Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.
Farla Aunun Siha




Ada apa dengan Denmark  dan Indonesia?



Teman-teman pasti tahu negara Denmark bukan? Iya, salah satu penghuni benua Eropa, tepatnya di Eropa utara. Bersama dengan Swedia dan Norwegia termasuk Negara Skotlandia. Denmark bukanlah negara kaya yang memiliki sumber daya alam melimpah, tanahnya termasuk miskin akan SDA. Denmark negara kecil yang dikelilingi oleh  perairan dan dekat dengan kutub utara. Namun negara ini tercatat sebagai negara paling makmur di dunia. Standar hidup masyarakatnya termasuk tertinggi di dunia? Kok bisa???
Berawal dari saya membuka salah satu social media, kemudian menemukan tulisan tentang “Mengapa Denmark menjadi negara paling makmur di dunia? Saya pun penasaran, lantas membacanya.
Ternyata jawabanya di luar dugaan saya. Bukan pendapatan, bukan, gaya hidup, bukan kekayaan, bukan pula kepintaran. Lantas apa???
“Kejujuran” teman-teman. Iya kejujuran. Apa hubungannya?. Teman-teman pasti pernah dengar ada istilah jawa “jujur pangkal mujur”.
Negara Denmark sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran. Masyarakat di sana yakin bahwa kejujuran awal dari segala kebaikan. Jika semua masyarakat mulai dari aparatur pemerintahannya sampai tingkat bawah dapat mengemban tugas dengan jujur, maka segala kebutuhan masyarakat dalam sebuah Negara akan terealisasi dengan baik pula sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan, baik di bidang pendidikan, kesehatan, perekonomian dll.
Mereka yakin bukan kepintaran yang menjadi pangkal dari kemakmuran, tapi justru kejujuran yang dapat melahirkan kemakmuran. Itulah mengapa pendidikan di sana tergolong maju dengan korupsi yang nyaris “nol”, hal itu tidak lain karena paradigma mereka tentang pentingnya kejujuran.
Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Inilah mengapa Indonesia tertinggal jauh dari dari negara lain termasuk Denmark. Nilai kejujurannnya nyaris “Nol”. Contoh yang mudah yang sering kita lihat adalah tradisi mencontek saat ujian. Ironisnya, oknum guru juga terlibat dalam kegiatan “keren” tersebut. Kata peribahasa lama “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” sepertinya masih berlaku atau malah lebih parah yang dampaknya bisa kita lihat saat ini, yaitu banyak orang-orang yang mempunyai mental korup.
Saya sebagai seorang akademisi di jurusan pendidikan tentunya mempunyai cita-cita yang besar untuk mengubah paradigma berpikir anak-anak negeri ini tentang pentingnya kejujuran. Kejujuran merupakan ujung tombak kemakmuran. Ibarat bangunan, kejujuran adalah pondasinya. Jika tidak terpatri nilai kejujuran, maka yang terjadi adalah bencana berantai di segala aspek kehidupan. Semoga kita termsuk dari orang-orang yang jujur. Aamiin Ya Rabb….

Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar