Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Biarlah Cinta Bersanding di Surga

Biarlah Cinta Bersanding di Surga
Oleh : Miftachul Chusnia


      Shalsabilla, sahabat terbaik yang pernah ku miliki. Ia selalu menebarkan senyuman lembut kepada siapapun. Ia tak pernah membeda-bedakan orang lain. Ia cerminan bidadari surga.  Banyak cinta yang ia berikan kepadaku, banyak kenangan indah yang kita ukir bersama hingga ajal menjemputnya. Ia telah pergi meninggalkanku cintanya dan sejuta kenangan indah karena penyakit kanker yang ia derita. Ia tempatku bersandar ketika ada masalah yang menimpa. Ia yang selalu mengusap air mata di pipi. Ia pula yang selalu membangkitkanku ketika sedang terpuruk.
          Aku bukanlah sahabat pertamanya. Namun, bagiku ia adalah  sahabat pertama yang kumiliki. Perjumpaanku berawal  ketika berbagai cobaan yang menghantam hidupku. Ia datang bagaikan bidadari surga yang Allah utus untuk membantuku keluar dari cobaan yang menimpaku.
          Kala itu orang tuaku bertengkar hebat hingga tak ada sedikitpun kasih sayang yang mereka berikan kepadaku. Hanya uang dan kekayaan yang mereka berikan. Hal itu yang membuatku berani mencoba minum minuman keras, narkoba dll hingga ada niat dalam hati untuk mengakhiri hidupku. Tak ada seseorang yang mau memberikan pundaknya tuk ku bersandar. Namun, ketika aku benar benar ingin mengakhiri hidup, billa datang menghiburku dengan sabar dan senyuman. Ia berkata bahwa tiadalah makhluk yang diciptakan tanpa cobaan. Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya. Jangan pernah takut, karena Allah selalu bersama kita. Nasihatnyalah yang membuatku mulai luluh dan mau berhijab tuk mendekatkan diri kepada Allah sang Maha Pencipta.
***
          Awan berubah menjadi hitam. Matahari bersembunyi memendam rasa sedih. Tetesan hujan siap berjatuhan mengiringi jasad Billa yang sudah tak bernyawa.   Tepat hari ini ia akan dikebumikan. Rasa sedih menimpa seluruh orang yang ditinggalkan. Terlihat sesekali ummi Farra meneteskan air mata. Beliau berusaha tegar melihat putri kesayangannya mendahuluinya bertemu dengan sang pemilik kehidupan. Keadaan semakin mengharu tatkala tanah mulai menutup jasadnya. Aqilah menangis terisak isak ketika tak dapat melihat dan merasakan kasih sayang tulus  kakaknya. Ketika semua telah selesai dan orang orang mulai meninggalkan pemakaman, aku sendiri menatap pusara sahabatku. Ku melangkah perlahan lahan meninggalkan. Ketika tepat di langkahku yang ke tujuh, ku melambaikan tangan dengan tetesan air mata.

          Namun, tak sedikitpun ku menyadari bahwa ku tak pernah menjadi tempat sandarannya. Tak bisa ku menjaga sahabatku. Bahkan akulah orang yang membuatnya terluka. Ini kudapat ketika Aqillah, gadis kecil merangkulku sambil menangis hingga terlelap di pangkuanku.  Ku rebahkan aqillah di kamar Billa yang  bersih dan berbau harum. Saat itu ku mendapati buku yang berjudul “ Catatan Hidup Shalsabilla Putri ” tepat di atas meja belajar.

          Ku buka perlahan lahan buku yang bersampul merah muda itu. Banyak foto yang terpampang di awal halamannya. Ada fotonya dengan keluarga, fotoku dengannya ketika umroh bersama dan ada 1 foto yang membuatku tercengang ketika melihatnya.

          Setelah melihat foto itu semakin membuatku penasaran untuk melihat isi buku tersebut. Berbagai kisah hidupnya ia tulis seakan ada dunianya disana. aku seperti menemukan ruang baru yang tak pernah aku kunjungi. Membacanya – memunculkan imajinasi tentang kehidupannya. Namun langkahku terhenti, seketika ku meneteskan air mata sekaligus penyesalan. Kini ku baru mengetahui, seperti memecahkan teka teki yang berasal dari dalam hati. Yaa...kini ku tau siapa lelaki yang menghiasi harinya selama ini.  
***
20  Agustus 2010, 20.00 WIB

Rabbi, terbesit rasa yang asing dalam diri ini.
Menguasai hati hingga rela menjadi budak rasa.
Rabbi, Maafkan mata ini yang tak mampu menjaga...
Ampuni hati ini yang tega mendua..
Entah Cinta ataukah Nafsu belaka..
Namun, izinkan rasa ini hadir murni fillah...

             Pagi ini nampak bersahaja, matahari terbit tepat pada waktunya. Hari ini angin pagi bersahabat dengan manusia. Tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas pula.  Semua orang sibuk dengan aktivitasnya masing masing. Sosok wajah rupawan hadir di penglihatanku, menebarkan pesona indah di wajahnya. Berpakaian sopan berbalut islami. Ia lah Muhammad Hamzah Al Baihaqi, teman lamaku di Aliyah. Akhlaknya yang karimah mengiringi ketampanan wajahnya. Ia temanku sekelompok di Ospek, ia sungguh bertanggung jawab dan menghargai orang lain. Namun, selama 3 hari bertemu denganya telah mengirimkan rasa yang berbeda dalam hati.

            Ya Allah, jangan buat aku terpelosok ke dalam cintanya, jadikan ia hanya panutan karena akhlaknya karena ku takut engkau akan menjauh dariku dan tetap luruskan niaku Ya Allah. Amiiinnn
***
22 Agustus 2010
            Ya Rabb, engkau lah dzat yang maha pencipta...
            Begitu indah ciptaan yang engkau perlihatkan...
            Hingga sebagian wanita tercuri hatinya...
            Ya Allah, entah untuk siapakah senyuman itu mendarat..
            Melihatnya saja sudah di mabuk kepayang...
            Selamatkan aku ya Rabb...

13 Januari 2015
            Tak berhak aku marah....
            Tak layak aku merasa tak adil
            Semua berjalan searah dengan skenarioNya..
            Karena....Tak ada yang salah tentang cinta 
                                    Meski ku tahu rasa ini menyayat hati..
                                    Air mataku tak mampu ku bendung lagi
                                    Namun ku tak akan munafiq pada diri sendiri
                                    Billa kekasih kini bersanding dengan sahabat sendiri...
            Ya Tuhan...
            Berikanlah aku kesahabaran tuk menghadapi kenyataan yang pahit...
            Meski cinta tak dapat kuraih hari ini namun izinkan cinta bersading di surga nanti...
Shalsabilla Putri       
***
            Tak kuasa aku membacanya. Seakan batu besar menghantamku seketika. Tak pernah kubayangkan bagaimana perasaannya ketika orang yang ia dambakan adalah orang yang esok menghiasi hariku. Tak pernah pula ku menduga bahwa kita memiliki perasaan yang sama. Demi menjaga perasaanku ia rela memendam perasaannya bertahun tahun lamanya.  
          Ku tutup lembaran kisah Billa. Perasaan menyesal dan bersalah hinggap di hatiku. Dalam doaku, ku berharap Billa kan memaafkan kesalahanku. Maafkan aku Billa L

Selesai ditulis pada tanggal 20 Februari 2015, jam 13:02 WIB
MC_200215C_Biarlah Cinta Bersanding di Surga

Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar