Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Nyanyian Rindu

Gubahan; Amanatul Mubtadiah

Cinta Pertamaku

Menemukan sisa kebahagiaan senyum dibalik buritan mulut luka, mengajak sendawa atas masa lama. “Mama, kapan bapak pulang?”
“kapan kita kembali bahagia?”
“Kapan kau kembali berdendang?”
“Kapan mama akan kembali menyungging senyum cerah ceria?”
Dan banyak pertanyaan mnyerondol menusuk jantungku, memaksa air mengalir deras dari balik serat rasa dalam jiwaku. Mataku menangis sejadi-jadinya tanpa air, tanpa asam, tanpa sembab. Kutahan sejadi-jadinya, demi mama supaya tak pernah melihat air mataku mengalir karena rasa pedih dalam. Teringat janjiku aku tak akan menangis, aku akan kuat demi kau Ma, demi adik, demi kalian aku akan menjadi kuat.



“ma, aku pengen hp android, itu lho yang bisa buat internetan kayak lepy”
“iyoh, nanti tak belikan kalau bapakmu pulang”

Fikiranku kembali melintas ruang dan waktu dalam tempo sepersekian detik, otakku membuat simpul yang sama kembali pada 4 tahun yang lalu saat berita telak mengguncang duniaku, bumiku runtuh seketika tertikam belati tumpul dipaksakan dengan kekuatan mega menghujam mata, jiwa, dan nuraniku. Bagaimana tidak, sebuah kabar gembira menyergap menggeliat merebut malamku. Tepat pukul 1 dini hari jum’at kliwon, 2 april tetanggaku menggedor pintu sekuat-kuatnya, dengan lenguh napas yang khas dan keringat dingin bercucuran menghias kaos abu-abu terangnya menjadi bergumpal-gumpal pulau ditengah lautan abu-abu.
“assalamu’alaikum, mbah... mbah...” membuat mbahku bangun dan membuka pintu
“wa’alaikumsalam, ada apa pak?”
“boleh saya masuk mbah?”
“oh, enggeh monggo...”
“begini mbah....”
tetanggaku membuat mbah terdiam, terpaku, terpojok diatas kursi berspoon tua  warna merah yang bagian pojoknya sudah terkoyak, sebagian spoonya sudah meronta keluar. Tubuhnya lemas, terhantam batu karang begitu keras, tak ada pikiran lain yang terlintas selain segera membangunkan aku dan mengikhlaskan kepergianku bersama orang ini.
“nduk, bangun nduk” dengan sedikit memaksa mbah menggoyang tubuh kurusku yang berbalut selimut putih bekas mukena lama yang kurobek untuk kujadikan penghalau dingin. Dengan mata yang sebenarnya belum tertidur sepenuhnya karena aku baru saja membentangkan selimut setengah jam lalu setelah menonton movie kesukaanku di tv. Dengan kebiasaan itu, membuatku terbiasa tidur larut malam.
Dengan cekatan mbah mencarikan kerudung dan jaketku, memaksaku ikut tetanggaku dengan tergesa tanpa ada penjelasan. Hanya ada kata “bapakmu nduk”. Tetangga yang sekaligus ketua RT dan pamanku membawaku menaiki motornya, membawaku melintasi angin malam, menguraikan embun, mengguratkan kekhawatiran dan berbagai pertanyaan yang menjejal keluar begitu saja tanpa kata. Aku khawatir, aku cemas, aku tak berani berprasangka, tak berani menduga, tak berani, bahkan untuk berpikirpun aku tak berani. Sekilas dengan kemampuan imajinasiku, aku berpikir mungkin jika aku adalah orang lain, mungkin dia akan segera menangis sejadi-jadinya. Tapi aku tidak, aku tak bisa hanya jantung yang terus berdegup kencang, dan jiwa yang melayang entah kemana. Angin begitu dingin namun aku mati rasa, tak dapat ku tepis dingin, tak dapat ku hiraukan hiruk pikuk katak. Bahkan aku tak tahu ini dimana dan akan menuju kemana. Aku hilang akal.
3 km sudah motor melesat ditengah persawahan panjang gelap nan sunyi. Sampailah ragaku di depan suatu bangunan rumah berdinding tumpukan batu bata, batu batanya nampak merah monojl tertutup lumut hijau tua licin. Halaman dengan rumput hijau setengah, pohon mangga madu, jambu, dan sri kaya mengabarkan berita besar. Itu rumahku, ya, itu rumahku... tempat kedua orangtuaku dan adikku tidur dan menghirup napas bersama, membina dan membesarkan aku dalam dekapan cinta nan mesra.
Ramai simpang lalu  lalang orang membuncahkan tanyaku, mengkerutkan nyaliku, adrenalin memaksa jantungku berdegup kencang, mengalirkan darah keseluruh badan secara berlebih. Menciptakan persepsi kekhawatiran, cemas, takut, rasa buruk. Kulangkahkan kaki dengan tergesa, nampak di bagian ruang tamu telah terbaring jasad manusia menyungging senyum. Jantungku serasa meninggalkanku dan mataku, menawarkan bau kematian. Ya, kematian yang tak dapat ditawar-tawar. Raga ini, jasad ini, adalah jasad Ayahku seorang lelaki perkasa tangguh tak kenal lelah maupun sakit. Berbadan gemuk, gempal, penuh otot terbungkus kulit hitam legam termakan langit persawahan. Terbaring, diam, kupanggil namanya, tak ada respon, mungkin rangsanganku kurang kuat untuk membangkitkan sinapsnya, ingin ku berteriak semakin kencang. Namun, naluriku sebagai manusia waras yang tahu apa arti mati dan hidup dapat mengelak. Ayahku telah berhenti bernafas, dirinya telah ditarik kembali ketempat asalnya, telah mengahkhiri jalannya, pembuluh darahnya tak lagi bergerak.
Dengan kesadaran, kupeluk lelaki super dihadapanku, ku kecup pipinya, dahinya, ku pegang erat-erat tubuhnya. Namun aku tahu, aku tak bisa lama-lama sebelum air mataku berhasil menembus pertahananku, ku lepas tubuhnya dan tetap berusaha agar dia tidak menetes membasahi tubuh halus Ayah. Aku ingat kata orang “jangan menangis, nanti orang yang kau tangisi akan bersedih dan tak akan tega meninggalkan keluarganya”. Entah itu benar ataukah hanya hiburku saja. Kutarik kakiku,aku berrbalik arah, dengan gejolak hati yang tak mereda kuhampiri mama.
Di sudut ruangan yang lain, mamaku mengangis sejadi-jadinya dikerumuni para sanak saudara. Menyabarkan dengan kata lembut, berusaha membangkitkan dan menyadarkan mama akan hidup aku dengar ada yang bilang “sudah mbak, pean harus kuat, pean masih punya anak-anak”. Jawab Mamaku dengan gagap gempita langit muramnya “tapi bagaimana aku menghidupi mereka? Mereka massih terlalu kecil untuk hidup begini, mereka masih harus sekolah?...”. menyadari begitu jauhnya mamaku tenggelam, membuatku tak dapat melakukan apapun lagi, badanku tersa lemas, dunia mengabur, dunia macam ini, petir ini terlalu kuat untuk menyambar keluarga kecilku yang penuh kesederhanaan. Tidak, ini bukan petir, ini badai disertai tsunami dan gunung meletus di tengah malam.
Ku hampiri Mamaku, kudekap erat-erat dia “nduk, maafkan bapakmu ya, ternyata sudah cukup sampai disini kemampuan bapakmu  untuk mendidikmu... maafkan bapakmu ya...”. sekuat tenaga kutahan air mataku agar tak keluar, kutahan!. “ma, aku akan berubah jadi anak yang baik, aku janji, tapi mama harus kuat, mama harus bisa kuat untuk mendidik kami...” dalam hati aku berjanji, aku akan kuat demi mereka Mama dan adikku. Sepertinya mama tak kuasa untuk mengendalikan sedihnya, tak kuasa menatap dunia jika tanpa ada anak-anaknya. Sedetik tersungging senyum pahit yang menggelantung di pelupuk bibir tipisnya.  Demi melihatku kuat.
Kebergeser kearah dapur, tempat adikku bersembunyi dari hitamnya dunia. Merangsak, memelukku dengan erat “mbak, bapak mbak...”. waktu itu, dia masih duduk dikelas 4 MI, ini terlalu berat untuknya, dia belum mengerti apa-apa. Adikku yang malang, Adikku yang kecil, Adikku yang masih sangat manja kupeluk kau erat-erat Dik, “udah, pean jangan nangis ya, mbak lho gak nangis” (sambil menghapus air mata yang sedari tadi meronta) “pean harus kuat, pean lihat Mama kan? biar mama kuat, pean juga harus kuat kayak mbak...” kupeluk kuat-kuat dan ku elus bahu adikku.

***

“ma, aku pengen hp android, itu lho yang bisa buat internetan kayak lepy”
“iyoh, nanti tak belikan kalau bapakmu pulang”
“Hahahaa... masalahnya bapaknya udah pulang gak balik-balik lagi”
Dengan muka dingin mama terus menatap layar televisi di rumah mbah. Mendengar jawaban Mamaku, membuat otakku menciptakan simpul yang sama 4 tahun yang lalu. Sekarang adikku telah tumbuh menjadi gadis kuat kelas 2 MTs swasta di kota. Berbadan gelap, gempal dan kuat. Dia telah berubah, bukan adik kecilku lagi yang manja. Kini dia telah menjadi anggota salah satu perguruan pencak silat di kotaku. Berharap dengan ini, bisa melindungi dirinya dan orang-orang yang dia sayangi. Namun, Mama tak pernah lagi berdendang, tak pernah lagi memasak makanan yang enak-enak hasil kreasinya sendiri, tak pernah lagi sholat berjama’ah dengan kami sejak peristiwa malam itu, sejak aku dan adik meninggalkan rumah demi menuntut ilmu. Nyanyian ku menggelora di pelataran rasa rinduku pada keluarga nan sempurna bahagia, seperti 4 tahun yang lalu.

Terkuak ketika rinduku terserak di ufuk April 2013 - Abah, Bapak, Aruman Waluyo - Cinta Pertamaku dan Cinta Sejati Bundaku Terima Kasih sangat
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar