak, sayang... bisa dengar suara ibu? Sayang... bangunlah, ini ayah sudah pulang” ada perasaan hangat menetes ke lenganku, ibu... jangan khawatir, aku baik-baik saja.
nak, ini ayah... ayo, coba anggukkan kepalamu. Oke! Ini dia putriku, pintar...”  ayah, aku merindukanmu, ingin ku peluk erat dan kuciumi bau badanmu sepuasku. Selang oksigen ini menggangguku, aku tak tau bau ayah seperti apa hari ini, bisa jadi berbeda. Mungkinkah harum mawar? Atau kasturi? Aku masam keringat? Aku rinduimu ayah.
Satu bulan berlalu, tak lagi kutemui bayangmu. Apakah semua baik-baik saja? Apa kau baik? Entah kau pergi kemana. Rindu... penasaran semakin gencar menikam hariku, menusuk tidurku, mengusik waktuku.
Bbrreeett... brrrtt.. ada sms dari kak Tsani, “adek cantik... kakak punya cerita ne, tapi jangan penasaran ya” dengan pesan semacam ini, mana ada orang yang tidak penasaran dan ingin mencari tahu kebenaran? Gumamku. “baik, siap ya...” iya, aku selalu siap untuk mendengar apapun racauan kak Tsani ini. “eh dek, kemarin dua hari setelah kamu masuk RS, kakak ketemu dia lho... kakak ajak kenalan aj, habisnya dia sok cuek sih” Dek, Apa? Kak Tsani ketemu dia? Apa yang dia katakan? “pengen tau ndag, namanya siapa? Hahahaaa... rahasia!” “oh iya, maaf kakak sempet ngomongin kamu di depan dia” ya Allah... apa-apaan kak Tsani ini.
Belaian angin tak lagi terasa ramah, mereka mengusik batinku. Ada yang membuatku tak nyaman, Astaghfirullah... Ya Allah, aku mohon jangan sekarang... dadaku sakit, sangat sakit. Jangan sekarang, tak ada orang dirumah. Kursi belajarku terasa goyang, mejaku menjauh, semua terserak berantakan. Kutarik nafasku, kujulurkan lengan ke arah handphone yang sedari tadi meraung, terjatuh ke lantai. Begitupula denganku, tubuhku layu, tanganku kelu. Jantungku serasa mau meledak! Nafasku tinggal satu-dua, sakit! ya Allah...!! aku mohon jangan sekarang... Sejurus kemudian, tanganku berhasil menekan tombol angkat. “Nak, ibu pulang agak terlambat, nanti kamu...” “Bu... Buu...” suara lirihku dan deru napasku memaksa ibu menghentikan kalimatnya “nak... tenang ya, sabar... ibu segera pulang sekarang”.
Denting jantung ini mengusik pendengaran, suaranya terasa sungguh tajam. Semua terasa terang, putih dan dingin, Inikah alam barzah?

***

Satu bulan. Iya, genap satu bulan aku absen dari bangku perkuliahan dan praktikum. Sebenarnya aku sudah tidak punya jadwal pelajaran lagi, tinggal kegiatan laboratorium yang menyita waktuku. Satu persatu kuperiksa kotak masuk pesan, banyak dari adik-adik praktikan yang lainnya dari teman-teman dan saudara di kampung, rupanya mereka mendengar berita tentangku. Beginilah hidup yang harus kujalani, setiap detik setiap menit setiap nafas sungguh harus disyukuri. Bagiku dan bagi seluruh keluargaku. Mereka semua sangat mencitai kami, si kembar yang di dambakan semua orang. Pamanku tidak memiliki anak, dan bibikku baru bisa punya anak setelah melewati 15 tahun masa pernikahan.
Namun kebahagiaan itu tidak berjalan sebagaimana kisah hidup yang sempurna. Dokter menetapkan vonis kepadaku mengidap Hypertrophic cardiomyopathy yakni penebalan otot jantung, penyebabnya tidak diketahui dengan pasti. Bisa jadi karena faktor keturunan atau kesalahan replikasi sewaktu masa embrio. Bagian bilik kiri jantungku mengalami penebalan, akibatnya terjadi aritmia atau denyut jantung tidak beraturan. Penyakit ini sangat berbahaya, karena dapat membunuh sewaktu-waktu, kapanpun. Karena kapasitas jantung yang terbatas, membuat kulitku nampak pucat. Semenjak mengerti resiko yang akan terjadi dengan jantungku, aku mulai belajar mengontrol emosi. Karena ketika gugup, marah, bahagia yang berlebihan akan membuat jantungku kolaps. Inilah yang membuatku nampak sebagai gadis dingin, tenang tanpa emosi. Dokter bilang, aku tidak akan bertahan sampai usia 20 tahun, namun nyatanya? Maha pemilik hidup dan kehidupan masih mengizinkanku tersenyum sampai kini usiaku menginjak 22 tahun.
Aku terpaksa home schooling sampai usia SMP, namun karena ternyata aku hanya sanggup bertahan di sekolah selama 1 minggu, maka aku harus kembali kerumah dengan segala kenyamanan. Meskipun itu semua tidak menjamin keselamatanku. Kala itu aku berubah menjadi gadis sensitif, yang suka marah sehingga membuat waktuku bersama keluargaku banyak terpakai di rumah sakit. Bagaimana tidak? Satu minggu sehat, dua minggu sakit. Begitulah seterusnya. Hingga akhirnya aku bertemu psikiater yang mengajarkan bagaimana seharusnya hidup ini dijalani. Disinilah titik mula aku berani.
SMA, tidak banyak yang berubah selain seragam baru, kelas baru, yang paling menyenangkan selain rumah, rumah sakit, aku memiliki tempat lain yakni sekolahan ini. Aku tak pernah mengikuti olahraga apapun, tidak ikut ekstrakurikuler apapun. Demi nafas yang harus terus berhembus. Sampai pada akhir tahun, saat selesai ujian nasional saking bahagianya aku lupa diri. Aku ikut teman-temanku lomba lari, bukan karena tantangan mereka sebenarnya karena akupun bosan. Akibatnya, sebelumnya aku tidak harus operasi by pass, yakni melakukan pengikisan otot jantung. Kali ini tak dapat lagi ku lari. Sampai sekarang, aku merasa tidak nyaman dengan tanda membujur di dadaku. Serasa aneh.

“dek, sudah sehat? Hari sabtu ayo main ke taman. Kakak punya teman baru lho... pasti kamu gak bisa nolak kakak cantik ini kan? Oke, kita ketemu jam 7 pagi sekalian olahraga”

Hemm... begitulah kak Tsani, selalu bertindak semaunya dan yang menyebalkan aku tak pernah bisa menolaknya, mungkin karena hanya dia teman baik yang ku punya.
Sabtu pagi, setelah subuh kusempatkan untuk memuja Rabb-ku dengan lantunan mesra ayat-ayat cinta-Nya. Kunikmati hawa kamar hijauku yang cukup luas, iya kamar ini merupakan kamar paling luas di rumah, karena ibu ingin aku bernafas lega. Alhamdulillah, terimakasih Allah, terimakasih ayah, ibu, kakak yang telah menjagaku dengan segalanya. Setelah sarapan, kucium harum pipi ibu dan kakakku meminta izin untuk bermain.

gak papa nak, berangkat sendirian? Ditemani kakak ya...”
“ndak usah bu, kakak juga mau main sendiri tuh”
“kak, temani sana!”
“aku ada janji bu... nanti ya, kakak jemput langsung tepat waktu” sambil mengacungkan keempat jempol miliknya
kamu ini, ya udah... hat-hati ya, salam buat kak Tsani”
“iya bu, Assalamu’alaikum...”
“Wa’alaikumsalam... ini obatnya ketinggalan”
“ndag usah bu, saya gak lama kok. Lagi pula barusan sudah minum” sambil kulemparkan senyum semanis-manisnya untuk bunda tercinta

Aku tak ingin membuat semua khawatir, namun aku juga sudah bosan dengan segala cara hidup macam ini. Toh, hasilnya sama saja... aku masih tak dapat merasakan cinta. Kejadian terakhir membuatku sadar, kata-kata ibu memang benar adanya. Aku tak boleh jatuh cinta. Namun hati ini milik siapa?
Lima belas menit merasakan belaian lembut angin jendela angkot, membuatku sampai di taman kota nan sederhana. Iya, ini bukan taman pusat yang serba ada ini hanya taman sederhana yang dibangun khusus untuk penikmat langkah. Kutebar tatapan keberbagai penjuru arah, kanan, kiri, depan, belakang, akhirnya nampak gadis cantik berkerudung merah melambai dari selasar ujung taman. Itu kak Tsani.
sini dek, huft! Ternyata capek juga ya jogging pake kaki” sambil mengelap ujung alisnya yang tipis dengan handuk merah kecil buatan China.
Obrolan kami pun mengarah kemana-mana, mulai dari masalah kuliah sampai nasi goreng dan penjual pecel di pasar. Kak Tsani ini memang selalu menyenangkan.
oh iya dek, ada yang pengen bertemu denganmu” apa? Bertemu? Ah... kak Tsani ini, pasti lagi-lagi orang yang aneh seperti tukang sol sepatu tempo hari yang pandai merayu dengan sulap yang lucu. 
sebentar ya, dia masih otw mungkin lima belas menit lagi”. Setengah jam berlalu, tak nampak sosok itu, batinku mulai didera penasaran. Siapakah orang itu? Tidak biasanya kak Tsani setia menunggu orang.
Assalamu’alaikum...”
Astaghfirullah, ada yang mengagetkanku dari belakang dan suara itu... suara itu... aku mengenalnya, sangat akrab. Hatiku menjadi tidak karuan, siapa dia? Kuberanikan menoleh kebelakang. Dan benar adanya, itu dia... sekarang berada di depanku... Allah, jantungku mulai tak karuan, berdebam dengan riang.
Saya Arif, kita satu fakultas kan... salam kenal” dia mengulurkan tangannya, mengajak salaman. Bagaimana ini? Ada syahwat di diriku. Adu persepsi sangat sengit mengisi batinku, kucoba berdamai namun tak bisa, mereka saling membunuh antara kanan dan kiri, iya dan tidak. Akhirnya, Iya lah yang menang. Lima detik baru kusambut ulurannya. Tangannya hangat... nyaman... tak ingin kulepas. Astaghfirullah... kulepas genggamannya. Kugamit bibirku penuh malu, malu pada diriku. Inikah yang kau lakukan atas semua kebaikan yang telah Allah berikan padamu? Mengkhianati-Nya atas rasa yang kau sebut cinta? Kubenamkan pandanganku, jauh-jauh darinya, Rindu ku yang selama ini bersemayam rapi di tepi peraduan sunyi.

Engkau disini Rindu, menatap merdu dengan matamu yang sayu
Sayu, disitu kutemukan diriku sebagai satu
Kita satu, punya yang Satu
Kemarilah, biar kugamit dirimu erat Rindu
Duhai engkau Rinduku, yang ku puja sepanjang waktu
Berawal dari titik membukit, menggaris mengikat diri jadi gambar mesra wajah sendumu penuh rayu
Duhai pemilik mata sayu

Tanpa sadar, kakinya bersentuhan dengan kakiku. Sakit! Ini mulai sakit... serasa ada yang kurang ajar menembak dadaku. Ya Allah... bagaimanapun, ku tak bisa membuatnya melihat diriku seperti ini. Ingin ku beranjak pergi dari semua kesakitan ini.

kak, aku duluan gak papa ya... kakak sudah menjemputku disana
kenapa buru-buru? Inikan baru sebentar, Arif juga baru datang”
“kak, tolong... lepaskan lengan kakak, aku harus pergi”
“oh, maaf dek... iya, kamu boleh pergi”

Tanpa ku ucap salam, kupalingkan mukaku dari mereka. Ya Allah... sakit sekali, aku tak tahan. Kakiku menolak untuk melangkah. Ku jatuh terduduk dalam perjalanan, sungguh ini menyakitkan. Allah, Ya Rabbi... tolong saya, aku mohon ya Allah... tubuhku rebah, mataku nanar kehilangan hingar. Semua ini, dunia ini tak ada arti hanya ada bayang mati. Apakah aku akan mati sekarang? Tidak! Tidak boleh... aku belum bertobat, barusan telah kulakukan dosa besar. Deru derap kaki serasa mendekat, dari jauh kulihat bayangan kakak menjatuhkan motornya dan berlari menghampiri diri. Ada yang memelukku dari belakang, serasa hangat... suara panik mereka terasa mengusik.
Dingin... tangan ini, iya... ini tangan dingin kakakku. Perlahan kupastikan siapa itu. Benar, kakak tertidur di tepi ranjang. Pasti dia lelah. Derit mesin EKG ini membuatku tidak nyaman. Entahlah, seharusnya aku sudah terbiasa dengan semua suara ini, dengan semua selang ini. Namun tidak. Waktu menunjukkan pukul 12 malam. Dari kejauhan ku dengar suara tangis perempuan, aku tahu itu ibu. Ibu yang tak pernah siap untuk kehilangan putrinya. Ibu, ya... itu ibuku, ibu kebanggaannku. Kuraba dadaku, dan benar... mereka telah membedahku. Entahlah.
Derit pintu membangunkan tidurku. Ada bayangan Rindu disana, di ruanganku, dia berbincang kak Tsani dan keluargaku. Oh, astaga... dia kemari dengan matanya yang sayu. Ingin ku pergi, namun tak berdaya tubuh ini.

Shifa... tolong buka matamu, sebentar saja. Untukku, kumohon... aku ingin berbicara denganmu, mungkin kau bertanya-tanya apa yang terjadi Sabtu itu. Baiklah, aku akan bercerita, aku disana melihatmu dari kejauhan. Melihatmu kesakitan karena sentuhan tanganku, membuatku sakit Shifa. Maafkan aku, seharusnya aku faham resiko apa yang akan terjadi atas tindakanku. Seharusnya aku sadar, alasan kenapa kau selalu menghindar, menjauh setiap kali aku berusaha mendekati kursimu. Shifa, aku tahu semua... berapa banyak cinta kau tuangkan pada cangkir rindumu. Ini aku Rindumu yang kelabu. Kak Tsani menegaskan prasangkaku sejak setahun yang lalu. Sejak kita bertemu di selasar fakultas waktu itu. Baiklah, mari kita menikah saja... kalau kau setuju tolong anggukkan kepalamu”
“terimakasih Shifa...”

Wajahmu tak lagi sendu, matamu tak lagi sayu yang ada hanya rindu. Andai aku dapat berucap padamu, betapa indah dirimu Rindu. ku kan melagu, merayu semua semu agar tak bawa engkau kasihku.

Aku Mencintamu, Terimakasih Rindu.



Tergores dari Asa gadis tak ber-rupa
Amanatul Mubtadiah
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar