Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Deritan di Pojok Jalan


Amanatul mubtadiah

Srek.. srek... srek... bunyi sepatu berlalu seru melintasi pohon alpukat sayu. Sepotong pohon mendayu merayu merdu santri lucu. Minggu, senin, selasa, Rabu, hari demi hari sepotong pohon alpukat berdiri di tepi jalan, mengamati para pengembara ilmu. Timbul hasrat dalam benaknya “aku ingin berbagi, bermanfaat bagi mereka pemburu ilmu”. “Sekarang sudah musimnya, lebah, ngengat, kupu, ulat, tolong bantu saya...” “baik pohon... siap!!”. Sedikit demi sedikit bunga putihnya mulai merekah, menghamparkan kesempatan untuk lebah, kupu-kupu dan para saudaranya untuk berkembang biak. Satu persatu daun mulai berlubang, telur mulai menetas, beberapa kurang beruntung sehingga mati terjatuh dari pohon dan terinjak orang yang berlalu lalang tanpa perhatian.


Tempatnya pas dipojokan jalan, bunganya lebat pasti buahnya nanti juga akan banyak. Entah milik siapa  pohon alpukat cantik ini, pohonnya tidak terlalu besar namun benar adanya begitu berbuah, buahnya tak terkira banyaknya. Hampir setiap sudut ranting nampak butir-butir sebesar bola ksti bergelayut mengingatkan bentuk tempat arak di film-film shaolin, hanya saja warna hijau. Beberapa burung nampak berlalu lalang kesana kemari, bermain di sela dedaunan pohon hijau. Setiap yang lewat jalan in, pasti terkagum-kagum dengan kelebatan buahnya.

“entah sampai kapan dia akan memberikan nutrisi untuk kita”
“hahahaa... alpukat punya orang itu”
“gak papa mbak”

Setiap pagi dan sore, apabila ada buah yang jatuh bukan kelelawar atau hewan apapun yang mengambil buah manis itu melainkan para santri yang senantiasa semangat. Setiap pulang sholat berjama’ah subuh, maghrib, atau isya’. Sebetulnya tidak semua santri cukup nyali untuk memungut buah alpukat yang tercecer begitu saja dijalan, terjatuh sejak semalam. Ada, sosok nan indah membuncah dua orang santri... iya, itu mereka. “ah... akhirnya mereka datang juga, kenapa mereka terlambat? Bukannya sudah iqamat? Semoga mereka melihat, aku sudah bersusah payah berebut dengan kelelawar agar mereka mendapat buah terbaikku”. Kelelawar pemilih, hanya mengambil yang terbaik dan yang cukup matang untuk dimakan. “pak tua, kuharap kau ikhlas dengan buahku”.

“mbak, ada lagi... ini... ini...”
“wah... bagus ya, ayo taruh sana dulu”
“iya mbak...”

Sesampainya di pesantren “yeyeyeee... dapet banyak”, “bisa mateng tah?”, “oh bisa... satu persatu pasti mateng”. Akhirnya... semalam menunggu di jalan yang dingin, mereka akhirnya membawa buah tercinta, meski hanya ditaruh di atas meja sudah berarti segalanya bagi buah hati pohon alpukat disana. “ingat ya, ibu akan menjatuhkan kalian dari sini, kalian harus tetap bagus”, “bagaimana caranya bu? Tubuh ibu sangat tinggi”, “begitu ibu melepas genggaman, bergulinglah biar tubuh kalian tidak hancur dan tercecer, ingat cari tempat di tepi agar tidak ada kendaraan mengijak kalian”, “ibu... aku takut...”, “tenanglah, ingatlah bahwa Allah menciptakan kita untuk manusia, untuk memberi manfaat kepada mereka”, “baiklah bu... aku berani sekarang!!”, “bagus, ibu akan melepas kalian mulai sekarang ya... Bubu, kau yang pertama. Satu... dua... tiga!”. Gedebuk! Suara buah alpukat mendarat diatas tanah malam pekat. Krak!! “ibu... aku pecah..”, tidak apa-apa sayang, semoga mereka masih melihatmu, bersabarlah... sebentar lagi subuh”. Nggreeng... Nggreeng... ciiit!! Kraak!! “ibu... ibu...”. “jangan menangis sayang, biarpun begitu bijimu masih bisa tumbuh...”

Perjuangan untuk menunaikan kewajiban tidaklah mudah kawan, berusahalah... meski telah kehilangan banyak buah, karena pecah terlindas motor, terijak kaki para pejalan. Tak apa, pada akhirnya, pohon alpukat bisa memberikan buah yang terbaik untuk para santri. Benar adanya, prasangka baik sang santri indah rupanya.

Terkisah dari Buah di Pojok Jalan
Pondok Pesantren Darun Nun
Bukit Cemara Tidar Karangbesuki Sukun Malang           
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar