Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Tingkatan Sabar



Oleh: Ninis Nofelia MPAF

Ketika ada seseorang yang mengingatkan pada kita  “sabar ya…”, apa yang ada dalam benak kita?? pastinya kita akan merasakan bahwa seseorang itu sedang berupaya untuk menghibur kita agar kita merasakan ketenangan setelah mengalami sesuatu yang mungkin tidak mengenakkan bagi kita. Tahukah??  Kesabaran adalah sesuatu yang penting dan mulia. Sebagaimana firman Allah bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar. Subhanalloh… siapa yang tidak senang bila selalu dibarengi dengan Tuhannya seluruh makhluk?? Bahkan Allah bersumpah bahwa hamba-hambaNya akan terhindar dari segala kerugian bila saling mengingatkan kesabaran kepada saudaranya. Apalagi jika kita menjalankannya? sebagaimana dalam firmanNya dalam surah Al-Ashr bahwa sesungguhnya menusia berada dalam kerugian, kecuali untuk orang-orang tertentu, salah satunya adalah orang-orang yang  saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran, dan ternyata kesabaran memiliki tingkatan. Berikut tingkatannya:


ü  Tingkatan yang pertama dan yang paling bawah adalah kesabaran atas musibah yang menimpa. Karena kesedihannya tak dirasakan seterusnya. Rasa sedih itu akan terkikis seiring dengan berjalannya waktu. Misalkan ketika diberi musibah bencana tsunami, apakah akan terus ia rasakan kepedihannya secara berkepanjangan? Karena tsunami tak selalu terjadi dalam setiap menit kehidupannya, dan bila terjadi, maka kenangan yang ia rasakan pahit itu akan berangsur hilang seiring dengan berjalannya waktu, dan semuanya akan berjalan seperti biasanya. Disini dianjurkan untuk tidak berprasangka buruk terhadap Allah, karena tentunya Allah tidak menimpakan sesuatu tanpa suatu maksud, melainkan ada hikmah terpendam di dalamnya. Maka dianjurkan untuk kita untuk menggalinya dan selalu memuji Allah dalam setiap keadaan yang terjadi. “Alhamdulillah ala kulli haal”.

ü  Tingkatan yang kedua adalah kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah. Luar biasanya kesabaran pada tingkatan yang ke dua ini, karena ia dengan sepenuh hatinya sabar dalam menjauhi segala godaan kemaksiatan kepada Allah di setiap menitnya yang selalu menawarkan kenikmatan sesaat yang sebenarnya menyebabkan hilangnya ketenangan yang berjangka panjang. Misalnya, Sabar untuk menjauhi zina, sabar untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya, sabar untuk menahan kemarahan, dan sebagainya. Bayangkan saja, ia harus melawan hawa nafsu tak sehat yang membara  pada dirinya. Berapa banyak upaya yang ia kerahkan dalam melawan pergolakan itu? Dalam perkara zina misalnya, mungkin saja akan merasakan kesenangan dalam bercanda tawa sambil menggandeng dan memeluk lawan jenis yang disukainya, namun apabila dia bukanlah yang halal baginya, apakah tenang hidupnya? Apakah kelak sanggunp melupakan  kenangan itu, bila ternyata dia bukan jodohnya? Atau apabila terjadi sesuatu yang tak berkenan, sanggupkah  merasakan melahirkan generasi yang tak dilandasi dengan akad yang disahkan oleh agama dan negara? banyak menanggung beban dan rasa malu, terlebih lagi dosa. nikmat sesaat, namun pusing berkepanjangan bukan??  Betapa luar biasanya  segala perintah Allah yang selalu mengandung hikmah di dalamnya. Karena Allah sangat sayang terhadap hamba-hambaNya, agar hamba-hambaNya selalu tenang dalam menjalani kehidupannya.

ü  Tingkatan tertinggi dalam kesabaran adalah sabar dalam menjalani ketaatan kepada Allah SWT. Subhanalloh, inilah setinggi-tingginya tingkatan kesabaran. Sabar dengan sepenuh hati untuk selalu lurus dalam menjalani kehidupan ini. Hidup berdasarkan tuntunan yang telah diperintahkan Allah SWT. Mengapa ini yang menjadi tingkatan tertinggi? Bayangkan saja, untuk mempertahankan sesuatu agar tetap pada posisinya, berapa banyak upaya yang ia kerahkan untuk menjaga keutuhannya agar ia tak goyah? Berapa banyak riyadoh yang ia laksanakan agar tetap selalu merasakan kedekatannya kepada Allah SWT agar tidak menyimpang dari jalanNya? Dan tentunya keistiqomahan yang diusahakan untuk terus menjalankan segala ketaatan itu, agar selalu tenang setiap saat  dan insyaallah nantinya berakhir pada keindahan khusnul khotimah.

Ya Allah, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi hidayah kepada kami, dan anugrahilah dari sisi Engkau, kerahmatan. Karena Sesungguhnya Engkau Yang Maha Pemberi…


Malang, 11 Maret 2015

@Baiturrahman, setelah mengikuti pengajian rutinan selasa malam bersama Ustad Izzuddin.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar