Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Pesona Gunung Brahma

 

Kali ini saya ingin menuangkan pengalaman-pengalaman seru dan hebat dalam tulisan ini yaitu ketika mengunjungi keindahan alam Gunung Bromo bersama para wisatawan asal Belanda.
Gunung Bromo merupakan bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Terkenal dengan kaldera atau lautan pasir dan kawah yang eksotis, serta pemandangan matahari terbit Sunrise yang sangat indah. Bromo merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata. Gunung ini berasal dari bahasa Sansekerta/Jawa Kuno yaitu Brahma, yang merupakan salah seorang Dewa Utama Hindu. Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif.  Di Taman Nasional Bromo Tengger
Semeru ini, terdapat beberapa jenis tumbuhan yang khas antara lain jamuju (Dacrycarpus imbricatus), cemara gunung (Casuarina sp.), eidelweis (Anaphalis javanica), berbagai jenis anggrek dan jenis rumput langka (Styphelia pungieus). Terdapat sekitar 137 jenis burung, 22 jenis mamalia dan 4 jenis reptilia di taman nasional ini. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru merupakan satu-satunya kawasan konservasi di Indonesia yang memiliki keunikan berupa laut pasir seluas 5.250 hektar, yang berada pada ketinggian ± 2.100 meter dari permukaan laut (The mahir, 2015).
Perjalanan menuju gunung Bromo dibutuhkan waktu sekitar 3 jam dari Malang melewati Tumpang. Kami berangkat sekitar jam setengah satu pagi dengan mengendarai jeep menuju gunung Bromo untuk menikmati sunrise. Berkunjung ke Gunung Bromo sangatlah istemiwa dan menyenangkan karena destinasi ini menawarkan beberapa panorama alam yang alami nan indah seperti lautan pasirnya yang luas sekitar10 kilometer persegi mengelilingi kawah Bromo yang mengepulkan asap, dan juga dari puncak gunung Penanjakan para wisatawan bisa menikmati sunrise dan hamparan lautan pasir luas dan pemandangan latar belakang yang indah yaitu gunung Semeru, gunung Bromo dan Gunung Batok. Untuk mencapai puncak Penanjakan kami lebih memilih mendaki dengan berjalan kaki dibandingkan menyewa sepeda motor (ojek) menuju puncak Penanjakan karena berjalan kaki lebih menyenangkan dan dapat merasakan kesegaran angin fajar. Dibutukan sekitar sepuluh meter untuk menuju puncak Penanjakan dari tempat penurunan Jeep.disekitar kawasam penanjakan kami ditawarkan berbagai sovenir khas Bromo seperti baju, bunga Endelweis dan gantungan. Banyak pula pedagang yang menawarkan penyewaan jaket, sarung tangan, dan penutup kepala.
Ketika sampai di puncak penanjakan rasa lelah dan kantuk pun sirna sudah, terbayar dengan pemandangan yang menakjubkan ketika matahari mulai menampakkan sinar emasnya dari ufuk timur, sangat menakjubkan!. Ditemani dengan minuman kopi serta menikmati indahnya pemandangan di puncak penanjakan terasa sangat lengkap dan tak terlupakan. Puas menikmati sunrise, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke kaki gunung bromo. Perjalanan sekitar 30menit dari Puncak penanjakan dengan mengendarai Jeep. Jeep kami melewati lautan pasir yang membentang sangat luas dan melewati panorama yang indah di kiri-kanan jalan. 



Tiba di kaki gunung bromo (tempat parkiran jeep), kami masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 2 km untuk menyaksikan keindahan kawah Bromo dengan berjalan kaki dan dilanjutkan menapaki anak tangga yang berjumlah sekitar 250 an. Menapaki anak tangga sangatlah menguras tenaga. Saat menapaki anak tangga mereka sempat bertanya kepada saya tentang legenda dari gunung Bromo. Kemudian, sambil menapaki anak tangga saya mencoba menceritakan sedikit tentang legenda gunung ini. Beberapa sumber mengatakan bawha, konon pada jaman dahulu kala ketika kerajaan majapahit mengalami serangan dari berbagai daerah penduduk pribumi kebingungan untuk mencari tempat tinggal hingga pada akhirnya mereka terpisah menjadi 2 bagian yan pertama menuju ke gunung Bromo, kedua menuju Bali. Ke 2 tempat ini sampai sekarang mempunyai 2 kesamaan yaitu sama – sama menganut kepercayaan beragama Hindu. Disebut suku Tengger di kawasan Gunung Bromo, Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng juga Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger itu. “Teng” akhiran nama Roro An-”teng” dan “ger” akhiran nama dari Joko Se-”ger” dan Gunung Bromo sendiri dipercaya sebagai gunung suci. Kemudian mereka menyebutnya sebagai Gunung Brahma, orang Jawa kemudian menyebutnya Gunung Bromo.
Setelah menaiki ratusan anak tangga, akhirnya perjalanan sampai di tepi puncak kawah Gunung Bromo dan cerita pun selesai. Asap dan bau belerang yang cukup meyengat pun menguar dari dalam kawah. Jika asap yang keluar dari kawah Gunung Bromo itu cukup tebal, pemandangan kawah Gunung Bromo itu tidak bisa terlihat dengan mata. Untungnya, asap kali ini tidak terlalu tebal sehingga kami bisa melihat panorama spektakuler dari kawah gunung Bromo. Kawah Gunung Bromo sangat dalam dan luas sehingga memberikan efek cekungan yang indah disekitar sisi-sisi kawah. Banyak para pengunjung yang mengabadikan momen tersebut dengan berselfi ria menggunakan tongsis (tongkat narsis). Karena dalamnya kawah ini, sehingga disekeliling atas kawah dipasang pagar untuk menjaga keselamatan para wisatawan

.
Selain keindahan panorama alam dengan penduduk aslinya yang berpakaian khas dengan sarung yang menyelimuti tubuhnya, di kawasan Gunung Bromo ini terdapat pula sebuah bangunan pura yang cukup luas. Kami pun tertarik untuk melihat bagian-bagian dari pura tersebut. Pura yang bernama Pura Luhur Poten itu digunakan sebagai tempat sembahyang dan upacara keagamaan bagi umat beragama Hindu yang berada di daerah sekitar Gunung Bromo dan sebagai pusat dalam upacara Yadnya Kasada dan upacara tradisional ala suku Tengger lainnnya. Tidak hanya itu, kami berkesempatan menyaksikan masyarakat suku tengger mengadakan upacara adat yang terkenal dengan Upacara Kesodo. Upacara Kesodo merupakan upacara untuk memohon panen yang berlimpah atau meminta tolak bala dan kesembuhan atas berbagai penyakit, yaitu dengan cara mempersembahkan sesaji dengan di lemparkan ke kawah Gunung Bromo. Para wisatawan yang telah dipandu oleh saya kali ini mengungkapkan bahwa upacara ini sangat unik dan ini tidak ada di negara mereka. Mereka merasa antusias dan senang bahwa upacara seperti ini masih ada dan tetap dilestarikan oleh penduduk setempat.

Dalam kunjungan ke Gunung Bromo ini, saya semakin sadar dan bangga akan indahnya alam Indonesia yang membentang luas dari ujung timur Merauke hingga barat  Sabang. Beruntung sekali dapat lahir dan tinggal di tanah surga ini, semua kebutuhan sudah melimpah ruah dan tersedia di tanah subur ini. Setiap bangsa lain pasti merasa iri dengan keindahan alam yang dimiliki oleh Indonesia. Dengan menjaga dan melestarikan keindahan alam Indonesia dapat dijadikan sebuah bukti yang nyata bahwa kita memang sadar dan bangga akan alam Indonesia beserta isi didalamnya.


 Ainur Riza/Pondok Pesantren Darun Nun (BCT. Blok F/3)
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar