Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

5 DETIK









Bismillah
Gujes-gujes-gujes,,,
Tuut tuuuut…

Rasanya ada sesuatu yang terselip ketika aku mendengar suara kereta melaju. Antara sedih saat itu, ingin tertawa dan berbagai perasaan yang bercampur aduk. Teringat kembali kejadian dua hari yang lalu dimana kami memutuskan untuk berangkat ke Surabaya guna menghadiri kajian agama yang dibawakan oleh Ust. Felix Siaw, pengarang buku best seller “udah, putusin aja!” yang juga dijuluki dengan ustadznya para cewek-cewek. Hehe
            Jauh-jauh hari kami sudah memesan tiket kereta agar mendapat tempat duduk. Tiket kereta tertulis berangkat pukul 3.20 pagi dan sampai Surabaya pukul 6.10. terpaksa kupilih jadwal tersebut karena acara mulai pada jam 8.00 dan tak ada kereta yang sampai di Surabaya pada jam itu.
            Alarm sudah di on-kan, baju telah dikemas dan segalanya telah disiapkan, tapi memang tidak semuanya akan berjalan sesuai rencana. Kami baru saling membangunkan pukul 2.30, mbak amanah dan mbak ninis tak sempat mandi, berbeda denganku yang mandi walaupun hanya 3 menit hehe. Sebelum berangkat ke stasiun, kami sempatkan sholat tahajjud walau hanya 2 rakaat. Setelah semua siap kami segera meluncur untuk menjemput mbak rina.
            Sampai di pondok fatimiyah jam di HP telah menunjjuk pukul 3.00. sedangkan mbak rina tak kunjung keluar pondok, hampir saja kami putus asa dan meninggalkannya, namun tiba-tiba mbak rina muncul dari pintu yang lain. segera kami tancap gas. Aku duduk dibangku belakang sepedah motor mbak amanah. Hanya harapan doa yang terus kulafalkan, mudahkan ya allah, telatkan keretanya, telatkan keretanya.. benar juga! ALLAH MAHA KUASA! Stasiun itu masih sepi, yah memang karena kereta baru saja berangkat. Tetoot. Sempat saja bapak ojek menawarkan jasanya “ dah mbak sini tak anter ke blimbing kita kejar kerata”. Aduh bapak masak mau bonceng 4 orang sih?? Huhu. Tanpa piker panjang kami laju motor menuju statiun blimbing. Tapi karena bingung kami tidak menemukan di mana letak stasiun blimbing. Motor terus melaju menuju stasiun singosari. Kami sampai pada sebuah pemberhentian yang menunjukkan ada kereta yang akan lewat. Kami tengok ke samping. Yah itu stasiun, tapi hati bertanya mengapa sangat sepi? OMG ini stasiun kecil, mana ada tempat penitipan motor. Gujes..Gujes.. Gujess… Didepan mataku, tepat didepanku kereta itu melintas. Kecepatannya mulai berkurang, namun tak ada guna, itu hanya stasiun kecil yang tidak memiliki tempat penitipan motor. Aku segera berteriak “Berangkaaat, mbak am! Lawaaaang!” yup. Dua motor melaju begitu kencang, mungkin melebihi batas maximum biasanya, tapi untung saja barometer rusak bisa memperkecil tingkat ketakutan kami :D.
            Jalanan hanya dilalui oleh beberapa kendaraan, langit masih begitu gelap dengan bintang yang tersenyum melihat kami yang kejar-kejaran dengan kereta.  Mbak ninis mengendara kuda hitamnya dengan kecepatan tinggi. Kami di belakang mengikuti. Brrrrrr dingin sekali pagi ini. Jarum bensin sudah berada di paling bawah. Mbak amanah membelokkan motornya ke pom bensin. Aku was-was, sedikit lagi kami mau sampai di lawang, apakah kereta sudah berangkat. “Ayo mbak cepetan!” kataku, aku segera naik motor saja. Mas-mas sampingku mendekat “Mbak,, belom bayar bensinnya. Hahaha” aduh memalukan. Tapi bodo amat!
Setelah membayar kami segera mencari mbak ninis yang entah di mana. Stasiun lawang ada di depan, segera kami belokkan motor dan kesana kemari mencari mbak ninis dan mbak rina. Kutanyakan pada bapak-bapak yang berada di sana, memang sepertinya mereka belum sampai, atau jangan-jangan kesasar? Sedikit melupakan itu aku bertanya kepada penjaga loket. “pak, keretanya sudah berangkat?” “belum mbak, belum datang”. Huuufff lega rasanya, aku tersenyum kepada mbak amanah “ yesss, kereta belom datang mbak, akhirnyaaa” tapi kendala masih ada, penitipan motor ternyata ada di seberang rel kereta di sebuah rumah tua. Tanpa piker panjang segera saja kami kesana. Tiba-tiba sebuah motor melintas “dek fitri.. “ panggil mbak rina. Kulambaikan tangan agar dia mengikutiku. Kami melewati jalan kecil yang menakutkan. Setelah jalan Sedikit, dan akhirnya sampai. Tapi uuuppss mana mbak rina dan mbak ninis??? Kulihat arah kiri. Sorot lampu kereta menyilaukanku. Duh alamak, kereta sudah datang nih. Sebuah panggilan masuk, mbak rina meneleponku. “deek,, pean dimana???” katanya “ ini mbaak di parkiran ayo cepetan sinii” kataku “loh tapi gimana ini kita gatau jalannya ini kereta dah datang” mbak rina menjawab, yah aku pun tahu mbak nih tinggal lompat dan masuk malah, gumamku :) “pean balik dek fitri ya biar kita tahu” segera dia tutup telleponnya. Bagai buah simalakama (buah apa ini?)he he. Jika ke sana lagi aku ketinggalan kereta. Jika tidak kami akan terpisah. Bapak-bapak yang kutanya tadi melambaikan tangan isyarat agar aku segera masuk kereta. Tapi bagaimanaa??? Yah akhirnya demi nama persahabatan dan kesetiaan, aku seret motor mbak amanah. Sudah balik aja mbak. Kita nyalakan dan gas motor kencang-kencang.
Yaah dikit lagi allah mudahkan.. sayang ini dah beli tiket. Benar saja doaku terkabul, dengan mudahnya kami lihat mbak ninis dan mbak rina di seberang jalan. “mbaak!!!” teriakku mereka segera menoleh dan seketika menuju kea rah kami. Namun, tragiiss.. sungguh tragiiss… tiinuut tiinuut tiinuut.. palang pintu kereta api segera saja memisahkan kami. Ingin rasanya kuterobos palang itu, tapi mana mungkin?? Aku di sisi satu dan mereka di sisi satu lagi. Suara tanda kereta api akan berangkat telah berbunyi, suaranya terdengar menyakitkan. Lampu kereta menyorot wajah kami yang pucat pasi, selanjutnya dan ini seakan cerita-cerita di film romansa, kereta itu berjalan semakin cepat dan semakin cepat gujess gujess tuuut.. meninggalkan kami yang telah mengejarnya dari malang. Hanya 2 meter jarak kami dari kereta. Sungguh ini 5 detik yang sangat menyayat hati. Rasanya kebut-kebutan tadi tak berarti lagi. Kenapa tidak seperti di film-film india saja, ada seseorang yang berdiri di pintu kereta dan aku berlari mengejar kereta tsb, dan blaa bla bla.. imajinasi tingkat tinggi*  tapi ini bukan film. Ini kehidupan yang ceritanya lebiih jauuh indah daripada film saja. Ingat bro, ini tuhan yang menulis bukan lagi tarafnya manusia.
            Kereta itu melewati kami tanpa kasihan. Beberapa menit setelah kereta benar-menar tak terlihat, kami sama-sama speechless tak tau harus berkata dan berbuat apa. Antara sedih dan kecewa. Akhirnya kami berkumpul. Yah kini nasi telah menjadi bubur, aku tertawa melihat mbak ninis yang hampir saja menangis. Kami sama-sama tertawa mengingat perjuangan dihampir subuh. Yah terpaksa kita harus naik motor sampai Surabaya. Tapi Tak apa, terkadang dengan cara yang indah Allah membuat kita menghindari sesuatu yang menurut kita baik untuk kita. Akhirnya berbekal GPS dan bekal setidakadanya kami berangkat kembali, walaupun harus beberapa kali terpisah tapi untung saja, kami sampai di sana dengan selamat. Masjid baiturrazaq begitu indah. Seperti sebuah masjid apung di atas waduk yang sangat bersih dari sampah. Airnya mengkilau menyambut kedatangan kami. Wajah rembes*kucel akhirnya segera kembali segar dan cantik setelah di make over di toilet. Okeey its time to selfie..lelah kami hari itu segera terobati dengan kajian ilmu yang sangat menarik oleh ust felix. Ilmu Taaruf dan menikah juga kisah kisah wanita hebat yang ada dibalik kesuksesan para nabi. Sungguh terobati rasanya.
            Kereta hari itu, setelah kufikir lagi, memang Allah lah yang maha Tahu segala yang baik, ternyata jika saja tadi kami naik kereta, tentu akan susah menuju ke lokasi karena taka da angkot di sana. Dan lagi kami harus meninggalkan sholat subuh jika saja naik kereta. Alhamdulillah sekali, karena pengalaman ini dengan hikmah yang luar biasa yang dibungkus dengan cantik dan indah. Aku yakin 5 detik kereta melaju saat itu tak akan pernah kami lupa.

Dyah Ayu Fitriana-Smiling Indonesia
Darun Nuun


Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar